Pejabat Sampah

Pemimpin Redaksi Tabikpun.com Abdul Wahab. (Red)

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah di Karangrejo Metro Utara Kota Metro dalam sepekan ini sempat viral dan mendapat sorotan di Bumi Sai Wawai lantaran mobil pengangkut sampah dari luar wilayah Metro kedapatan membuang sampah di Metro.

Yang jadi petanyaan, mengapa baru sekarang mendapatkan perhatian. Padahal, penyelundupan limbah rumah tangga tersebut dari pengakuan sopirnya sudah berlangsung 2 tahun.

Dan ironisnya lagi, bahwa tumpukan sampah yang menggunung itu sebenarnya sudah sejak lama, tapi sepertinya tidak ada perhatian sama sekali baik dari eksekutif maupun legislatif setempat. Pada Masa kepemimpinan walikota Metro Lukman Hakim – Saleh Chandra, sekitar tahun 2012 boleh dikatakan ada sedikit solusi yakni memberikan ruang investor dalam pengelolaan sampah menjadi pupuk organik. Kala itu kalau tidak salah brand pupuk itu berlabel ‘Rabok’.

Tak tanggung- tanggung, pihak investor/ perusahaan itu pun menghadirkan tenaga ahli dan teknisi mesin peralatan pengolah limbah sampah menjadi pupuk dihadirkan dari pulau jawa, kalau tidak salah dari jawa timur dan bandung. Kehadiran perusahaan pengolah sampah saat itu setidaknya memberikan solusi.

Bagaimana tidak, selain mengurangi volume tumpukan sampah yang kian menggunung, hasil olahan menjadi pupuk, yang paling krusial adalah mengurangi ancaman polusi kesehatan warga yang terdampak di sekitar TPA, tentunya.

Lantas, apa hendak dikata, menjadi tanda tanya besar mengapa perusahaan itu tidak berlanjut. Apakah bangkrut?, putus kontrak, dan atau ada faktor lain. Boleh jadi ada oknum-oknum pejabat yang nakal bermental ‘Sampah’ misalnya meminta persentasi upeti, meminta jatah pupuk untuk dikirim ke lahan kebun pertanian mereka, dan atau faktor lainnya?

Semoga indikasi dan dugaan yang mengarah kesitu tidak benar. Akan tetapi, seandainya ada indikasi mengarah kesitu benar, nah, wajar saja para investor kapok masuk Kota Metro lantaran kelakuan oknum pejabatnya tak ubah seperti ‘Sampah’ yang tidak peduli memikirkan dampak lingkungan, namun hanya berorientasi mementingkan kepentingan pribadi dan golongan mereka saja.

Kejadian dari kasus penyelundup sampah dari luar daerah yang sempat viral, sebenarnya hanya riak-riak kecil dan sepertinya bukan pemicu utama sampah di Karang Rejo menjadi penuh dan menumpuk. Sebaiknya ke depan pihak Legislatif dan Eksekutif setempat memikirkan serta ada aksi mencarikan solusi agar sampah di TPAS bisa teratasi.

Tentu dalam pengelolaannya tidak hanya mengandalkan anggaran bersumber dari APBD yang berfokus pada ajang proyek belaka. Namun lebih kepada pola patrisipatif bagaimana melibatkan warga sekitar demi mendongkrak ekonomi, menggandeng pihak swasta dengan pola kemitraan, serta berkalaborasi bagaimana mencari founder atau investor, dengan syarat tidak ada lagi oknum- oknum yang ‘bermental sampah’ yang berdampak membuat investor kapok masuk kota Metro.

Penulis: Pimpinan Redaksi Tabikpun.com Abdul Wahab

Redaksi TabikPun :