Tabikpun.com – Perkembangan teknologi telah membawa manusia ke era digital, dimana media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter bukan hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga membentuk tren dan pola pikir masyarakat. Dengan semakin tingginya penetrasi internet dan kemudahan akses ke berbagai platform digital, media sosial tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga sumber informasi, tempat membangun identitas, hingga ruang untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan media sosial semakin meningkat dengan berbagai dampak yang ditimbulkannya. Media sosial telah menjadi alat yang ampuh dalam membentuk perilaku, baik dalam aspek konsumsi, gaya hidup, cara berpikir, hingga bagaimana seseorang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Meskipun memberikan banyak manfaat, media sosial juga membawa dampak negatif yang tidak bisa diabaikan.
Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Hidup
Tren Konsumsi dan Pola Belanja
Media sosial memainkan peran besar dalam membentuk kebiasaan konsumsi masyarakat. Berbagai platform menampilkan iklan tertarget yang didukung oleh algoritma canggih, memungkinkan pengguna melihat produk yang sesuai dengan preferensi mereka. Selain itu, influencer media sosial sering kali menjadi tolok ukur dalam menentukan produk atau layanan yang diminati masyarakat. Menurut laporan dari Hootsuite (2023), sekitar 75% pengguna media sosial melakukan pembelian berdasarkan rekomendasi influencer atau ulasan online. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam keputusan belanja seseorang.
Di era digital ini, keberadaan marketplace online juga semakin mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi hanya dengan beberapa kali klik. Platform seperti Instagram dan TikTok bahkan menyediakan fitur belanja langsung, yang memungkinkan pengguna untuk membeli produk tanpa harus keluar dari aplikasi. Namun, tren ini juga membawa tantangan baru, seperti meningkatnya budaya konsumtif, di mana seseorang merasa harus terus mengikuti tren demi tetap relevan di media sosial. Hal ini berisiko membuat pengguna lebih boros dan kurang mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam konsumsi mereka.
Standar Kecantikan dan Kesehatan
Media sosial juga memengaruhi standar kecantikan dan kesehatan. Tren kecantikan yang berkembang pesat melalui platform seperti Instagram dan TikTok sering kali membuat pengguna merasa harus mengikuti standar tertentu. Banyak orang merasa perlu memiliki tubuh yang ideal, kulit yang sempurna, atau mengikuti tren perawatan terbaru agar diterima di lingkungannya. Dampak negatif dari hal ini adalah meningkatnya gangguan citra tubuh dan kesehatan mental, terutama di kalangan remaja.
Sebuah studi dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa konsumsi konten terkait kecantikan yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan depresi. Terlebih dengan adanya filter dan aplikasi pengeditan foto yang semakin canggih, banyak orang membandingkan dirinya dengan standar kecantikan yang sebenarnya tidak realistis. Di sisi lain,
media sosial juga membawa manfaat dalam dunia kesehatan, seperti kampanye hidup sehat, olahraga, dan edukasi terkait pola makan yang lebih baik. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk lebih kritis dalam mengonsumsi konten terkait kecantikan dan kesehatan di media sosial.
Perubahan Gaya Komunikasi dan Interaksi Sosial
Di era digital, komunikasi tidak lagi terbatas pada pertemuan langsung, tetapi lebih banyak terjadi melalui pesan teks, panggilan video, dan media sosial. Meskipun hal ini mempermudah komunikasi jarak jauh, interaksi sosial secara langsung menjadi berkurang. Banyak orang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dunia maya dibandingkan berinteraksi secara fisik dengan orang di sekitar mereka. Akibatnya, keterampilan komunikasi tatap muka dan empati sosial dapat menurun, sebagaimana dilaporkan dalam penelitian yang diterbitkan oleh Pew Research Center (2022).
Selain itu, fenomena seperti “doomscrolling” atau kebiasaan terus-menerus menggulir berita negatif di media sosial juga berpengaruh terhadap tingkat stres dan kecemasan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan dalam menggunakan media sosial agar tidak mengganggu kehidupan sosial di dunia nyata.
Pengaruh Media Sosial terhadap Pola Pikir
Penyebaran Informasi dan Pembentukan Opini Publik
Media sosial telah menjadi sumber utama informasi bagi banyak orang. Namun, tidak semua informasi yang beredar bersifat valid dan faktual. Penyebaran berita palsu (hoaks) dan misinformasi sering kali memengaruhi cara pandang pengguna terhadap isu-isu tertentu. Laporan dari Reuters Institute (2023) menunjukkan bahwa sekitar 60% pengguna internet mendapatkan berita dari media sosial, tetapi hanya sebagian kecil yang memverifikasi kebenaran informasi yang mereka terima.
Hal ini dapat memicu polarisasi di masyarakat, terutama dalam konteks politik dan isu-isu sosial. Media sosial memungkinkan siapa saja untuk berbicara dan menyebarkan informasi, sehingga opini yang belum tentu berbasis fakta bisa dengan mudah menyebar dan dipercaya oleh banyak orang. Oleh karena itu, pengguna harus lebih kritis dalam mengonsumsi informasi dan melakukan verifikasi terhadap sumber yang mereka baca.
Dampak terhadap Kesehatan Mental dan Perilaku
Paparan berlebihan terhadap media sosial dapat berdampak pada kesehatan mental pengguna. Studi dari National Institute of Mental Health (NIMH) menemukan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan tingkat stres, kecemasan, dan depresi. Selain itu, fenomena “fear of missing out” (FOMO) semakin meningkat, di mana individu merasa cemas jika tertinggal dari tren atau aktivitas yang dilakukan oleh orang lain.
Media sosial memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap gaya hidup dan pola pikir pengguna. Meskipun platform ini memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan akses informasi dan konektivitas, pengguna juga harus menyadari dampak negatifnya, terutama dalam hal kesehatan mental, penyebaran informasi, dan perubahan gaya hidup. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, dengan membatasi waktu penggunaan, memilih konten yang lebih bermanfaat, serta tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
Penulis: Andika Prasetya
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB