Tabikpun.com – Tepat pada 19 Juni 2024 di salah satu cafe yang tidak jauh dari Villa Duta, Kota Bogor. Satu dari empat orang teman kami yang sedang menikmat kopi melontarkan omong kosong. Sebut saja Koko, yang kami tidak tau ada kandungan apa pada dua gelas kopi yang diminumnya, dengan tiba-tiba membuat rencana untuk pergi berlibur.
“Gimana kalo kita buat projek shoting, tapi gua ga mau kalo di Bogor, kita ke Thailand atau Bali aja, gimana?” ucapan yang kami bertiga pikir hanya omong kosong dan candaan.
Tidak kami hiraukan apa yang Koko ucapkan, kami lanjut menyeruput kopi dan membahas hal-hal lainnya. “Gimana guys, mau ga?” ucap Koko. Untuk kedua kalinya Koko mempertanyakan kejelasan rencana yang dia buat kepada kami.
Kami pun akhirnya membahas dan memberikan Keputusan untuk tetap melakukan shot projek tapi tidak perlu keluar kota, atau bahkan keluar negeri. “Kayanya gua ga bisa deh, belum ada dananya gua, nanti aja kalo udah kaya, wkwkwkwkwkw,” ucap saya dengan nada bicara bercanda.
Terlihat tawa dan dukungan dari dua teman saya, Rara dan Qiqi yang sepertinya setuju dengan apa yang saya ucapkan. “Eh serius mau ga, kita ke Bali aja deh satu minggu, gua yang bayar tiket pulang perginya, kalian siapin uang untuk hidup disana aja,” sontak kami bertiga memberikan ekspresi yang sama, ekspresi yang bahkan sulit untuk saya jelaskan.
Kami memasang raut wajah kaget sekaligus bingung, tetapi mempertanyakan, apa Koko benar-benar serius dengan apa yang diucapkannya. Tidak lama dari hening yang terjadi akibat ucapan Koko, kami melanjutkan obrolan. Kami membicaran soal rencana Koko, untuk melakukan projek sambil berlibur.
Diskusi dilakukan cukup lama, hingga saya memesan kopi kedua saya. Walaupun banyak perdebatan yang terjadi saat kami melakukan diskusi, pada akhirnya kami memutuskan untuk terbang ke surga terakhir bumi, yaitu Pulau Dewata Bali.
Perjalanan yang Tidak Pernah Terpikirkan
Perjalanan kami dimulai tepat pada 4 Juli 2024 dari Kota Bogor. Kami berangkat bersama menuju titik pertama kami, yaitu kediaman Qiqi di Tanggerang.
Perjalanan kami menuju Tanggerang berjalan lancar walaupun harus beberapa kali berhenti karena terjebak hujan yang cukup deras. Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam 30 menit menerjang hujan, akhirnya kami sampai di kediaman Qiqi.
Kami rehat sejenak untuk mengeringkan badan dan menikmati soto daging yang disuguhkan oleh ibu Qiqi. Setelah perut sudah terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan menggunakan taksi online menuju Bandara Soekarno–Hatta.
Perjalanan kami terasa sangat hangat dengan canda dan tawa yang tidak henti hingga kami sampai tujuan. Sesampai di Bandara kami langsung bergegas mengejar jadwal terbang yang hampir terlambat.
Setelah selesai pengecekan kami mendapat kabar buruk, TransNusa yang akan menerbangkan kami ke Bali harus delay. Tidak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa bersabar dan menunggu sambil menikmati makanan yang disediakan TransNusa sebagai kompensasi.
Setelah kurang lebih 4 jam menunggu akhirnya kami dapat melanjutkan perjalanan kami. Tidak banyak yang kami lakukan saat di dalam pesawat, mungkin karena waktu yang sudah menunjukan tengah malam, kami hanya tertidur hingga sampai ditujuan.
Sesampainya di tujuan, dengan mata yang masih terasa sangat berat, rasa lega dan senyum kami mulai terlihat. Tidak banyak obrolan yang terjadi kami langsung memesan taksi online menuju tempat penginapan kami.
Perjalanan menuju penginapan terasa sedikit aneh buat saya. Melihat jalanan Bali di malam hari yang sepi dan hening, memberikan atmosfer yang berbeda buat saya. Perjalanan tidak memakan waktu lama, kurang lebih 30 menit, kami sampai di penginapan kami di daerah seminyak. Tanpa perintah atau arahan apapun kami terlelap pada Kasur yang terasa sangat nyaman di malam itu.
Dua Hari Tenang
Setelah tidur lelap yang cukup Panjang, kami terbangun di siang hari, tidak banyak yang kami lakukan di hari pertama, Koko yang bukan pertama kalinya menginjakan kaki di Bali terlihat cukup santai dan terbiasa dengan lingkungan sekitar. Sedangkan saya, Rara, dan Qiqi mencoba menikmati suasana Bali yang masih cukup asing untuk kami.
Tidak lama motor sewaan kami sampai dipenginapan. Kami yang merasa bosan dengan suasana penginapan memutuskan untuk mengunjungi pantai terdekat, yaitu Double Six Beach.
Kami berangkat sore hari menuju senja. Karena jaraknya yang tidak jauh, perjalanan kami hanya memakan waktu sekitar 5 menit.
Sesaatnya sampai tentu hanya kami bertiga yang terlihat sangat kegirangan, sedangkan Koko hanya terlihat santai dan biasa saja. Sore itu kami bertiga menikmati sunset yang perlahan tenggelam di bibir pantai sambil sedikit bermain air dan berlarian, seperti sewajarnya orang yang pertama kali ke pantai.
Sedangkan Koko hanya menikmati bakso dan birnya sambil menjaga barang-barang kami. Kami pun menikmati keindahan pantai hingga gelap tiba. Hari kedua pun tiba, kami yang masih merasa lelah memutuskan untuk menikmati perjalanan terlebih dahulu.
Kami bangun di pagi hari dan memutuskan untuk melakukan kuliner di Pasar Ikan Kedonganan. Tidak memakan waktu lama untuk kami sampai di Kedonganan. Perut yang sudah terdengar keroncongan menggerakan kaki mengelilingi pasar kedonganan yang dipenuhi dengan berbagai jenis makanan laut yang terlihat segar.
Tanpa pikir panjang kami langsung membeli beberapa jenis ikan dan kerang yang langsung kami bawa ke tempat bakaran terdekat. Daging ikan yang masih segar dibakar tanpa banyak bumbu menciptakan rasa manis alami yang jarang sekali kami rasakan. Disisi lain kerang yang kami pesan dimasak dengan bumbu asam manis yang terasa sangat nikmat, ditambah dengan nasi hangat yang kami pesan, membuat mulut kami tidak mau berenti untuk mengunyah.
Sudah puas menikmati kuliner laut, kami langsung bergegas menuju destinasi selanjutnya. Uluwatu menjadi destinasi yang kami pilih setelah kulineran di Kedonganan. Perjalanan kami menuju Uluwatu di temani cuaca yang mendukung, langit terlihat sangat cerah dan matahari tertutup awan yang membuat udara terasa teduh dan nyaman.
Sesampainya di Uluwatu kami melanjutkan projek awal kami dengan melakukan beberapa shot video. Setelah selesai kami menikmat matahari tenggelam sambil mendengar gemuruh ombak yang menghantam tebing-tebing bebatuan.
Dari Dataran Tinggi ke Dataran Rendah
Hari ketiga kami di Bali kami mulai dari pukul 4 pagi. Perjalanan kami kali ini cukup Panjang, kami berangkat dari Seminyak menuju Kintamani, salah satu kecamatan yang ada di Provinsi Bali, tujuan utama kami tentu untuk menikmati sun rise sembari menyeruput kopi.
Dengan penuh semangat kami memulai perjalanan kami dengan jaket yang berlapis. Sesuai dugaan kami saat naik kedataraan tinggi di Kintamani udara semakin dingin.
Namun walaupun dengan udara dingin yang hampir tidak bisa kami tahan kami tetap menempuh perjalanan kami hingga sampai di tujuan. Sesampainya disana kami melakukan shot untuk keperluan projek kami.
Tidak lama setelahnya, matahari pun muncul, udara yang sebelumnya dingin kini menjadi sedikit lebih hangat. Kali ini hangatnya terasa beda untuk saya, udara dingin yang sebelumnya terasa mencekik tiba-tiba menghilang, mungkin karena matahari yang datang, mungkin karena kebersamaan, atau mungkin karena kopi hitam panas dan rokok terakhir yang saya bakar.
Saya juga tidak begitu mengerti. Matahari mulai naik ke atas kepala kami menyempatkan diri untuk mampir ke beberapa pura yang ada di Kintamani, salah satunya Pura Pasar Agung, tidak banyak yang kami lakukan disana, hanya mengambil beberapa shot dari keindahan pura yang di kelilingi oleh bukit-bukit yang terlihat sangat hijau.
Setelah itu kami langsung menuju penginapan dan menyudahi perjalanan kami di hari ketiga. Hari keempat kami mulai dengan Pantai Batu Bolong, setelah dari dataran tinggi kami pun kembali menuju dataran rendah.
Pantai Batu Bolong menjadi pantai yang cukup menyenangkan untuk kami, mungkin karena pantai ini memang jadi salah satu destinasi favorit yang ada di Bali. Banyak sekali pengunjung yang mendatangi pantai ini.
Kami menikmati vibes pantai ini dengan beach walk ditemani dengan gorengan pinggir pantai. Tentu sebelumnya kami sudah melakukan beberapa shot yang kami butuhkan untuk keperluan projek kami.
Menikmati Hari Terakhir di Bali
Tidak terasa sudah hari ke lima kami di Pulau Dewata ini. Hari terakhir untuk kami menikmati keindahan pulau ini. Kali ini kami melakukan perjalanan yang jauh di pagi hari.
Pantai Gunung Payung yang berada di Semenanjung Nusa Dua. Pantai ini sangat berbeda dengan Pantai Batu Bolong yang dipenuhi dengan wisatawan, sebaliknya pantai gunung payung sangat sepi pengunjung.
Saat sampai di pantai ini kami merasa seperti di dunia lain, hembusan angin yang kencang dan suasana yang sangat hening memberikan kesan yang cukup aneh untuk kami. Namun keheningan yang ada di pantai ini benar-benar memberikan kami ketenangan, kami menikmati pantai ini seperti milik kami sendiri.
Mencari ikan, bermain air, dan melamun dengan hembusan angin yang sangat kencang. Setelah puas menikmati suasana Pantai Gunung Payung ini, kami langsung bergegas menuju destinasi terakhir kami. Pantai Balangan, menjadi destinasi yang menutup perjalanan kami di Bali.
Pada destinasi terakhir ini tidak banyak yang kami lakukan selain menikmati keindahan pantainya. Kali ini kami berempat hanya duduk bersama menikmati sunset sambil membiacarakan hal-hal lucu yang kami lakukan empat hari terakhir. Ucapan terima kasih pun tidak henti saya berikan pada Koko sore itu. Mungkin tanpa ajakannya saya tidak akan merasakan keindahan dari surga terakhir di bumi.
Penulis: Muhammad Firhan Annaba Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB
NIM: J0401231122