METRO LAMPUNG- Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Metro memberi tanggapan terkait Pernyataan keluarga Alm Yohanes atas dugaan penolakan penanganan terhadap pasien gawat darurat Rumah Sakit (RS) setempat yang sempat viral beredar dalam rekaman video.
Kepala Dinas Kesehatan Metro, drg. Erla Andrianti menegaskan, bahwa fasilitas kesehatan maupun tenaga kesehatan dimanapun dilarang menolak pasien gawat darurat dengan alasan apapun.
Sementara, terkait viralnya video dugaan penolakan penanganan pasien bukan Covid-19 yang terjadi di salah satu Rumah Sakit di Metro tersebut, Erla mengaku belum mengetahui secara pasti kronologisnya.
“Rumah sakit tak boleh menolak pasien. Bahasa menolak itu saya kurang tau, tapi pasien itu bukan pasien covid sepertinya. Karena tidak terdata terkonfirmasi,” ucapnya saat dikonfirmasi melalui via telepon sekira pukul 14.52 WIB, Kamis (29/7/2021).
Erla menduga, tidak tertanganinya pasien gawat darurat hingga meninggal dunia tersebut akibat keterbatasan oksigen.
“Tapi kemaren karena terbatasan oksigen. Mungkin. Sehingga pasien tidak mau masuk. Mungkin begitu. Kalau itu, nggak ada laporan ke saya terkait penolakan. Itu kan versi dari keluarga pasien,” ucapnya.
Meski begitu, ia kembali menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk fasilitas maupun tenaga kesehatan menolak menangani pasien yang ingin menjalani perawatan.
“Semua prioritas untuk dilayani. Apalagi dalam keadaan kritis,” singkatnya.
Sementara, kabar beredar setiap calon pasien non Covid-19 yang ingin menjalani perawatan intensif dengan memanfaatkan fasilitas oksigen dari rumah sakit disodorkan blanko penanganan pasien Covid-19.
Ditanya terkait benar atau tidaknya informasi tersebut, Kadis Kesehatan Kota Metro mengaku tidak mengetahui informasi itu.
“Mungkin itu langsung tanyakan ke rumah sakit perihal teknisnya. Saya kurang begitu tau. Nanti takutnya salah. Saya tak tahu itu. Itu pihak rumah sakit yang tau teknisnya,” pungkasnya.
Sementara pihar rumah sakit saat dikonfirmasi para awak media belum memberikan tanggapan lantaran direktur RS sedang tidak ada di tempat serta susah dihubungi.
Sebelumnya, Yohanes Erlangga pemuda 27 tahun warga Jl. Banteng RT 39 RW 15, Kel. Hadimulyo Timur, Kec. Metro Pusat meninggal dunia diduga akibat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dari sejumlah rumah sakit di Metro.
Ia menghembuskan napas terakhir pada Rabu (28/7/2021), sekira pukul 16.00 WIB. Yohanes menjadi korban meninggal dunia di rumahnya setelah diduga mendapat penolakan penanganan dari empat rumah sakit di Metro dengan alasan penuhnya kamar serta stok oksigen kosong.
Keluarga korban, Yohanes menuturkan, pertama kali dilarikan ke RSUD Ahmad Yani Metro untuk meminta perawatan namun ditolak. Pihak RSUD Ahmad Yani justru menyarankan keluarga korban untuk menyediakan tempat tidur sendiri jika ingin dirawat di RSUD.
“Awalnya dibawa ke RSU Ahmad Yani untuk perawatan, tapi yang didapat justru penolakan dengan alasan rumah sakit, tempat tidur penuh serta oksigen kosong. Rumah sakit juga menyampaikan kepada keluarga jika mau dirawat agar membawa tempat tidur sendiri dari rumah,” ucap Ponijan, Paman korban.
Mendengarkan jawaban tersebut, keluarga korban melarikannya ke Rumah Sakit Permata hati namun kembali mendapat penolakan. Selanjutnya, korban Yohanes dibawa ke RS Azizah dnn terakhir ke RS Mardiwaluyo Metro namun tak membuahkan hasil.
Meninggalnya Yohanes akibat diduga tidak mendapatkan pelayanan kesehatan menyisakan kekecewaan dan duka yang mendalam pihak keluarga. Kepekaan pelayanan rumah sakit disayangkan, serta minimnya perhatian pemerintah juga dikeluhkan.
”Pemkot metro semestinya memperhatikan stok oksigen dan mencari solusi penambahan kamar meski bukan pasien Covid, kalau sudah meninggal gak ada guna lagi pak. Kita harap kepada pemerintah agar lebih peduli dan menjadi skala prioritas bagi warga metro, agar ini tidak terulang lagi menimpa pasien lainnya,” tandasnya.
Diketahui, berdasarkan keterangan keluarga korban, Yohanes memiliki riwayat penyakit paru-paru yang mengharuskan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit. ( Adi/Red)