Metro – Langkah aparat kepolisian untuk memutus mata rantai peredaran pil Excimer di kalangan pelajar mendapat dukungan positif dari DPRD Kota Metro. Menurutnya langkah Polres Metro untuk melakukan sidak ke setiap sekolah perlu diapresiasi.
“Sangat mendukung, gerakan Polres Metro yang mengedepankan tindakan preventif bagi pelajar, salah satunya dengan bentuk sidak sangat kami apresiasi. Ini dilakukan demi masa depan anak bangsa,” papar Ketua DPRD Anna Morinda saat di konfirmasi, Jumat (1/12).
Ia mengaku, DPRD Metro telah memberikan dukungan penuh kepada institusi Polri di Polres Metro dalam menjalankan tugasnya.
“DPRD sudah memberikan dukungan selama ini. Dan kami sangat apresiasi kinerja polres yang tidak pernah berhenti untuk sosiaslisai. Mudah-mudahan ini menjadi atensi kita semua, baik orang tua maupun guru di sekolah,” pungkas Anna.
Senada disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Metro Nasriyanto Effendi, dirinya menduga dari penangkapan terhadap pelajar tersebut dimungkinkan masih banyak jaringan yang berkeliaran di Kota Pendidikan dan wisata keluarga.
“Kita mendukung apa yang dilakukan oleh Polres untuk melakukan razia berupa penggeledahan terhadap barang bawaan pelajar di sekolah dan itu memang harus dilakukan. Karena kalau dilihat dari anak-anak yang mengkonsumsi itu dari luar Metro, bisa jadi mereka sebuah jaringan. Apalagi di Metro ini kan banyak pelajar-pelajar yang dari luar Metro, dan secara kontrol yang dilakukan orang tua itu sangat lemah sekali. Sehingga menjadi kesempatan pengedar ini untuk mendekati pelajar-pelajar yang ada,” jelasnya.
Politisi partai PKS itu juga meminta aparat kepolisian melakukan penggeledahan terhadap rumah kost pelajar secara berkala.
“Kalau bicara masalah jaringan, polisi lebih tahu tentang pola-pola jaringan yang dilakukan mereka itu. Jadi selain sekolah tempat-tempat kos yang ada itu juga harus di lakukan semacam penggeledahan seperti razia. Guru di sekolah juga perlu melakukan penggeledahan secara rutin dan dadakan terhadap barang-barang bawaan para pelajar. Dan dinas juga harus memberikan himbauan ke pihak sekolah untuk rutin melakukan pengecekan itu,” paparnya.
Menurutnya, fungsi bimbingan konseling (BK) di sekolah yang kurang optimal harus kembali dijalankan sesuai fungsinya.
“Yang jelas tenaga pendidik termasuk disitu saya melihat fungsi BK (Bimbingan Konseling, Red) betul-betul di optimalkan saat-saat sekarang ini. Kalau selama ini kan BK itu boleh dikatakan kurang maksimal kerjanya itu,” tandasnya. (Adv)