Mengapa Donald Trump Sangat Ingin Membeli Greenland

Presiden AS terpilih Donald Trump. (Ist)

Tabikpun.com – Amerika Serikat sudah lama mengincar Greenland dari Denmark. Keinginan membeli kawasan tersebut kembali dilontarkan Presiden AS terpilih Donald Trump pada, Jumat 7 Januari 2025.

“Kami membutuhkan Greenland untuk tujuan keamanan nasional. Masyarakat bahkan tidak tahu apakah Denmark mempunyai hak hukum atas wilayah tersebut. Namun, jika mereka (Denmark) memilikinya, mereka harus menyerahkannya karena kami memerlukannya untuk keamanan nasional, yaitu untuk dunia bebas,” kata Trump pada konferensi pers di New York Mar-a-Lago.

Greenland merupakan salah satu pulau terbesar yang ada di dunia yang luas totalnya mencapai 2,16 Juta Kilometer Persegi, Greenland juga menjadi salah satu pulau yang tiga per empat luasnnya ditutupi oleh lempeng es abadi selain Benua Antarktika. Dengan jumlah penduduk yang hanya mencapai 56.480 jiwa (2013) Greenland menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit di dunia.

Dengan jumlah penduduk yang hanya berjumlah 56.480 jiwa penyebaran penduduk di Greenland pun dapat dikatakan tidak merata, dikarenakan kurang lebih sepertiga penduduknya tinggal di Kota Nuuk, yaitu Ibu Kota sekaligus kota terbesar yang ada di Greenland. Greenland adalah negara otonom milik Kerajaan Denmark.

Meskipun Greenland secara geografis merupakan bagian dari benua Amerika Utara, namun secara politik dan budaya Greenland telah dikaitkan dengan Eropa selama sekitar satu milenium. Sejak tahun 1721, Denmark telah menguasai koloni di Greenland, namun negara tersebut dijadikan bagian dari Denmark pada tahun 1953.

Pada tahun 2008, masyarakat Greenland mendukung Undang Undang Otonomi yang mendorong pemerintah Denmark mendelegasikan kekuasaan ke pemerintah daerah Greenland. Berdasarkan struktur baru yang berlaku pada 21 Juni 2009, Greenland memegang kekuasaan atas polisi, sistem peradilan, hukum perusahaan, akuntansi, dan audit, aktivitas sumber daya mineral, penerbangan, hukum kapasitas hukum, hukum keluarga, dan hukum warisan; pemeriksaan imigran dan perbatasan, lingkungan kerja, dan pengawasan dan regulasi keuangan, sedangkan pemerintah Denmark hanya mengatur hubungan luar negeri dan pertahanan dari Greenland. Greenland berencana mengembangkan ekonominya dari pendapatan eksploitasi sumber daya alam mereka yang sangat melimpah.

Mengapa Harus Greenland?

Greenland merupakan salah satu bagian vital dalam mewujudkan fisi dari Donald trump yaitu MAGA (Make Amerika Great Again). Greenland memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa yang membuat tergiurnya berbagai macam negara besar seperti China, Rusia, Kanada, Inggris, dan juga Amerika itu sendiri. Kekayaan sumber daya alam seperti minyak, gas alam, hingga mineral langka seperti litium dan grafit.

Mineral-mineral langka ini sangat penting untuk memproduksi baterai kendaraan listrik dan teknologi hijau lainnya. Ada pula LTJ (Logam Tanah Jarang) yang sangat penting bagi pengembangan industri berteknologi tinggi, seperti kendaraan listrik, turbin angin, ponsel pintar, dan juga sistem rudal.

Diperkirakan akan semakin mudah untuk mengakses seluruh kekayaan sumber daya alam tersebut seiring dengan mencairnya es di Greenland akibat perubahan iklim yang kian memanas. Keinginan Trump untuk menguasai Greenland juga dipandang sebagai upaya untuk mengimbangi dominasi China dalam produksi mineral langka dunia.

Jika Amerika berhasil G menguasai Greenland, ini dapat menjadi keuntungan besar dalam persaingan global di sektor energi hijau. Selain melimpahnya kekayaan sumber daya alam yang ada pada Greenland Donald Trump juga melihat adanya kepentingan lain atas keinginannya untuk membeli Greenland, yaitu kepentingan atas geopolitik yang akan diperoleh jika Greenland berhasil dibeli dan menjadi bagian dari Amerika.

Greenland bukan sekadar pulau es biasa. Secara geografis, pulau ini berada di antara Amerika Serikat dan Rusia, menjadikannya lokasi strategis untuk pertahanan militer dan sistem peringatan dini rudal balistik. Amerika Serikat sendiri telah memiliki pangkalan militer permanen di Pituffik sejak era Perang Dingin.

Tidak hanya itu, perubahan iklim yang menyebabkan pencairan es di Arktik membuka peluang jalur pelayaran baru. Jalur ini dapat memangkas waktu perjalanan antara Eropa Barat dan Asia Timur hingga separuhnya, menjadikannya alternatif dari Terusan Suez dan juga Terusan Panama.

Dengan adanya Greenland yang menjadi bagian dari Amerika, Amerika dapat menghemat pengeluaran dari rute pelayarannya yang digunakan untuk kepentingan dagang yang selalu melewati rute Terusan Panama. Dikarenakan biaya yang dikeluarkan untuk sekali melintasi Terusan Panama begitu mahal, dan juga Amerika sendiri mengantisipasi jika adanya ketegangan yang terjadi antara Amerika dengan Panama yang membuat kegiatan perdagangan Amerika melalui jalur laut menjadi terganggu.

Amerika juga dapat menjadikan Greenland sebagai tempat untuk transitnya kapal-kapal yang menggunakan jalur pelayaran tersebut yang pastinya akan mendatangkan lebih banyak keuntungan dan juga kemudahan bagi Amerika dalam menguasai berbagai macam aspek global.

Keputusan Trump Dalam Membeli Greenland

Keputusan Trump mengenai keinginannya untuk membeli Greenland bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah Amerika. Sebelumnya, Amerika juga pernah membeli Alaska dari Rusia pada tahun 1867 dan Louisiana dari Prancis pada tahun 1803.

Jika dipandang melalui sudut pandang bisnis dan juga geopolitik, Keputusan Donald Trump yang ingin membeli Greenland dari Denmark ini masuk akal, terutama jika kita melihat potensi sumber daya alam dari Greenland dan juga nilai strategisnya bagi pertahanan Amerika. Namun, secara praktis, keputusan tersebut dapat dikatakan cukup sulit untuk direalisasikan karena Greenland merupakan wilayah otonom Denmark, dan Denmark sendiri dengan tegas menolak penjualan Greenland terhadap Amerika tersebut.

Selain itu, meskipun Trump menganggapnya sebagai strategi “Make America Great Again,” banyak sekali pihak yang mengkritiknya karena dianggap terlalu agresif dan berisiko untuk dapat terjadinya kerusakan hubungan diplomatic anatara Amerika dengan Denmark serta negara-negara Eropa lainnya.

Secara keseluruhan, meskipun ada manfaat ekonomi dan geopolitik yang besar, akan tetapi rencana ini dinilai lebih bersifat ambisius daripada realistis. Jika Amerika ingin mendapatkan pengaruh yang lebih besar di Greenland, mungkin pendekatan melalui jalur diplomatik atau kerja sama investasi akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan melalui pembelian langsung.

Sumber Refrensi

https://www.kompas.id/artikel/mengapa-donald-trump-ngebet-ingin-kuasai greenland

https://www.liputan6.com/hot/read/5872717/mengapa-donald-trump-ingin kuasai-greenland-ternyata-karena-alasan-ini https://youtu.be/U0Mi1pnXtXc?si=V-xz-i8pAoEwAb22

Penulis: Akhila Dilan Ramadhan Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Redaksi TabikPun :