Metro – Belasan wali murid Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 1 Kelurahan Banjarsari Metro Utara ngluruk sekolah menuntut Kepala MIM Eka Fitri Hastuti mundur dari jabatannya, Senin (29/1/2018). Seruan tersebut lantaran diduga kepsek melakukan pungli terhadap pelajarnya.
Perwakilan Wali Murid Siti Komariah (29) mengungkapkan, kedatangan orang tua murid tersebut guna mempertanyakan soal pungutan sebesar Rp. 25.000 kepada setiap wali tanpa adanya musyawarah.
“Mau ketemu saja dengan kepala sekolah, ingin tanya yang pertama kenapa menarik uang Rp 25 ribu yang mengatasnamakan kupon berhadiah akhirat. Dan kenapa tidak melakukan musyawarah dulu kepada wali murid, kok tiba-tiba anak kita pulang sekolah dibagi itu satu-satu, dan kenapa guru-guru disini juga tidak tahu,” bebernya, Senin (29/1/2018).
Kedua, lanjut dia, kenapa setelah salah satu guru bernama Yuniarti yang menolak adanya pungutan tersebut malah dipindahkan dari sekolah. Padahal guru tersebut satu-satunya PNS yang mengajar di MIM 1.
”Kenapa bukanya ditambah kok malah dipindah. Yang ketiga dirasa sudah tidak sejalan dengan kepala sekolahnya, kami minta kepala sekolahnya di turunin,” kata dia.
Siti juga menyampaikan, pihaknya telah mengumpulkan 80 tanda tangan kesepakatan orang tua murid yang untuk meminta Kepala MIM mundur dari jabatannya.
“Kemarin kita juga sudah mengumpulkan tandatangan dan kurang lebih 80 wali murid menandatangani, meminta Kepala MIM 1 Banjarsari diganti. Dan insyaallah hari ini juga Ibu Wiwin Anggota DPRD disini langsung ke Kemenag, karena sebelumnya kami sudah sampaikan hal ini ke bu Wiwin,” ketusnya.
Hal senada disampaikan Mukidah (36), ia mengatakan apa yang telah di sampaikan Kepala MIM saat pertemuan tidak sesuai yang di harapkan.
“Sampai sekarang juga apa yang menjadi tuntutan kita belum ditanggapi dengan jelas dari kepala sekolah, malah muter- muter jawabannya. Padahal kita hanya minta penjelasan. Di dalam malah ada yang ngomong dan kita enggak tahu orang itu siapa, tapi setahu kami orang itu bukan guru disana,” kata dia.
Ia pun mengaku, kerap mendapat aduan dari anaknya terkait pungutan mengatasnamakan sumbangan yang setiap hari dilakukan pihak sekolah.
“Kok anak kita juga setiap hari dimintain duit yang katanya seiklasnya. Ya namanya anak-anak, kadang seribu kadang 500 dikasih. Tapi kok enggak ada kordinasi dengan wali murid. Dan Rp 25 ribu juga mau dipungut setiap bulannya. Bukannya kita keberatan, kita enggak keberatan dimintai segitu tapi kan caranya dong,” pungkasnya. (Ap)