Feature Lampung Utara

Pantang Meminta, Mbah Dikun Mengais Rezeki Dari Sebatang Bambu

Diusia 106 tahun, Mbah Dikun tetap semangat mencari rezeki halal dengan tenaganya sendiri. (Adi Susanto)

Lampung Utara – Pedoman dan semangat hidup mbah Dikun patut menjadi panutan generasi muda saat ini. Diusia 106 tahun, warga Desa Candimas Kecamatan Abung Selatan Lampung Utara (Lampura) ini tetap bekerja dan berkarya demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mbah Dikun tidak mau menggantung dirinya kepada orang lain, hal itu dibuktikannya dengan menyulap batang bambu menjadi sebuah karya yang memiliki nilai ekonomi. Berikut penelusuran tabikpun.com tentang keseharian Mbah Dikun dalam memperjuangkan hidup!

Disaat kebanyak orang masih bersantai menikmati udara dingin, Senin (5/3/2018) nampak dari kejauhan seorang tua renta memikul sebatang bambu dan beberapa kerajinan dari bambu. Benar, itu adalah sosok Mbah Dikun yang setiap harinya harus berjalan puluhan kilometer demi menjajakan karyanya untuk mendapatkan pundi-pundi uang demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Puluhan tahun rutinitas tersebut dilakukanya. Berangkat setelah salat subuh, Mbah Dikun yang hidup bersama tiga anak tirinya dan beberapa cucunya itu berjalan kaki penuh harapan karyanya dapat terjual.

“Saya ni mas dulunya ikut di atih Jepang juga sebelum Indonesia merdeka. Jadi sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Bersyukur masih diberikan kesehatan,” kata Mbah Dikun dengan logat khasnya Jawa, saat berbincang-bincang di pinggir Jalan Soekarno Hatta Kotabumi.

Bukan tanpa alasan, pedoman hidup Mbah Dikun yang pantang meminta itu yang mendorongnya untuk tetap berjuang mencari rezeki. Pun kebutuhan hidup yang mau tidak mau harus terpenuhi.

“Mau gimana lagi, kalau gak berjualan mau makan dari mana mas. Enak sedikit tapi hasil keringat sendiri,” imbunya dengan rawut muka yang sudah keriput dimakan usia.

Bermodal dua batang bambu perhari yang iya beli dengan harga lima ribu rupiah perbatangnya, ia memulai membuat karyanya seperti tempat ayam bertelur yang biasa disebutnya Kereyeng.

“Dalam satu batang bambu itu bisa jadi sepuluh sampai dua belas buah mas, tergantung bambunya,” paparnya

Ia mengaku, dalam sehari dirinya bisa menghabiskan 20 buah keranjang tempat ayam bertelur yang di jual per buahnya Rp 15 ribu. Meskipun tidak setiap hari habis, akan tetapi cukup untuk dirinya bertahan hidup.

“Alhamdulillah meskipun gak setiap hari habis terjual, tetapi sedikit banyak saya masih bisa membawa pulang uang ke rumah,” tutupnya. (Adi)

 

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: