Bertahun-tahun Warga Jalan Tongkol Terdampak Banjir Tanpa Solusi

Hujan deras sekira satu setengah jam pada, Senin (18/10/2021) menyebabkan beberapa rumah di Jalan Tongkol RT 036 RW 009, Kelurahan Yosorejo, Metro Timur terendam air. (Adi)

METRO – Hujan deras di Kota Metro, Senin (18/10/2021) sore, dengan durasi sekira 1,5 jam membuat akses utama ke sejumlah rumah di Yosorejo, Metro Timur, tergenang. Hal ini dikeluhkan warga setempat dan meminta Pemerintah setempat mencarikan solusi.

Weri (44), warga Jalan Tongkol RT 036 RW 009 mengungkapkan, ketika hujan deras ketinggian air bisa mencapai sebatas dagu orang dewasa, lebih kurang sekitar satu setengah meter.

“Sekira 5 tahun terakhir, setiap turun hujan yang deras area sekitar sini, terutama rumah saya itu jadi langganan kerendam banjir,” katanya saat dikunjungi di kediamannya, Senin (18/10/2021).

Ia menjelaskan, banjir yang terjadi di area rumahnya tersebut bermula sekira tahun 2016. Menurutnya penyebabnya ialah pembangunan yang tak memerhatikan dampak lingkungan.

“Ya, semenjak gencarnya pembangunan seperti misalnya bangunan punya bawang lanang itu sampai ke kampus UM, tuh. Terus melakukan pembangunan, akhirnya pemukiman warga di Jalan tongkol ini sering terendam bahkan jadi langganan banjir,” kisahnya.

Ia mengaku, pihak pemerintah Kota Metro melalui Dinas PUTR pernah menyambangi daerahnya untuk melihat drainase yang jebol. Namun tetap, tak kunjung memberikan solusi.

“Jika hujan lebat tiba seperti tadi ini, saya biasanya langsung membereskan isi rumah, terutama memindahkan barang elektronik ke tempat yang lebih tinggi,” kata Weri.

“Bahkan mobil saya aja pernah tenggelam, motor tenggelam, karena yang bisa diselamatkan hanya barang-barang kecil yang bisa diangkat terutama barang elektronik dan saya fokus mengamankan saluran listrik, karena saya khawatir keluarga terutama keselamatan anak. Karena kalau banjir itu mencapai ketinggian sehingga menjangkau arus listrik, itu kan bahaya,” keluhnya.

Sementara, lanjutnya, air akan surut tergantung volume dan ketinggian air saat banjir. Bahkan ia pernah merasakan banjir sebatas dagu orang dewasa.

“Itu air baru surut setelah 3-4 jam dan menyisakan kerusakan serta kondisi rumah yang kotor akibat sampah yang terbawa genangan air tersebut,” tutur Weri.

Menurutnya, jika hujan dengan intensitas yang tinggi, ada sekira 7 sampai 8 rumah yang merasakan dampak kebanjiran. Ia berharap pemerintah setempat cepat mencarikan solusi atas permasalahan ini.

“Semoga cepat ada solusinya. Saya sebagai warga biasa tidak menyalahkan siapa-siapa atas kejadian ini. Nggak mungkin juga saya mau menyalahkan alam yang menurunkan air hujan, saya hanya meminta dan berharap pemerintah segera menemukan solusi,” pinta Weri.

Kesempatan sama, Yulius (39) warga sekitar mengatakan, banjir itu akibat kiriman air dari area Metro Pusat sampai Jalan Gunung Lawu.

“Karena ini titik terendah, makanya sampai sini. Tapi kita kan nggak mau terus merasakan hal seperti ini,” ucapnya.

Di lain tempat, Ketua RT 036/RW 009, Yosorejo, Muhammad Hidup mengatakan, penyebab banjir ialah karena debit air terlalu tinggi.

“Seperti aliran air dari rumah sakit Ahmad Yani, lalu area di sekitar Chamart, gorong-gorong di sini itu kayaknya enggak ke tampung karena terlalu kecil.

Menurutnya, rumah yang paling terdampak ialah kediaman Weri. Bahkan jika genangan air sudah sampai di jalan aspal, sudah dipastikan rumah Weri terdampak.

“Padahal rumah dia itu cukup tinggi dari depan sampai ke belakang, tapi rumah itu sudah air semua kalau banjir,” katanya.

Bahkan, kata M Hidup, saat almarhum orang tua dari Pak Weri masih hidup, dia pernah mengalami banjir sehingga mendiang ayahnya itu harus dipindahkan berbaring di tempat yang lebih tinggi dari ketinggian air saat banjir.

“Selain di rumah Pak Weri itu pernah juga banjir itu menjangkau rumah di sebelahnya rumahnya Pak Soedibyo itu banjir sampai menjangkau ke garasinya dia sendiri pernah itu dulu komputernya sebanyak 15 unit terendam banjir,” pungkasnya. (Adi)

Redaksi TabikPun :