METRO – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jenderal Ahmad Yani Metro kini resmi menjadi Rumah Sakit Rujukan Regional II di Provinsi Lampung. Penetapan ini berdasarkan Peraturan Gubernur Lampung Nomor 24 Tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan, yang bertujuan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan alur rujukan yang efektif dan efisien.
Sebagai Rumah Sakit Rujukan Regional II, RSUD Jend Ahmad Yani Metro melayani rujukan dari beberapa daerah, termasuk Kota Metro, Kabupaten Lampung Tengah, dan Kabupaten Lampung Timur. Dengan status ini, jumlah pasien yang datang terus meningkat, baik pasien rawat inap maupun rawat jalan, yang sebagian besar berasal dari luar Kota Metro.
Berdasarkan data, jumlah pasien rawat inap di RSUD Jend Ahmad Yani meningkat signifikan. Pada 2021, terdapat 16.081 pasien rawat inap, sedangkan pada 2022 melonjak menjadi 97.500 pasien, dan pada 2023 mencapai 130.006 pasien. Sementara itu, pada semester pertama tahun 2024, jumlah pasien rawat inap sudah mencapai 17.366 orang.
Untuk pasien rawat jalan, jumlahnya juga mengalami kenaikan. Pada 2021 tercatat 81.005 pasien, kemudian turun menjadi 23.883 pasien pada 2022, namun kembali meningkat menjadi 48.189 pasien pada 2023, dan hingga semester pertama 2024 sudah mencapai 49.459 pasien.
Penyakit yang paling banyak ditangani pada rawat inap adalah kanker payudara, diikuti oleh penyakit tulang belakang dan stroke. Sementara pada pasien rawat jalan, kasus kanker payudara juga mendominasi, disusul oleh batu ginjal dan penyakit LBB.
Untuk mendukung peran sebagai rumah sakit rujukan, RSUD Jend Ahmad Yani Metro terus menambah tenaga medis spesialis dan subspesialis. Sejak 2021, beberapa dokter subspesialis telah bergabung, di antaranya:
dr. Muhammad Ridhaniar, Sp.U
dr. Ahmad Ravles, Sp.B Subsp.BD (K)
dr. Aji Yudho Prabowo, Sp.BS
dr. Doni Kurniawan, Sp.B (K) Onk
dr. Emillia, Sp.PD, KGH, Finasim
Selain tenaga medis, RSUD Jend Ahmad Yani juga terus meningkatkan sarana dan prasarana. Kini, rumah sakit ini telah memiliki alat Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) dan laparoskopi bedah digestif, yang memungkinkan prosedur operasi dengan luka sayatan minimal.
Fasilitas hemodialisis juga mengalami peningkatan. Sebelumnya hanya memiliki 15 mesin dan satu mesin cadangan, kini RSUD Jend Ahmad Yani telah memiliki 20 mesin hemodialisis. Instalasi Dialisis di rumah sakit ini mengusung konsep wisata medis dan religi, guna menciptakan pelayanan yang optimal, aman, dan nyaman bagi pasien.
Dengan berbagai peningkatan ini, RSUD Jend Ahmad Yani Metro terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Lampung, khususnya di wilayah rujukan regional II. (Mahfi)