Hidupi Ibu dan Adik di Bekas Kandang Sapi, Alfian Harus Putus Sekolah Demi Mencari Rupiah

Alfian, Ibu dan kedua adiknya tinggal di rumah dengan bangunan seadanya yang merupakan bekas kandang sapi. (Mozes)

LAMPUN TENGAH – Menikmati masa sekolah di jenjang SMA/SMK menurut semua orang adalah hal yang paling sangat menyenangkan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Alfian (16) warga Kampung Tanjung Anom, Kecamatan Terusan Nunyai, Lamteng.

Disaat teman sebayanya tengah mengenyam pendidikan, remaja ini justru memupus asanya dan harus menjadi tulang punggung keluarga. Sejak ditinggal sang ayah setahun silam tanpa pesan yang jelas, Alfian menjadi tumpuan keluarga untuk bertahan hidup.

Tidak mudah bagi remaja 16 tahun ini untuk menghidupi ibu dan ketiga adik-adiknya, Puput (8), Afika (6), dan Qhaila (2). Tinggal di rumah berdinding papan dan beralaskan tanah bekas kandang sapi, Alfian harus mengais rejeki dari upah jasanya sebagai mekanik disalah satu bengkel setempat.

“Enggak mesti dapat duit, sehari paling Rp 20 ribu sampai Rp 40 ribu,” kata Alfian kepada Tabikpun.com, saat
menyambangi kediamannya, Rabu 28 Agustus 2019.

Sempat terbesit dalam keinginannya untuk melanjutkan sekolah, namun keadaan memaksanya untuk mengurungkan niat itu. “Kalau liat anak-anak sekolah saya rasanya pingin sekolah lagi. Tapi kalau saya sekolah gimana ibu sama adik-adik?,” ungkapnya lirih.

Hal tersedih yang harus dirasakan remaja yang mengenyam pendidikan akhir STM (setengah semester) di Magelang ini, disaat kedua adiknya Puput dan Afika hendak berangkat kesekolah. “Sedih kalau adik sekolah enggak ada sangu (uang jajan),” ujarnya.

Namun, lanjut Fian, ia tetap tegar dengan keadaan saat ini. Yang ada di dalam benaknya saat ini ialah bagaimana adik-adiknya tetap dapat melanjutkan sekolah.

“Harapan saya adik-adik jangan putus sekolah, saya akan berjuang semampu saya demi keluarga,” ucapnya.

Sementara Mistiani (39) sang ibu mengaku untuk membantu putranya ia pun bekerja serabutan, namun pekerjaan itu tak selalu setiap hari ia dapati. “Sekarang cuma ngandalin dari anak (Fian), kalau ada kerjaan disuruh tetangga mencuci, nyetrika ya saya karja, tetapi enggak setiap hari itu ada,” ungkapnya.

Hanya dengan mengandalkan penghasilan dari putranya yang pas-pasan, tak jarang keluarga ini harus berpuasa. “Kadang makan kadang tidak, kalau tidak ada (nasi) ya makan singkong,” ceritnya sedih.

Sementara Kepala Kampung Tanjung Anom Wasis Terisno Hadi membenarkan, tempat tinggal keluarga Mistiani bekas kandang sapi. “Tanahnya numpang, kalau bangunan bekas kandang sapi, sudah sekitar satu tahun tinggl disini,” jelasnya.

Sebagai aparatur kampung lanjutnya, pihaknya sudah berkali-kali mengajukan agar keluarga ini dapat menerima, PKH namun sayang sampai saat ini belum terealisasi. “Sudah kita ajukan tetapi masih menunggu validasinya, sehingga belum bisa,” akunya.

Kedepan, kata Wasis, untuk sedikit meringankan beban keluarga tersebut, ia bakal melakukan bedah rumah milik Mistiani itu. “Langkah kedepan kita akan bedah rumah dengan cara swadaya,” pungkasnya. (Mozes)

Redaksi TabikPun :