Tulang Bawang – Dunia pendidikan Kabupaten Tulang Bawang tercoreng lantaran sikap arogansi oknum Kepala SDN 1 Penawar Baru Kecamatan Gedung Aji Kabupaten Tulang Bawang (Tuba).
Berawal saat wartawan tabikpun.com datang untuk mengawasi pekerjaan rehab ruang kelas di SDN 1 Penawar Baru namun tidak dapat bertemu dengan Kepala Sekolah karena sedang tidak berada di tempat. Akhirnya Kepala Sekolah pun dihubungi Tamsur salah satu guru di SD tersebut melalui sambungan telepon.
Tetapi tanpa sebab yang jelas, melalui sambungan telepon yang dimode loudspeaker (pengeras suara) Kepsek itu langsung mencaci maki dengan kata-kata kotor dan mengajak duel wartawatan. Lantaran ingin mengetahui dan mengawasi rehab kelas di sekolahnya.
”Halo, sek mak (kemaluan ibu, red) kamu yah! Untuk apa kamu masuk ke sekolah saya? Dasar kampang kamu. Saya Nasron Kepala Sekolah, mau apa kamu dengan saya, kamu nggak ada hak untuk masuk ke sekolah saya. Mau itu anggaran pemerintah atau anggaran punya bapak kamu sekali pun, itu nggak ada urusannya dengan kamu. Silahkan mau kamu tuliskan saya nggak takut, saya ludahin nanti muka kamu anjing,” tantang Nasron bernada kasar bak preman melalui sambungan telepon tersebut.
Beberapa menit kemudian, oknum Kepsek itu pun memerintahkan guru melalui sambung telpon untuk mengusir waratawan yang sedang menghimpun informasi kepada para pekerja di ruang kelas yang sedang direhab.
“Pak kata pak Nasron nya silahkan bapak pergi dari sekolahan ini. Dan untuk para pekerja jangan memberikan informasi kepada mereka (wartawan). Kalau ditanya diam saja. Itu peritah dari pak Nasron,” ucap Tamsur menyampaikan pesan Kepsek.
Pantauan di lokasi, SDN 1 Penawar Baru mendapatkan rehan 3 ruang kelas yang tidak diperbolehkan diketahui berasal darimana dan berapa pagu anggarannya. Pasalnya, saat tabikpun.com berada dilokasi tidak dapat ditemukan papan informasi terkait pekerjaan tersebut.
Proses pengerjaan rehab ruang kelas pun diduga tidak sesuai dengan juknis maupun RAB yang telah ditentukan. Terlihat dari rehab ruang kelas tanpa melakukan peninggian pada dinding kelas dan rangka baja diduga tidak diganti untuk memperbesar keuntungan.
Tak hanya itu, panitia rehab sekolah pun diduga tidak dibentuk. Sehingga segala sesuatu langsung ditangani oleh Kepala Sekolah. Dugaan itu berdasarkan data yang dihimpun dari guru di SD setempat Tamsur dan Tri Wahyuni yang mengaku tidak mengetahui apapun tentang rehab yang sedang di kerjakan di sekolah ini.
“Kami nggak ada yang tahu pak soal rehab itu, berapa jumlah anggaran dan dari mana sumber dananya. Karena itu semua kewenangan kepala sekolah, selama ini juga kami memang belum di jelaskan tentang bangunan rehab ruang kelas ini. Lagi pula, kami nggak berani untuk mencari tahunya pak,” ungkap keduanya. (red)