Cafe Ditutup, Pemuda Ini Banting Setir Demi Bertahan di Tengah Pandemi 

Yoga sedang mengecat batangan sepeda untuk direstorasi dan dipasarkan pada pecinta sepeda-sepeda klasik. Tidak lupa, Yoga juga tetap menggunakan masker demi mencegah penularan Covid-19.  (Adi)

METRO – Imbas pandemi Covid-19 dirasakan semua sektor, terlebih terhadap sektor ekonomi. Bahkan, tak sedikit pengusaha harus gulung tikar.

Hal itu juga terjadi di Kota Metro, Provinsi Lampung. Seperti diutarakan  Yoga (40), Kafe Kayu Manis di Jalan Brigjen Sutiyoso No.7, Metro Pusat, Metro Lampung.

Pria multitalenta ini harus banting setir ketika awal pandemi masuk ke Indonesia, akibat kebijakan lock down saat awal pandemi memaksa dia untuk menutup usahanya. Dimana dalam beberapa hari cafe tersebut tak ada pengunjung, sampai akhirnya beliau mengambil sikap harus tutup sementara.

“Saat awal pandemi, khususnya pas penerapan lockdown saya sangat terpuruk mas. Beberapa hari buka, tapi tak seorang pun yang mengunjungi cafe saya,” ucap Yoga, Rabu (4/11/2020).

Beban ganda pun harus dirasakanya saat harus menyelesaikan hak gaji karyawan meski kafenya tidak beroperasi. “Yang bikin saya pusing, masih ada tiga orang karyawan yang bekerja, dan mereka tetap harus menerima gaji,” tambah Yoga.

Akhirnya muncul jalan keluar kesulitannya, yaitu memulai merakit sepeda untuk dipasarkan secara online. Ide ini muncul bukan begitu saja, mengingat dahulu Yoga sempat memiliki hobi mengoleksi sepeda klasik jenis Federal, dan setelah tutupnya kafe beliau langsung merestorasi sepeda jenis Federal.

“Melihat goes menjadi tren di pandemi, dan kebetulan saya dulu pengoleksi dan pecinta sepeda klasik. Saya melihat peluang yang besar jika saya mulai lagi merestorasi sepedah jenis federal untuk dipasarkan,” kata Yoga saat diwawancarai tabikpun.com.

Tidak tanggung-tanggung, Yoga membeberkan bahwa hasil yang diperoleh di luar ekspetasi, bahkan peminatnya pun bukan hanya yang berdomisili Lampung.

“Terhitung dari awal saya mulai merakit sepeda, sudah 14 yang terjual. Ini benar-bener membantu, karena harganya pun berkisar Rp 3-4 juta per sepeda,” tutur Yoga.

Diakhir cerita, Yoga mengatakan bahwa sepeda Federal memiliki kesan tersendiri untuk pencinta sepeda klasik. Sampai saat ini bisnis sepeda berjalan dan kafenya kembali buka, tentunya dengan standar mamatuhi protokol kesehatan (prokes).

“Begini, Mas. Memang kalau dilihat sepeda jenis Federal ini tidak sebagus tampilan sepeda-sepeda jenis baru seperti saat ini. Tapi, sepeda ini punya kesan tersendiri bagi pecinta klasik. Maka dari itu, target pasar saya seluruh Indonesia. Saya bersyukur juga, saat ini cafe berjalan lancar dan restorasi sepeda masih berjalan,” pungkas Yoga. (Adi)

Redaksi TabikPun :