Persembahan Media untuk Seni Pemimpin

Pemimpin Redaksi Tabikpun.com Abdul Wahab. (Red)

METRO – Dalam suatu kota yang menjunjung nilai-nilai religius, pemimpin sejatinya ibarat penjelmaan kebaikan perpanjangan tangan malaikat. Bukan hanya mengingat jasa, tapi setidaknya membalasnya dengan tulus, minimal secangkir air putih sebagai ungkapan terima kasih. Tapi itu, jika ingat!

Ibarat amnesia, seolah justru menjadi syarat utama naik tahta. Melupakan jasa bukan lagi hal yang aib, tapi mungkin saja itu bukanlah strategi licik.

Suatu daerah kadang tak butuh Pemimpin sejati yang cukup seorang penakluk kotak suara saja. Asal banyak janji, punya logistik cukup, bermodal ramah, senyum yang tak pernah luntur meski janjinya kelak tak ditepati. Peperangan suara lebih mirip pesta pora demokrasi. Yang kalah tertunduk lesu, sebaliknya yang menang pun lupa asalnya.

Loyalist pun rela pasang badan dalam senyap meski dibayangi dilingkaran bola panas. Menahan cercaan demi sang calon jagoan yang tak ubahnya Pion dalam permainan Catur. Tentunya, usai kontestasi, mereka para punggawa disusun rapi dalam laci ingatan yang tak pernah dibuka dalam lembaran usang. Mungkin dalam jiwa seni memimpin, itu lebih senang memelihara citra daripada menjaga ikatan.

Hal ini tentu apa yang akan terjadi bila pemimpin berdiri di atas jasa yang ia ingkari? Tampak gagah di luar, tapi rapuh dalam kepercayaan. Perlu diingat, ibarat mendaki puncak gunung, tak hanya dengan kaki sendiri, tapi perlu tangan dan bahu orang lain dalam mencapai puncak. Ketika sampai di puncak, ia lupa dengan tangan dan bahu, dan dengan egonya lebih milih menikmati pemandangan yang takjub.

Kemenangan ternyata bukan soal angka semata. Namun lebih kepada tentang bagaimana seseorang bersikap setelah juara. Tapi banyak pemimpin yang seolah seperti pengantin baru. Hanya hangat di awal, lantas redup setelah bulan madu kekuasaan usai.

Mungkin ini yang dinamakan hambar. Itulah rasa kepemimpinan yang dibangun di atas lupa. Menanam kebahagiaan saat kampanye, lalu menuai kekecewaan setelahnya. Apa mungkin mereka lupa bahwa rakyat punya ingatan lebih tajam dan peka disaat mereka umbar janji politik. Dan pasukan yang kecewa, bisa saja menjelma jadi oposisi yang puitis.

Dengan harapan doa, penting dicatat bahwa; dirgahayu ke-8 Serikat Media Siber Indonesia (SMSI). Semoga selalu menjadi penjaga nurani, pengingat keras bagi mereka yang mudah lupa, dan pembisik kata bagi yang sedang mabuk kuasa. Perlu diingat bersama, bahwa media massa yang kritis, jujur dan terpercaya, adalah bentuk ibadah yang mulia.

Penulis: Pimpinan Redaksi Tabikpun.com Abdul Wahab

Redaksi TabikPun :