Sukabumi – Sebuah kota di Jawa Barat yang terletak di antara Bandung dan Bogor, Sukabumi terkenal dengan pesona alamnya yang sangat luar biasa. Terletak di dataran yang tinggi membuat kota Sukabumi menjadi banyak sekali memiliki tempat wisata yang bertemakan alam yang terbuka, salah satunya adalah di bawah langit selabintana.
“Di bawah langit selabintana” terletak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Sukabumi, Selabintana menawarkan keindahan alam yang memanjakan mata dan memberikan suasana yang tenang, sehingga cocok menjadi tempat untuk destinasi berlibur yang ideal bersama keluarga atau pasangan.
Pemandangan yang indah, suasana alam yang sejuk, serta dikelilingi oleh pohon-pohon pinus membuat tempat ini menjadi salah satu tempat yang cocok untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas sehari hari. Salah satu hal yang menjadi daya tarik “Di bawah langit selabintana” adalah area padang rumput yang luas berwarna hijau serta udara yang sejuk, menjadikan tempat ini cocok untuk melakukan piknik.
Dikelilingi oleh kawasan yang masih asri, pepohonan yang rimbun, serta area yang luas yang ideal untuk melakukan berbagai kegiatan untuk menghabiskan waktu yang berkualitas bersama keluarga atau pasangan. Perjalanan ke Selabintana, Menerjang Terik Matahari dan Hiruk Piruk Kota Sukabumi Waktu itu, di hari libur yang cerah di hari minggu, dengan banyaknya pertimbangan yang telah dipikirkan, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju salah satu tempat yang cocok untuk melarikan diri sejenak dari rumitnya dunia, salah satu tempat yang cocok untuk melakukan istirahat setelah berjuang sepanjang minggu yaitu “Di bawah langit Selabintana”.
Setelah menyelesaikan segala rutinitas yang selalu ku lakukan di hari libur, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan ke “Di bawah langit Selabintana” dengan pikiran yang matang serta tubuh yang ingin mendapatkan istirahat, aku memulai perjalanan ku. Setelah semua rutinitas di hari libur selelai dilakukan, waktu telah menunjuk angka 12 yang menandakan sudah saatnya aku pergi.
Segala hal aku persiapkan dengan matang, dimulai dari makanan, minuman, alas untuk piknik, serta pakaian tebal dan sarung tangan untuk menerjang teriknya matahari di siang hari. Menggunakan sepeda motor berwarna hitam kesayanganku, aku memulai perjalanan, melewati kampus tercinta serta jalan raya yang berdebu serta gersang dikarenakan terik matahari membuatku memikirkan kembali niatku untuk pergi. Namun, tanpa sadar aku telah tiba di pusat kota Sukabumi.
Pemandangan yang penuh dengan bangunan, cuaca panas yang menyengay sampai ke kulit, serta polusi dan suara kendaraan yang khas, telah menjadi salah satu hal yang selalu dirasakan setiap kali pergi menuju pusat kota. Pada perjalanan yang aku lakukan kali ini, aku benar benar mengeluarkan usaha ekstra untuk menghadapi hal hal menyebalkan di pusat kota, terik matahari, macet di akhir pekan, polusi dari kendaraan, semuanya aku lewati demi menuju “ Di bawah langit Selabintana”.
Perlahan lahan suasana kota sudah menghilang sedikit demi sedikit, suara berisik kendaraan yang tadinya sangat mengganggu kini sudah menghilang, cuaca yang panas dan menyengat perlahan lahan telah berubah menjadi hawa sejuk menandakan bahwa aku telah keluar dari pusat kota dan tiba di Selabintana, desa tempat “Di bawah langit Selabintana” berada. Semakin dekat aku dengan tujuan ku, pemandangan kota yang tadi aku lewati telah digantikan oleh pemandangan perdesaan, jalan yang semakin menanjak dan berkelok menimbulkan perasaan tidak sabar untuk mencapai tujuan.
Rumah demi rumah kulewati, melintasi perdesaan yang masih penuh dengan penduduk serta suasana yang makin lama makin sejuk, membuat diriku perlahan lahan merasakan kegembiraan. Aku terus melaju dengan penuh rasa gembira serta rasa tidak sabar untuk sampai di tempat tujuan, pemandangan pedesaan serta rumah rumah warga perlahan lahan berubah menjadi pemandangan pepohonan, pakaian tebal dan sarung tangan yang tadinya berfungsi untuk melindungi dari hawa panas kini telah menjadi pelindung dari hawa yang dingin.
Aku terus melaju, terus melanjutkan perjalanan ku hingga aku bisa melihat batas pintu masuk ke tempat yang aku tuju, suara kendaraan yang aku dengar di pusat kota kini telah berubah menjadi suara penjaga pintu masuk “A, satu orang harga tiketnya 15.000 a” . Lala, Si Kucing Penghuni “Di Bawah Selabintana” Setibanya aku di pintu masuk “Di bawah selabintana” aku langsung menuju tempat parkir untuk meletakan motor kesayanganku, begitu motorku sudah aku letakan aku langsung berjalan menuju tempat istirahat serta tempat pelarian yang telah aku nantikan.
Jalan yang tadinya terbuat dari aspal serta beton perlahan terlah digantikan oleh rerumputan hijau yang lembut, bangunan yang telah dilewati telah berubah menjadi padang rumput yang luas yang memanjakan mata, angin sepoi sepoi serta udara yang sejuk seketika membuat rasa lelahku menghilang. Setelah semua rasa lelah yang telah kurasakan telah mengihilang dan digantikan dengan perasaan bahagia, aku langsung melihat sekitar untuk mencari tempat yang cocok untuk istirahat, setelah beberapa saat aku melihat lihat aku menemukan sebuah spot yang menarik perhatianku, yaitu di bawah pohon pinus.
Setibanya aku di tempat tersebut, aku langsung membuka barang bawaanku, aku mulai meletakan alas yang sengaja aku persiapkan untuk piknik, setelah tempat piknik ku siapkan sedemikian rupa aku langsung merebahkan dan mengistirahatkan badanku yang lelah di atas alas yang kubawa serta di bawah langit selabintana. Pemandangan yang dipenuhi pepohanan, angin sepoi sepoi yang membuat udara semalin sejuk, membuat waktu terasa sangat lambat.
Disaat aku sedang menikmati mengistirahatkan badanku yang lelah tiba tiba aku mendengar suara seekor kucing yang seperti sedang kelaparan “meong meong meong” membuatku merasa iba dan memutuskan untuk membuka bekal makanan yang aku bawa dan membaginya sedikit. Aku meraih tas yang kubawa dan mulai mengeluarkan makanan dari tas itu, belum selesai aku membuka kotak bekalku, kucing itu perlahan mulai mendekat seakan dia tau bahwa aku berniat untuk memberinya makan.
Kucing yang memiliki motif belang kini sudah tiba di alas piknik ku, makanan yang tadinya ingin aku makan sendirian kini aku bagikan sedikit kepada kucing kelaparan tersebut. Badannya yang bersih, matanya yang berwarna hijau, serta tubuhnya yang mungil membuatku mulai mengamatinya dan membuatkan memutuskan untuk memberikan sebuah nama panggilan untuk kucing tersebut, yaitu “lala”.
Lala, seekor kucing kelaparan yang aku temukan di selabintana, seakan ingin mengucaplan terimakasih karena telaheemberikan makanan dan tau bahwa aku sendirian membuat dia terus menetap dan tidak pergi daro sampingku. Aku yang tadinya memutuskan untuk mengistirahatkan badanku dan melakukan piknik seorang diri di selabintana, sekarang sudah tidak sendirian lagi. Lala sekarang berada disampingku, menghabiskan siang hari yang panjang ini sambil menemani ku menikmati pemandangan yang jarang aku rasakan ini.
Waktu demi waktu berlalu, langit yang cerah kini kian menggelap, barang barang yang tadinya telah keluar dari tas yang aku bawa kini telah rapih kembali kedalam tas, menandakan sudah waktunya aku berpisah dengan lala dan pulang kembali ke kehidupan ku yang biasanya.
Aku beranjak pergi dari tempat pikniku, pergi menuju tempat motor kesayanganku aku letakkan. Aku langsung menaiki motor ku, aku langsung menyalakan mesin motorku dan langsunh memulai perjalanan, pemandangan yang tadinya dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun perlahan lahan berubah kembali menjadi bangunan bangunan, hawa sejuk yang tadinya terasa kini merlahan mulai menghilang, menandakan aku telah meninggalkan selabintana.
Suasana kota mulai kembali terasa, polusi, macet, dan berisik kendaraan mulai terdengar, jalan raya dan kampus yang tadinya membuatku sedikit bimbang telah aku lewati sekali lagi yang menandakan akhirnya hampir sampai ke tempat ku pulang. Kini aku telah tiba didepan gerbang berwarna biru tua yang sudah usang, aku telah kembali ke kehidupan ku yang seperti biasanya.
Penulis: Balya Yudha Zakaria Supriyatno