Feature Lampung Utara

Samsudin, Warga Lampura yang ‘Terlupakan’

Samsudin penderita Penyakit lepra yang tidak pernah tersentuh bantuan pemerintah, saat ditemui dikediamanya, Selasa (17/10/2017). (Adi Pratama)

Lampung Utara – Masih banyak warga dibawah garis kemiskinan belum tersentuh oleh pemerintah. Berpenghasilan minim, dilanda penyakit tentu sangat berat  menghidupi keluarga mereka. Ditambah lagi kebutuhan ekonomi yang serba mahal, tidak dipungkiri membuat mereka semakin terpuruk.  Begitulah salahsatu potret kehidupan masyarakat di Indonesia.

Samsudin (42), warga Dusun Tujuh Desa Pulau Agung, Kecamatan Abung Tinggi Kabupaten Lampung Utara ini salah satunya. Tinggal di rumah berukuran 7×3 merer bersama keluarga kecilnya,  beralaskan  dinding bambu yang sudah usang di makan usia dan rumah berlantai tanah tidak membuat mereka patah semangat untuk bertahan hidup.

Penderitaan Samsudin bukan hanya masalah ekonomi, namun Ia harus terus bersabar, lantaran dirinya meratapi penyakit Lepra (Kusta) yang telah diderita selama 12 tahun. Kedua kaki dan tangannya mengalamin kelainan serta jari jarinya mengelupas perlahan lahan.

”Iya mas, sudah cukup lama penyakit yang saya derita ini. Untuk bekerja saja sulit, tapi ya gimana, mau nggak mau harus saya jalanin,” tutur Samsudin seraya rawut wajah yang sedih meratapi nasib keluarganya saat ditemui di kediamannya, Selasa (17/10)

Samsudin mengaku beban keluarganya semakin hari terasa memberatkan, maklum saja dua anaknya sedang dalam masa pertumbuhan. Dan lainnya sedang mengenyam pendidikan, sementara yang sulung terpaksa putus sekolah. Seharusnya, telah duduk di kelas X sekolah menengah atas.

“Ya mau bagaimana lagi, untuk makan saja kami sulit. Terpaksa yang tua hanya selesai kelas 3 SD saja. Saya berobat seharusnya dua bulan sekali sesuai saran rumah sakit, tapi karena keadaan tidak memungkinkan terpaksa hanya mengambil dari puskesmas,” terangnya.

Hari demi hari, waktu mencari nafkah dijalani sang sitrinya Jaswati  yang terpaksa harus menggantikan sosok suami yang iya cintai karena samsudin tak berdaya. Jaswati memaksakan diri bekerja sebagai buruh serabutan karet upahan meski hasilnya  yang tak seberapa berkisar sekitar Rp 700 ribu per bulan. Berangkat pagi pulang sore dengan berjalan kaki sekitar 1 kilo perjalan yang harus ditempuh ke tempatnya bekerja.

“Iya pak sudah 13 tahun saya menggantikan suami saya bekerja. Mau gimana, keadaan kami yang serba kekurangan harus menghidupi kedua anak,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Potret keluarga samsudin tentunya menjadi tugas rumah pemerintah setempat untuk menjadi perhatian. Pasalnya, keluarga samsudin yang seeharusnya layak menerimanya, namun Ia tidak mendapatkannya laiknya bantuan yang seharusnya diperuntukan untuk masyarakat yang benar-benar seperti mereka.

”Gimana terkadang kami kecil hati melihat orang mendapatkan bantuan. Sementara keadaan kami yang seperti ini malah justru tidak ada perhatiannya,” sesalnya. (Adi)

 

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: