Tantangan dan Peluang Teknologi Digital Komunikasi di Indonesia

ilustrasi. (Net)

Tabikpun.com – Perkembangan teknologi digital komunikasi di Indonesia telah membawa berbagai manfaat dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, akses informasi, budaya, sosial, dan hukum & Pekerjaan. Teknologi digital memungkinkan proses pembelajaran yang lebih interaktif, layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau, serta akses informasi yang lebih cepat dan luas.

Selain itu, digitalisasi turut berperan dalam melestarikan budaya, memperkuat hubungan sosial, dan mendukung sistem hukum yang lebih transparan. Dengan kemajuan ini, masyarakat semakin terhubung dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, di balik manfaat yang ditawarkan, perkembangan teknologi digital juga menghadapi tantangan yang besar. Jika tidak dikelola dengan baik, berbagai masalah seperti kesenjangan digital, keamanan data, penyebaran informasi yang tidak akurat, serta regulasi yang belum sepenuhnya siap dapat menghambat kemajuan teknologi.

Di sisi lain, peluang untuk memanfaatkan teknologi digital secara maksimal tetap terbuka, terutama dengan dukungan infrastruktur yang memadai, peningkatan literasi digital, serta kebijakan yang mendukung inovasi. Oleh karena itu, keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pengelolaan yang bijak menjadi faktor penting dalam memastikan perkembangan digital yang berkelanjutan di Indonesia.

Tantangan utama Kemajuan Indonesia dalam transformasi digital sejauh ini dapat dikatakan on the right track (berada dalam jalur benar) meskipun masih ada tantangan atau kesenjangan (gap) yang harus diatasi untuk mencapai potensi penuh khususnya dalam mewujudkan target ambisius digitalisasi nasional 2045, menjadi salah satu ekonomi digital terbesar di Asia. Beberapa tantangan itu :

  1. Infrastruktur digital yang belum merata. Kesenjangan akses internet antara Jawa dan daerah luar Jawa khususnya daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) masih signifikan. Akses terhadap jaringan 5G juga masih terbatas di kota-kota besar.
  2. Indeks literasi digital masih rendah terutama di pedesaan. Pelatihan digital harus lebih diintensifkan untuk mencetak lebih banyak talenta digital untuk memperkuat ekosistem start-upyang sudah ada merangsang lahirnya start[1]up Pelaku UMKM perlu dilatih agar lebih terampil menggunakan platform digital untuk meningkatkan produktivitas dan inklusi ekonomi.
  3. Indeks kesenjangan ketrampilan digital atau Digital Skills Gap Index(DGSI) masih tinggi. Artinya masih banyak tenaga kerja profesional yang tidak memiliki ketrampilan digital yang sesuai dengan permintaan industri.

Pemerintah Indonesia melalui Kominfo juga melakukan upaya untuk mengatasi masalah-masalah yang disebutkan dalam poin-poin di atas. Terkait pita frekuensi misalnya, Kominfo memulai gerakan migrasi dari televisi analog ke televisi digital.

Selain itu Indonesia perlu memastikan akses yang terjangkau ke perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK), khususnya di wilayah pedesaan. Ketiga, Indonesia perlu mendorong peningkatan kemampuan digital masyarakat.

Dalam upaya memetakan literasi digital masyarakat Indonesia, Kominfo menggandeng Katadata Insight Center (KIC) melakukan pemetaan kompetensi digital masyarakat. Hal ini ditempuh melalui survei status literasi digital dan mengukurnya menjadi Indeks Literasi ini bahwa Indeks Literasi Digital Indonesia pada 2021 ada di level sedang, dengan skor 3,49 dari skala 1 – 5.

Penulis: Evan

Redaksi TabikPun :