Masyarakat Kampung Mekar Jaya Minta Pembangunan Fisik Diperbaiki

Penampakan pembangunan di Kampung Marga Jaya Kecamatan Meraksa Aji yang dikeluhkan masyarakat. (Roby)

Tulang Bawang – Masyarakat Kampung Marga Jaya Kecamatan Meraksa Aji Kabupaten Tulang Bawang (Tuba) berharap pembangunan infrastruktur fisik yang telah dan sedang dibangun menggunakan Dana Desa (DD) dapat diperbaiki. Pasalnya, masyarakat ingin pembangunan yang diberikan pemerintah pusat tersebut dapat bertahan lama untuk menunjang aktivitas perekonomian masyarakat setempat.

Masyarakat setempat berinisial KT, YM, LD, dan JL berharap, pembangunan fisik yang dikerjakan asal jadi dapat segera diperbaiki. Sesuai dengan petunjuk yang benar, agar bangunan tersebut dapat kokoh dan bertahan lama.

”Kami warga Kampung Marga Jaya mengharapkan segala pembangunan di kampung yang menggunakan anggaran pemerintah harus dibangun sesuai dengan aturan. Seperti bangunan yang dibuat asal-asalan, kami meminta kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang melalui dinas terkait memberikan teguran tegas kepada pihak kampung supaya bangunan semacam ini dapat dikerjakan ulang dan di sesuaikan dengan peraturan yang telah ditetapkan,” pungkas keempat warga tersebut.

Pantauan tabikpun.com, ada beberapa pembangunan fisik di Kampung Marga Jaya yang menggunakan Dana Desa. Seperti drainase, gapura, jalan onderlagh, dan bangunan Bumdes.

Drainase yang dibangun di seputaran lapangan sepak bola, tepat di depan rumah kepala kampung desa setempat  diduga dikerjakan asal jadi. Pasalnya, meski baru saja dibangun telah banyak bagian yang sudah mulai retak-retak.

Hal tersebut terjadi diduga lantaran adukan semen dan pasir yang di gunakan tidak seimbang dan bentuk drainase tidak lurus. Begitu juga dengan bangunan tiga unit gapura di lingkup kampung tersebut yang saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Dari ketiga gapura, masing-masing tiang coran hanya menggunakan tiga batang besi yang berukuran 8 mm dan terlihat jarak ring kolong cincin yang digunakan sangat jauh dan jarang. Diduga, hal tersebut dilakukan oleh pihak pelaksana demi meraup keuntungan yang besar tanpa harus mengutamakan kualitas bangunan.

Pada pengerjaannya pun tidak disertai papan informasi pekerjaan. Sehingga masayarakat luas tidak dapat mengetahui tentang jumlah pagu anggaran yang digunakan dan dari mana asal sumber kegiatan bangunan gapura tersebut.

Tak hanya drainase dan gapura, di kampung ini juga terdapat bangunan jenis gedung bumdes yang diduga pembangunanya asal jadi. Berdasarkan keterangan para pekerja, bangunan tiang cor menggunakan besi ukuran 8 mm dan jarak kolong cincin terlalu jarang.

Adapun kejanggalan dari sisi anggaran pembangunan Bumdes yang dinilai terlalu besar. Dimana pada ukuran bangunan bertipe 6×6 dianggarkan sebesar Rp 91.335.700. Pembangunan jalan onderlagh pun diduga tidak sesuai dengan ketentuan, dimana diduga banyak batu yang disusun tidur dan tanpa dibuat penguncian tengah badan jalan onderlagh. Serta tanpa digali berm pengunci kiri dan kanan. Hanya ditimbun menggunakan urukan tanah sebagai pengganti berm.

Sementara Ponidi selaku kakam setempat maupun sekdes dan bendahara kampung serta Pokmas kegiatan program GSMK dan Panitia pelaksana kegiatan sumber dana DD belum dapat dimintai keterangan resmi. Pasalnya, setelah beberapa kali di sambangi baik di balai kampung maupun di rumah masing-masing masih saja tak kunjung ditemui. (Roby)

Redaksi TabikPun :