Tabikpun.com – Cara kita menciptakan karya visual telah berubah secara drastis sebagai akibat dari penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam desain grafis dan ilustrasi. Karena AI dapat menciptakan visual dengan cepat dan efisien, AI membuka kemungkinan baru bagi semua orang, termasuk individu yang tidak memiliki keahlian menggambar atau desain.
Lebih banyak orang dapat berpartisipasi dalam seni visual karena proses kreatif menjadi lebih mudah diakses. Meskipun perkembangan ini praktis, para illustrator dan desainer grafis mengkhawatirkannya karena mereka yakin hal itu akan membahayakan mata pencaharian mereka.
Mereka khawatir bahwa kebutuhan akan orang-orang kreatif yang berkualifikasi pada akhirnya akan menurun karena AI menggantikan manusia dalam produksi materi visual. Selain itu, sejumlah isu etika telah muncul terkait penggunaan AI dalam ilustrasi, seperti penggunaan gambar orang lain tanpa izin dan hasil yang kualitasnya masih jauh di bawah hasil karya ilustrator profesional.
Gambar yang dihasilkan kecerdasan buatan terkadang terlihat datar dan tidak alami karena tidak memiliki sentuhan atau emosi manusia yang sering kali hadir dalam karya manusia. Meskipun banyak orang berpikir bahwa AI dapat menciptakan visual yang bagus secara teknis, tetapi hasil akhirnya tidak memiliki nilai artistik seperti ilustrasi yang dibuat oleh ilustrator berbakat dan kreatif.
Permasalahan Ilustrasi AI yang Mengambil Gambar dari Internet Tanpa Izin Penggunaan dataset tanpa persetujuan pemilik adalah salah satu masalah utama dalam pengembangan ilustrasi berbasis AI. AI mempelajari dan menganalisis jutaan foto di internet untuk mempelajari cara membuat gambar.
Namun demikian, prosedur ini sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan hak cipta atau persetujuan ilustrator yang karyanya digunakan sebagai data pelatihan AI. Karena AI diajarkan menggunakan berbagai foto dari seluruh dunia, AI juga mampu menghasilkan gambar-gambar tersebut.
Seniman digital Raiyan Laksamana mengatakan kepada VOA, “AI ini sendiri juga bisa membuat gambar tersebut karena ditraining dengan berbagai image dari seluruh dunia. Untuk membuat hasilnya menjadi lebih sempurna, AI ini memerlukan data set yang sangat banyak sehingga banyak dari mereka mengambil image-image dari internet.” Para seniman mengkritik gambar yang dihasilkan AI karena mereka yakin bahwa gambar buatan AI “tidak menghargai” karya mereka.
Tantangan untuk menentukan apakah gambar AI merupakan ciptaan asli atau hanya kompilasi dari ilustrasi berbeda yang sudah ada adalah masalah lainnya. Beberapa ilustrator bahkan menemukan bahwa gambar yang dihasilkan AI terdapat watermark yang tidak sepenuhnya terhapus atau indikasi yang dapat dikenali dari karya mereka, seperti gaya gambar tertentu.
Hal ini memperburuk kekhawatiran bahwa AI mampu memplagiasi secara langsung bagian-bagian gambar yang dilihat online selain mengandalkan pengenalan pola. Menurut komikus dari Bandung, Ario Anindito, yang saat ini dianggap sebagai salah satu ilustrator utama komik Marvel, “Yang salah dari AI generator ini adalah ketika dia ngambil style dari artis-artis yang sudah ada, jadi artis-artis itu enggak pernah memberikan izin secara konsensual untuk gayanya dipakai buat generating AI image itu yang sebenarnya merugikan. Itu yang seharusnya kita cari cara untuk jangan sampai terjadi tindakan pencurian style atau pelanggaran hak cipta itu,” Jelas Ario.
Beberapa ilustrator sebenarnya telah menggugat perusahaan yang membuat AI berbasis gambar, meminta mereka transparan mengenai sumber data yang digunakan untuk melatih model AI. Perlindungan hukum terhadap penggunaan gambar yang tidak disetujui dalam pelatihan AI juga dituntut oleh beberapa komunitas seniman.
Salah satu perusahaan aplikasi untuk ilustrasi digital yang secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap penggabungan AI generatif ke dalam perangkat lunaknya adalah Procreate. Procreate membuat pilihan ini karena mereka berdedikasi untuk menjaga kreativitas manusia.
Bisnis tersebut memperjelas bahwa, berbeda dengan aplikasi tertentu lainnya yang memanfaatkan data pengguna untuk membuat fitur AI generatif, aplikasi tersebut tidak akan menggunakan pekerjaan pengguna untuk melatih model AI. Menurut Procreate, seni adalah produk ekspresi pribadi dan tidak boleh digantikan oleh algoritma. Dilansir dari Hedra.id, Procreate memberikan penegasan dalam pernyataan resminya, “Kami tidak memiliki akses ke karya pengguna, dan aktivitas pengguna tidak dilacak oleh aplikasi kami.
Kami percaya bahwa seni adalah hasil dari kreativitas manusia, dan kami berkomitmen untuk menyediakan alat yang memberdayakan seniman untuk mengeksplorasi potensi kreatif mereka.” Dampak Ilustrasi AI Terhadap Kehidupan Ilustrator Selain persaingan, AI menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya apresiasi seni selain persaingan.
Berbeda dengan masa lalu, ketika ilustrasi dihargai karena orisinalitas dan karyanya, banyak orang kini menganggap seni sebagai sesuatu yang dapat diproduksi dengan cepat tanpa bakat atau pertimbangan apa pun. Salah satu contoh yang memicu kontroversi adalah pada tahun 2022, ketika sebuah karya seni yang dihasilkan oleh AI menjadi juara pertama dalam kontes seni digital.
Komunitas seni marah dengan kemenangan ini karena mereka yakin AI menghancurkan proses kreatif dan membahayakan pekerjaan ilustrator. “Ini menyebalkan dan untuk alasan yang sama persis, kami tidak membiarkan robot berpartisipasi dalam Olimpiade,” cuitan salah satu pengguna Twitter, “Ini adalah definisi literal dari ‘menekan beberapa tombol untuk membuat karya seni digital’,” cuit lainnya.
Selain itu, posisi ilustrator di sektor kreatif mulai berubah. Mereka kini harus beradaptasi dengan AI agar dapat berkembang, padahal sebelumnya mereka adalah desainer visual yang mengandalkan bakat dan kreativitas manual. Meskipun beberapa ilustrator mulai menggunakan AI sebagai alat untuk membuat sketsa atau eksplorasi konsep, sebagian ilustrator lainnya percaya bahwa teknologi ini semakin membatasi pilihan pekerjaan mereka.
Misalnya, untuk menciptakan konsep karakter dan latar belakang dengan lebih cepat dan terjangkau, banyak studio di industri film dan video game mulai menggunakan AI sebagai pengganti ilustrator manusia. Hal ini mengubah persepsi industri mengenai peran seniman dalam produksi kreatif dan juga membahayakan profesi ilustrasi tradisional.
Masyarakat harus menyadari bahwa meskipun AI dapat menciptakan pekerjaan yang sebanding dengan manusia, hal ini tidak berarti bahwa pekerjaan AI lebih unggul daripada upaya manusia. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa gambar yang dibuat oleh manusia sering kali memiliki sentuhan pribadi dan individualitas yang sulit ditiru oleh AI.
Ilustrator yang berbeda bahkan akan menciptakan karya yang berbeda. Karya seni manusia lebih khas dibandingkan karya AI, yang biasanya terstruktur, atau bahkan menghasilkan gambar berdasarkan pola visual yang dikenali. Pasalnya, karya seni manusia mewakili pengalaman, emosi, dan sudut pandang unik penciptanya, yang semuanya jelas tak ada bandingannya dengan AI.
Ilustrator harus mampu menyesuaikan dan mengatasi kendala saat ini agar dapat berkembang dalam menghadapi kemajuan zaman yang pesat. Kita tidak bisa mengabaikan perubahan besar yang disebabkan oleh kemajuan teknologi, khususnya di bidang AI.
Sentuhan manusia tetap diperlukan dalam menghasilkan karya seni yang bermakna, meskipun AI dapat menyederhanakan banyak prosedur teknis. Untuk memaksimalkan potensi kedua belah pihak dalam industri ilustrasi, pemanfaatan yang sehat antara kreativitas manusia dan robotika canggih mungkin merupakan ide yang cerdas.
Sumber Referensi
Devani, K. (2024, June 14). Dampak Ilustrasi AI terhadap Kehidupan Ilustrator – Kompasiana.com. KOMPASIANA. https://www.kompasiana.com/khayliladevani5514/666bc0c5ed641565a172d84d/damp ak-ilustrasi-ai-terhadap-kehidupan-ilustrator Ihsan, I. (2023, April 28). Penggunaan Teknologi “AI” Jadi Kontroversi, Seniman Digital Indonesia: Sesuatu yang Tak Bisa Dihindari. VOA Indonesia. https://www.voaindonesia.com/a/penggunaan-teknologi-ai-jadi-kontroversi-seniman-d igital-indonesia-sesuatu-yang-tak-bisa-dihindari/7071147.html Kaonang, G. (2023, April 20). Di Tiongkok, AI mulai rebut pekerjaan ilustrator video game – hybrid.co.id. Hybrid.co.id. https://hybrid.co.id/post/di-tiongkok-ai-mulai-rebut-pekerjaan-ilustrator-video-game/ Mutiah, D. (2022, September 5). Lukisan hasil kreatif kecerdasan buatan juarai kompetisi seni, bikin seniman sakit hati. liputan6.com. https://www.liputan6.com/lifestyle/read/5061047/lukisan-hasil-kreatif-kecerdasan-bua tan-juarai-kompetisi-seni-bikin-seniman-sakit-hati Procreate tegas Tolak AI, Pertahankan kreativitas manusia. (n.d.). Hedra. https://hedra.id/procreate-tegas-tolak-ai-pertahankan-kreativitas-manusia-newsshp-62 1947 Sarwindaningrum, I. (2024, May 9). Kecerdasan Buatan vs hak Cipta, Perusahaan AI dijerat gugatan pencurian karya. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/internasional/2024/05/09/kecerdasan-buatan-vs-hak-cipt a-perusahaan-ai-dijerat-gugatan-pencurian-karya Utama, R. B. (2023, October 8). Tantangan Terbesar Para Illustrator: Dilema AI di Dunia Ilustrasi. https://bidikutama.com/berita-mahasiswa/tantangan-terbesar-para-illustrator-dilema-ai -di-dunia-ilustrasi/
Penulis: Jasmine Rahadian Firmansyah
NIM: J1401231030