Kisah Pilu Batrisya, Mengidap Hidrosefalus dan Ditinggal Wafat Ibu Sejak Balita

Sejak ditinggal wafat ibunya, Batrisya Sabrina dirawat neneknya. (Adi Susanto)  

LAMPUNG UTARA – Lahir ke dunia menjadi cobaan terberat bagi BatrisyaBatrisya Sabrina, balita yang kini berusia 22 bulan. Bukan hanya harus ditinggalkan ibunya sejak usia 14, balita warga Desa Bumi Jaya, Kecamatan Abung Timur, Lampung Utara juga mengidap Hidrosefalus sejak lahir.

Anak kedua dari Supriadi dan almarhumah Rita Suryati itu saat ini hanya dirawat oleh kakek dan neneknya di rumah. Karena ayahnya harus bekerja sebagai buruh harian lepas, seminggu sekali pulang dan pendapatannya tidak menentu.

Mutasi Limah nenek Batrisya menceritakan, cucunya sudah sejak kandungan mengalami kelainan kata dokter. Ia sudah lama memiliki penyakit Hidrosefalus, dan telah menjalani operasi pada Februari lalu di RS Abdul Moeloek Bandarlampung.

“Abis operasi keadaan Mala (sapaan Batrisya, red) melemah di bagian fisiknya, nafsu makan berkurang. Dan anehnya dulu kepalanya bulet, saat ini ada cekukan,” jelasnya, Senin (11/3/2019).

Mutasi menambahkan, cucunya ditinggal wafat ibunya sejak usianya 14 Bulan. Sang ibu pada saat itu diserang kangker usus, dan sudah beberapa kali berobat, sayangnya nyawa tidak bisa tertolong.

“Batrisya saat ini, saya yang merawatnya,” ucapnya.

Perangkat Desa setempat, Sodikun mengaku, belum ada pihak pemerintah daerah yang memberikan bantuan. Sementara itu, melalui swadaya masyarakat ikut membantu akomodasi biaya perobatan Batrisya Sabrina, walaupun sudah memakai kartu BPJS.

“Ya saya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah, untuk warganya yang sedang sakit,” ujarnya. (Adi)

Redaksi TabikPun :