METRO – Pandemi Covid-19 membawa dampak signifikan bagi para pelaku ekonomi, termasuk Pedagang Kaki Lima. Seperti dialami Danu Saputra (20), salah seorang penjual sempol yang harus merelakan ratusan tusuk sempolnya tak laku terjual.
Danu mengaku, telah dua tahun berjualan sempol, namun kemerosotan drastis baru dirasakannya kala pandemi. Pasalnya, sebelum adanya Covid-19 ia bisa menjual 1.400 tusuk, kini hanya 400-500 tusuk saja.
“Ini hal yang baru buat saya dan itu sangat terasa buat saya,” katanya saat diwawancarai tabikpun.com, di Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Tejo Agung, Kecamatan Metro Timur tempatnya berjualan, Kamis (19/11/2020).
Ia menerangkan, berjualan sempol dipilihnya untuk memenuhi kebutuhan biaya kuliahnya. Dimana kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan baginya meneruskan pendidikan.
“Di umur saya yang masih muda, kondisi ekonomi yang buat saya harus berjualan seperti ini. Kalau tidak seperti ini, saya tidak ada pemasukan, sedangkan saya lanjut kuliah,” ulas Danu.
Warga asli Tejo Agung ini berharap, pemerintah dan kaum dermawan dapat turut membantu siapa saja warga Kota Metro yang tidak mampu akibat terdampak Covid-19 sehingga dapat meringankan beban sesama.
“Saya minta tolong saja kepada pihak pemerintahan untuk membantu orang-orang yang ngga punya. Kaum bawah itu lebih susah dari kaum atas. Seandainya bakal ada lockdown lagi, tuh kasihan orang yang nggak punya. Mau usaha tapi takut kena covid, sedangkan mereka harus makan,” katanya lirih.
Terakhir ia mengajak seluruh warga Bumi Sai Wawai agar selalu menerapkan protokol kesehatan. Dengan harapan pandemi Covid-19 dapat segera berakhir.
“Karena saya berjualan di pinggir jalan, saya sering merhatiin masih banyak orang yang ngga make masker berlalu-lalang. Jadi tolonglah, pandemi ini kan musuh kita bersama. Mari kita lawan dengan mematuhi protokol kesehatan dan menjaga kekompakan bersama,” pungkasnnya. (Adi)