Metro – Komunitas Briker Mania (KOBRA) Kota Metro menggelar rembuk pekon terhadap Kamsari (50) atau yang akrab disapa Abah atas kata-katanya yang diduga telah menghina KOBRA. Dimana Kamsari mengatakan semua anggota KOBRA pencuri pada rapat panitia pengajian akbar.
Ketua KOBRA Dicky Kusuma Wardhana menerangkan, kronologis kejadian terjadi pada, Sabtu (13/1/2018) saat warga beserta RW dan RT di seluruh Kelurahan Purwosari melakukan rapat panitia pengajian akbar di musala setempat. Pada saat itu salah seorang warga mengusulkan mengunakan KOBRA untuk membantu menjaga keamanan dan mengatur lalulintas diacara tersebut.
”Tetapi usulan itu disanggah oleh Kamsari yang mengatakan kalau briker itu maling semua. Dan salah seorang saksi mengatakan ke Kamsari yang akrab disapa Abah kalau jangan begitu bah, nanti bisa dilaporkan polisi karena pencemaran nama baik. Tetapi abah menjawab dia tidak takut,” terang Dicky via WhatsApp, Kamis (25/1/2018).
Kemudian, lanjut dia, beberapa saksi pun melaporkan peristiwa itu ke pihak KOBRA dan pihak KOBRA pun langsung melakukan investigasi ke lapangan untuk mendapatkan bukti-bukti dan saksi. Dilanjutkan dengan menggelar rembuk pekon, Selasa (23/1/2018) yang diikuti Babinkamtibmas, camat, dan lurah di Metro Utara menindaklanjuti dugaan kasus pencemaran nama baik yang dilakukan Kamsari terhadap KOBRA.
”Rembuk Pekon pun memutuskan untuk mengklarifikasikan tindakan pencemaran nama baik itu kepada yang bersangkuntan. Dan hasilnya Abah pun mengakui perkataanya dan berjanji tidak mengulanginya lagi,” jelas dia.
Dicky berharap, peristiwa tersebut tidak kembali terulang baik oleh Kamsari atau warga lainya. Jika kembali terulang, KOBRA siap mengambil tindakan tegas dengan melaporkan hal tersebut ke pihak berwenang.
”Dasar kami adalah karena KOBRA ini sosial, kami patroli malam hari, kami tidak dibayar, bahkan kami nombok beli bensin sendiri. Sampai saat bekerja kami masih mengantuk karena malamnya kami ronda. Kegiatan sosial lain kami bantu baik pemerintahan atau masyarakat. Jadi kami sebagai organisasi tidak terima dengan perlakuan segelintir masyarakat berbicara seperti itu. Harapan kami, masyarakat bisa mendukung semua kegiatan kami agar Metro menjadi kota yang aman dan damai,” tukasnya.
Senada diutarakan Camat Metro Utara Usman yang berhadap peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Karena KOBRA dan paguyuban di Metro Utara bersifat organisasi sosial yang sangat membantu masyarakat.
”Saat ini mungkin KOBRA bisa memaafkan perkataan yang bersangkutan. Tetapi kalau terjad lagi saya tidak bisa menahan jika KOBRA ingin melanjutkan ke ranah hukum. Saya harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” tutupnya. (Ga)