Tabikpun.com – Kegiatan outing class atau studi lapangan sering kali menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para siswa. Selain sebagai sarana pembelajaran di luar kelas, kegiatan semacam ini juga berfungsi untuk mempererat hubungan antar siswa dan guru.
Namun, peristiwa tragis yang terjadi di Pantai Drini, Gunungkidul, Yogyakarta, menjadi pengingat akan pentingnya aspek keselamatan dan tanggung jawab dalam setiap kegiatan sekolah. Pada 8 Januari 2025, sebanyak 13 siswa SMPN 7 Kota Mojokerto terseret ombak saat melakukan outing class di pantai tersebut.
Dari jumlah tersebut, sembilan siswa berhasil diselamatkan, tiga ditemukan meninggal dunia, dan satu siswa lainnya masih dinyatakan hilang. Salah satu korban yang meninggal adalah Malven Yusuf Adliqo, siswa berusia 13 tahun.
Orang tua Malven menolak upaya damai yang ditawarkan oleh pihak sekolah, menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap penanganan insiden ini. Mereka merasa bahwa kematian anak mereka tidak dapat diselesaikan hanya dengan mediasi atau kompensasi, dan menuntut pertanggungjawaban yang lebih serius dari pihak sekolah.
“Kami disodori surat, disuruh baca dan diminta tanda tangan secepatnya. Akhirnya kami robek karena emosi. Kami masih berduka, belum waktunya,” katanya. Namun, PJ Wali Kota Mojokerto Moh Ali Kuncoro langsung menyanggah dan mengaku langsung melakukan pengecekan masalah surat itu kepada kedua belah pihak.
Karena menurutnyan masalah tersebut hanya sebatas kesalahan komunikasi antara SMPN 7 dengan orang tua Malven. “Saya pikir ada missed komunikasi. Surat yang dimaksud surat administrasi menjadi kelengkapan pemberkasan. Saat kejadian laka laut, otomatis pihak Gunungkidul harus merespons cepat dan harus memberi laporan kepada atasannya,” ujarnya kepada detikJatim.
“Jadi, tidak ada kehendak pihak sekolah, pendidikan, Pemkot Mojokerto lepas tangan. Bisa dilihat respons kami menangani ini,” ujarnya. Pernyataan tersebut memang berusaha menenangkan situasi, namun tetap tidak menghilangkan fakta bahwa ada kelalaian dalam perencanaan dan pengawasan yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Sehingga, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai prosedur keselamatan yang diterapkan oleh sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan di luar lingkungan sekolah. Pantai Drini, meskipun dikenal sebagai destinasi wisata, memiliki potensi bahaya seperti ombak besar dan arus bawah yang kuat.
Seharusnya, sebelum memutuskan lokasi outing class, pihak sekolah melakukan survei dan penilaian risiko untuk memastikan keamanan siswa. Selain itu, penting untuk memberikan pengarahan kepada siswa mengenai potensi bahaya dan tindakan pencegahan yang harus diambil saat berada di pantai.
Tanggung jawab utama dalam memastikan keselamatan siswa selama kegiatan sekolah berada di tangan pihak sekolah, khususnya para guru dan pendamping. Mereka harus memastikan bahwa jumlah pendamping memadai dan memiliki kompetensi dalam penanganan situasi darurat.
Dalam kasus ini, muncul pertanyaan apakah jumlah pendamping sudah sesuai dengan jumlah siswa yang dibawa, dan apakah mereka memiliki pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi situasi berbahaya di pantai. Selain itu, komunikasi dengan pihak berwenang setempat, seperti tim SAR atau penjaga pantai, juga menjadi faktor penting dalam memastikan keselamatan.
Koordinasi dengan pihak-pihak tersebut dapat membantu dalam memberikan informasi mengenai kondisi terkini pantai, termasuk peringatan dini mengenai cuaca buruk atau kondisi laut yang berbahaya. Jika sekolah sejak awal telah berkomunikasi dengan pihak terkait dan mendapatkan izin resmi, seharusnya risiko dapat diminimalkan.
Hal ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara sekolah dan pemerintah daerah dalam memastikan keamanan siswa selama kegiatan di luar sekolah. Penolakan orang tua Malven terhadap upaya damai mencerminkan kekecewaan mereka terhadap penanganan insiden oleh pihak sekolah.
Mereka merasa bahwa kematian anak mereka tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga oleh kelalaian dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Hal ini menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dari pihak sekolah dalam menangani insiden semacam ini.
Mereka harus bersedia untuk melakukan investigasi menyeluruh, mengakui kesalahan jika ada, dan mengambil langkah-langkah perbaikan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Kegiatan di luar kelas memang penting untuk pengembangan siswa, tetapi keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Sekolah harus memiliki standar operasional prosedur yang jelas dan ketat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan semacam ini.
Pelatihan bagi guru dan staf mengenai manajemen risiko dan penanganan situasi darurat juga harus ditingkatkan. Tidak cukup hanya mengandalkan naluri atau pengalaman pribadi, tetapi perlu ada pelatihan khusus untuk menangani risiko di tempat wisata tertentu.
Selain itu, penting untuk melibatkan orang tua dalam proses perencanaan kegiatan. Mereka harus diberikan informasi lengkap mengenai tujuan, lokasi, dan prosedur keselamatan yang akan diterapkan.
Dengan demikian, mereka dapat memberikan persetujuan yang berdasarkan informasi yang lengkap dan merasa tenang karena mengetahui bahwa anak-anak mereka berada dalam pengawasan yang aman. Jika orang tua sejak awal diberikan pemahaman yang jelas tentang prosedur keselamatan, mereka dapat ikut serta dalam memberikan masukan yang berharga agar keselamatan anak-anak mereka lebih terjamin.
Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah dan dinas pendidikan setempat harus melakukan pengawasan dan memberikan panduan yang jelas mengenai pelaksanaan kegiatan di luar sekolah. Mereka harus memastikan bahwa setiap sekolah mematuhi standar keselamatan yang ditetapkan dan memberikan sanksi yang tegas bagi yang melanggar.
Setiap sekolah harus memiliki pedoman resmi tentang kegiatan lapangan yang mencakup langkah-langkah keselamatan, jumlah minimal pendamping, serta prosedur koordinasi dengan pihak berwenang setempat. Dengan adanya regulasi yang lebih jelas, diharapkan setiap sekolah dapat lebih berhati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan di luar kelas.
Tragedi di Pantai Drini adalah pengingat yang menyedihkan akan pentingnya keselamatan dalam setiap kegiatan sekolah. Semua pihak, mulai dari sekolah, orang tua, hingga pemerintah, harus bekerja sama untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Keselamatan siswa adalah tanggung jawab bersama yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, harus ada perubahan sistemik dalam penyelenggaraan kegiatan luar sekolah agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Jika semua pihak berkomitmen untuk mengutamakan keselamatan, maka kegiatan sekolah di luar kelas tetap bisa menjadi pengalaman yang berharga tanpa harus mengorbankan nyawa siswa yang tidak berdosa.
Penulis: Wardah Tri Wandini
NIM: J1401231063
Kelas: Q1