Tabikpun.com – Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) adalah program beasiswa dari pemerintah Indonesia yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk mengikuti program mobilitas internasional ke perguruan tinggi luar negeri selama satu semester dan merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Namun, program IISMA tersebut digadang-gadang akan dibubarkan pada tahun 2025 ini setelah berjalan selama kurang lebih empat tahun lamanya.
Isu pembubaran IISMA tersebut bermula ketika surat terbuka karyawan Kampus Merdeka yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto serta kepada eks Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim yang menginisiasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) beredar di media sosial. Surat terbuka tersebut pertama kali diunggah oleh akun @MbkmTeaSpiller di platform media sosial X (sebelumnya Twitter).
Isi dari surat terbuka karyawan pengelola Kampus Merdeka meliputi tuntutan yang ingin disampaikan seperti: Usut dugaan kolusi dan nepotisme, usut dan audit penuh divisi Human Capital, hingga usut praktik perbudakan dalam Tim Pengelolaan Kampus Merdeka, kemudian karyawan juga meminta agar program Kampus Mengajar, Magang & Studi Independen bisa terus dijalankan dan dikembangkan secara tanggung jawab, lantaran terbukti mampu berdampak positif dan memiliki manfaat yang baik untuk para mahasiswa.
Tak hanya itu, isu pembubaran IISMA semakin menguat ketika beredar postingan berisi tangkapan layar WhatsApp yang menyatakan bahwa IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards) terancam bubar dan karyawan pengelola program Kampus Merdeka tidak digaji bahkan telah dibubarkan sejak 31 Desember 2024 yang diunggah oleh akun @anantemasosial pada 7 Januari 2024 di platform media sosial X.
Kedua postingan tersebut pun menuai berbagai perdebatan di antara warganet. Banyak yang menentang pembubaran program IISMA karena dianggap mampu menyediakan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk berkuliah di luar negeri. Namun, banyak pula yang menilai bahwa program IISMA memang sudah sepantasnya dibubarkan karena dinilai tidak memiliki output dan urgensi yang jelas dengan anggaran yang sangat besar.
Rekam Jejak IISMA
Dilansir dari laman resmi IISMA (iisma.kemdikbud.go.id), program IISMA telah memberangkatkan 1980 awardees dan 4542 alumni yang menyebar ke 28 negara dan 126 universitas luar negeri. Sepanjang tahun 2020-2022, program ini telah menghabiskan anggaran sebesar Rp399,43 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai berbagai kebutuhan para awardees, seperti biaya pendaftaran, biaya kuliah di luar negeri, biaya hidup, biaya transportasi, biaya visa, asuransi kesehatan, tiket pesawat dan dana darurat.
Adapun, besaran bantuan yang diterima peserta berbeda-beda tergantung dari negara tujuan. Besaran dana juga dipengaruhi oleh durasi program yang ditetapkan universitas tuan rumah. Beberapa peserta yang dikirim ke wilayah Eropa bisa memperoleh uang saku IISMA hingga 1.000 Euro atau sekitar Rp17,5 juta. Jumlah ini tentu berbeda dengan peserta yang dikirim ke negara lain, seperti di Asia, Australia, atau Amerika. Dengan anggaran yang begitu besar, awardees IISMA menjalani kehidupan selayaknya mahasiswa pada umumnya.
Awardees mengikuti kelas-kelas perkuliahan, bersosialisasi dengan teman sebaya ataupun tenaga pendidik, mengikuti workshop ataupun kegiatan pertukaran budaya, hingga tur keliling kota. Namun, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh awardees tersebut kerap kali menuai kritik di media sosial sebab dianggap hanya ‘jalan-jalan’ dengan menggunakan uang milik negara.
Warganet berpendapat bahwa program tersebut tidak menghasilkan output yang jelas sebab ketika kembali ke Indonesia, awardees ataupun alumni IISMA tidak berkontribusi secara signifikan terhadap perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat merasa bahwa program ini hanya membuang-buang uang negara untuk membiayai mahasiswa yang justru melenceng dari wacana ‘memperbaiki kualitas pendidikan’.
IISMA Salah Sasaran dan Tidak Inklusif
Program ini juga kerap kali menuai kritik dan menimbulkan diskursus di dunia maya sebab IISMA dianggap hanya mampu diakses oleh kaum menengah atas saja. Meskipun IISMA tergolong beasiswa yang bersifat ‘merit-based’, masyarakat menilai bahwa program ini tidak adil, terutama bagi masyarakat kalangan menengah.
Persyaratan administrasi untuk IISMA pun memerlukan paspor, visa, dan tes berbahasa Inggris seperti IELTS, TOEFL, atau DET yang tergolong tidak murah. Meskipun biaya-biaya tersebut akan di-reimburse ketika dinobatkan sebagai awardee (terkecuali biaya tes berbahasa Inggris), para pendaftar tetap harus merogoh kocek yang tak sedikit untuk mempersiapkan berkas-berkas tersebut. Hal ini menimbulkan stigma bahwa hanya orang-orang ‘berduit’ saja yang mampu mengakses program ini.
Meskipun, memang, IISMA tidak mempertimbangkan latar belakang dan kondisi finansial para calon pendaftar, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kelas menengah ataupun bawah harus bekerja jauh lebih keras agar dapat meraih kesempatan untuk berpartisipasi dalam program tersebut. Bahkan, salah satu warganet secara terang-terangan menyampaikan kritiknya terkait hal ini melalui akun X @elangcezaø, ia mengatakan “Hapus IISMA (program ‘nguliahin’ anak orang kaya ke luar negeri) wkwkwk yang mampu buat ngurus persyaratannya cuma yang mampu mampu aja.” Cuitan tersebut menjadi salah satu bukti akan buruknya stigma terkait program IISMA di tengah-tengah masyarakat.
Pembenahan atau Penghapusan
Terlepas dari berbagai kontroversi mengenai program ini, masih banyak mahasiswa yang kerap mendukung keberlanjutan dari IISMA. Terdapat beberapa pihak yang menganggap bahwa IISMA merupakan program yang mampu memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi mahasiswa Indonesia. Banyak yang beranggapan bahwa IISMA mampu membantu meningkatkan kompetensi awardees IISMA dan mengenalkan mereka ke sistem pembelajaran yang ada di luar negeri.
Terdapat pula pihak yang mendukung keberlanjutan IISMA, namun dengan berbagai saran untuk pembenahan, seperti terdapat adanya pengabdian masyarakat atau ‘transfer-knowledge’ yang dilakukan oleh awardees IISMA setelah berkuliah di luar negeri dan kembali ke Indonesia. Di lain sisi, pihak-pihak yang mendukung penghapusan IISMA berpendapat bahwa anggaran IISMA sebaiknya dialokasikan untuk pemerataan pendidikan di Indonesia, terutama mengingat bahwa pendidikan yang berkualitas masih sulit untuk diakses di beberapa daerah. Mereka beranggapan bahwa IISMA belum bersifat urgent untuk saat ini dan menilai bahwa pemerintah seharusnya mampu menggunakan dana tersebut untuk menyejahterakan lebih banyak pelajar Indonesia dalam mengenyam pendidikan yang berkualitas.
Terlepas dari pandangan pro dan kontra yang beredar di masyarakat terkait penghapusan IISMA, diharapkan pemerintah mampu membuat program yang sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia sehingga program-program yang dibuat pun memiliki urgensi dan dampak yang jelas serta mampu dirasakan oleh masyarakat luas. Pemerintah sudah seharusnya menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam negeri, sebelum mengirim mahasiswa untuk mengemban ilmu di luar negeri, terutama hanya untuk kurun waktu yang singkat tanpa output yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas
Penulis: Maghfira Aulia Ramadhanti Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB