www.tabikpun.com, Lampung Tengah – Di tengah hitsnya para pemancing menikmati sensi ganasnya perlawanan ikan di laut ternyata tidak mengikis eksistensi pemancing konvensional yang ada di daerah. Seperti yang dilakukan Susanto warga Kampung Bangun Saru Udik Buyut Udik Kecamatan Gunung Sugih Lampung Tengah (Lamteng) yang masih mencintai sensasi tarikan belut di tengah sawah.
Meski populasi belut mulai menurun lantaran penggunaan senyawa kimia oleh petani, Susanto tetap memilih senar dan pancing untuk merasakan sensasi tarikan belut ketimbang alat strum tegangan rendah. Menurutnya, jika sudah bicara hobby maka sedikit atau banyak belut yang didapat saat memancing tidak menjadi standar kepuasan.
”Kenikmatan tersendiri kalau umpan sudah dimakan belut. Istilahnya terasa nut nya,” curhat Susanto saat di tengah areal persawahan setempat, Selasa (8/8/2017).
Ia pun sedikit memberikan tutorial piranti yang harus dipersiapkan jika sobat tabikpun.com berminat untuk mencicipi sensasi tarikan ikan anggota suku Synbranchidae ini. Cukup dengan senar, kail, dan tang, serta umpan cacing tanah.
”Sama dengan merangkai alat pancing yang lain, hanya tidak diperlukan pemberat timbal serta tidak diperlukan pelampung. Kalau ciri-ciri lubang yang ada belutnya itu cari lubang sekitar jempol tangan yang tampak bersih. Kalau malam hari malah lebih gampang, biasanya belut itu kepalanya nongol waktu malam, cukup berbekal senter kalau kita mau mancing malam,” bebernya.
Jika sudah menemukan target lubang, lanjut dia, masukkan kail yang sudah diberikan umpan dan tunggu hingga dimakan. Sensasi tarikan belut pun akan dirasakan saat belut mulai memakan umpan. Jangan buru-buru ditarik gais, biarkan belut memakan menarik umpan hingga tertelan barulah kail ditarik.
”Biar saja kenur terbawa sampai ke lubang, lantas tarik ulur seperti menerbangkan layang-layang. Tarik ulur dikerjakan sampai di pastikan Belut menelan umpan. Tandanya sudah ditelah biasanya tarikanya lebih kuat. Baru tarik pelan-pelan sampai kepala belut muncul dari lubang. Baru kita tangkap dengan tang, karena belut sangat licin kalau hanya dipegang dengan tangan,” jelas dia.
Selain cacing tanah, ia memilih katak ukuran kecil sebagai umpan alternatif. Ia juga sedikit berinovasi pada senar yang digunakan. Dengan digantikan benang sol sepatu yang dirangkap tiga.
”Kenapa saya pilih umpan katak, karena saat musim belut berbarengan dengan musim katak. Jadi mudah mencarinya. Tinggal dipilih saja mana umpan yang mudah dicari,” tukasnya. (Mozes)