Kisah dibalik Keramaian Bogor Street Festival Cap Go Meh 2025

Muhamad Aditya Nursyahbani, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media IPB University. (Ist)

Tabikpun.com – Rabu, 12 Februari 2025, menjadi hari yang saya nantikan. Bersama empat teman, saya berencana mengunjungi Bogor Street Festival Cap Go Meh di Suryakencana, Bogor. Seusai kuliah, sekitar pukul 14.30 WIB, kami berjalan kaki dari Mall Botani Square menuju lokasi acara.

Suasana sore itu cukup cerah, dan antusiasme kami terasa membuncah. Saya berjalan paling depan, memastikan perjalanan kami aman sambil terus mengingatkan teman-teman untuk menaruh tas di depan dan menjaga barang bawaan.

Maklum, acara seperti ini biasanya penuh sesak dan rawan kehilangan barang. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri untuk berfoto. Berjalan kaki bersama sambil bercanda membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Kami juga melihat sekeliling, jalanan mulai dipadati orang orang, kendaraan melaju perlahan akibat kemacetan, dan para pedagang sibuk menata dagangan mereka. Aroma jajanan kaki lima mulai menggoda hidung, dari bakpao hangat hingga sate yang dipanggang serta ciri khas asapnya.

Warna-warni dekorasi khas Tionghoa dan lampion merah yang bergelantungan menambah suasana khas perayaan Cap Go Meh. Festival Cap Go Meh di Suryakencana benar-benar meriah.

Parade budaya dengan berbagai kostum tradisional dari berbagai etnis turut memeriahkan jalanan. Penampilan barongsai dan liong yang enerjik membuat suasana semakin hidup, diiringi bunyi tabuhan tambur yang menggema di udara.

Selain itu, pedagang kaki lima menjajakan aneka makanan khas, mulai dari kue keranjang, bakpao, hingga berbagai hidangan tradisional lainnya. Tersedia juga banyak spot foto menarik dengan dekorasi khas Tionghoa, lampion merah bergelantungan, serta ornamen-ornamen yang menambah keindahan festival ini.

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, kami tiba di depan Lawang Suryakencana. Saya segera mengeluarkan ponsel dan mengabadikan gerbang ikonik tersebut, menikmati setiap detail arsitekturnya yang khas.

Namun, ketika teman-teman saya berniat masuk ke area festival, saya memilih untuk tidak ikut serta. Kerumunan yang begitu padat membuat saya berpikir dua kali.

Saya lebih memilih menikmati suasana dari kejauhan, berharap bisa tetap merasakan euforia festival tanpa harus berdesakan. Namun, kesenangan sore itu berubah menjadi petaka kecil.

Saat hendak meninggalkan area sekitar pukul 15.30, saya baru menyadari bahwa ponsel saya tidak lagi berada di tempatnya. Ironisnya, ponsel saya dalam keadaan baterai habis, membuat saya tidak bisa menggunakan fitur pelacakan ‘Find My’.

Dengan perasaan panik, saya segera menuju pos pengaduan kehilangan. Disana, saya mendengar kabar yang cukup mencengangkan, bahwa saya adalah orang kedelapan yang melapor kehilangan ponsel, padahal acara bahkan belum resmi dimulai.

Saya mencoba mengingat kapan terakhir kali saya memegang ponsel, tetapi suasana yang begitu ramai membuat saya sulit mengingat detailnya. Rasa kecewa dan kesal bercampur menjadi satu.

Teman-teman saya mencoba menenangkan, tetapi tetap saja, kehilangan barang berharga di tengah keramaian seperti ini bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Saya pun harus menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar ponsel tersebut sudah hilang tanpa jejak.

Setelah berusaha melapor ke polisi setempat dan juga panitia acara, saya memutuskan untuk kembali ke kosan saya untuk mencoba melacak di laptop saya yang masih terhubung dengan ponsel saya. Dibantu dengan teman saya, kami mencoba mengaktifkan fitur kehilangan dan mengunci ponsel saya.

Namun, hal tersebut tidak membuahkan hasil. Ponsel saya tetap tidak bisa dilacak dan dihubungi, seolah benar-benar menghilang tanpa jejak. Rasa pasrah mulai muncul, dan saya hanya bisa berharap jika ada orang baik yang menemukannya, ponsel itu bisa dikembalikan.

Dari kejadian ini, saya belajar bahwa di acara besar seperti festival ini, kewaspadaan adalah hal yang sangat penting. Tidak cukup hanya mengingatkan orang lain untuk menjaga barang-barang mereka, tetapi saya sendiri juga harus lebih berhati-hati.

Untuk siapa pun yang ingin mengunjungi festival serupa, pastikan untuk selalu menjaga keamanan barang pribadi, menghindari tempat yang terlalu padat jika tidak nyaman dengan keramaian, dan lebih baik menggunakan tas dengan resleting yang aman.

Meski mengalami kejadian yang kurang menyenangkan, Bogor Street Festival Cap Go Meh 2025 tetap meninggalkan kesan mendalam. Acara ini tetap menjadi perayaan luar biasa yang menunjukkan keberagaman budaya di Indonesia.

Ke depan, semoga aspek keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjung semakin diperhatikan, sehingga festival ini bisa dinikmati dengan lebih aman dan menyenangkan. Jika ada kesempatan untuk datang lagi, saya pasti akan lebih siap dan tentunya lebih berhati-hati dalam menjaga barang pribadi.

Penulis: Muhamad Aditya Nursyahbani

Prodi: Komunikasi Digital dan Media IPB University

Redaksi TabikPun :