JAKARTA – Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, meminta Kapolres Tanggamus, Lampung untuk menerapkan dan menjerat M (45) ayah kandung korban, SS (28) kakak dan YF (15) adik korban dengan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 33 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Dengan acaman minimal 10 tahun penjara dan maksimum 20 tahun dengan demkian Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan menuntut ketiga pelaku dengan hukuman maksimal berdasarkan ketentuan UU RI.No 17 Tahun 2016.
Dari peritiwa ini, SA masing-masing sebagai ayah dan abang kandung korban, hukuman terhadap pelaku dapat ditambahkan dengan hukuman 1/3 dari pidana pokoknya bahkan dapat M, dan SA terancam hukuman tambahan berupa “Kastrasi” yakni kebiri dengan suntik kimia.
Hukuman maksimal ini sangat wajar karena berdasarkan ketentuan UU No. 17 Tahun 2016 bahwa telah ditetapkan apa yang dilakukan M dan SA masing-masing sebagai ayah dan abang kandung korban adalah sebagai kejahatan luar biasa, setara dengan tindak pidana Terorisme, Narkoba dan Korupsi yang dapat diancam seumur hidup bahkan hukuman mati.
Setelah mempelajari kisah sedih kejahatan seksual berupa “incest” yang dialami SG (16) oleh orangtua dan kakak korban sendiri, Komnas Perlindungan anak berpendapat tidak ada kompromi atas kasus ini dan segera pelaku mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya. Ayah, kakak dan adik yang telah melakukan kejahatan seksual terhadap AG adalah manusia keji dan biadab, demikian ditambahkan Arist disela-sela mengisi acara Program Pengembangan Bakat dan Minat Anak di Studio Komnas Anak TV dibilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu 24 Februari 2019.
Kasat Reskrim Polres Tanggamus yang menangani perkara biadab ini menyatakan bahwa korban sudah diperkosa para tersangka sejak 2018. Sebagai ayah, kakak dan adik korban ketiganya semestinya menjaga dan merawat dan melindungi korban karena ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit.
Ayah kandung korban, kakaknya dan adiknya berulangkali memperkosanya di rumah mereka di Pekon Panggung Rejo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu Lampung. Setahun AG tak kuasa menahan sakitnya karena takut diancam oleh ayahnya.
Selain itu, AG yang diketahui mengalami keterbelakangan mental oleh pengakuan kakak korban mengaku kepada Polisi sudah menyetubui korban 120 kali dalam setahun belakangan ini, sementara adiknya 60 kali. Sedangkan bapaknya sudah dalam pengakuan kepada penyidik telah berulang kali menyetujui korban lebih dari 1 kali setiap hari.
Peristiwa ini berawal dari AG saat itu tinggal bersama neneknya. Saat ibunya sudah meninggal karena sakit, ayahnya membawa AG tinggal di rumahnya ayahnya di wilayah Kabupaten Pringsewu Lampung.
Petaka biadap ini pun terjadi setelah AG baru tinggal di rumah ayahnya sekitar 2 bulan. Orang yang seharusnya melindunginya itu justru memperkosanya. Perbuatan itu dilakukan berapa kali bahkan dilihat langsung oleh kakaknya. Ironisnya adiknya yang masih berumur 15 tahun ketiks melihat kelakuan sang Ayah, dan SA bukannya menolong namun justru ikut-ikutan juga melakukan.
Keluarga M dikenal sangat tertutup sehingga sulit bagi tetangga untuk mengetahui kasus ini namun lama-kelamaan tetangga curiga dengan aktivitas di rumah karena melihat kondisi AG yang semakin kurus jauh berbeda dari saat pertama kali datang ke rumah M.
Kamis (21/2/2019) sekitar pukul 21.00 WIB, M, SA, dan YF sudah ditangkap dari rumahnya tanpa perlawanan. Dari lokasi Polisi menyita sejumlah barang bukti berupa beberapa baju dan celana dalam milik M, SA, YF serta milik korban dan ketiga orang pelaku diamankan Polsek Sukoharjo untuk diperiksa lebih lanjut kasus.
Untuk memberikan pertolongan bagi korban, Komnas Perlindungan Anak bersama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pringsewu beserta Relawan Sahabat Anak Indonesia Lampung segera evakuasi korban utuk diberikan pelayanan bantuan perawatan medis dan terapy psikososial. Sedangkan untuk advokasi hukumnya, Komnas Perlindungan Anak akan berkordinasi dengan Kapolres Tanggamus.
Adalah tidak berlebihan jika pristiwa memiluhkan ini akan Komnas Perlindungan Anak dan LPA Lampung jadikan sebagai momentum membangun Gerakan Memutus Mata Rantai Kekerasan Terhadap Anak di Lampung. “Untuk membangun komitmen ini, Komnas Perlindungan Anak segera berkordinasi dengan pejabat pemerintah di Lampung,” tutup Arist. (Nanang)