METRO – Ratusan hektare sawah di Metro terancam gagal panen akibat kekurangan pasokan air. Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro pun mengirim surat ke Balai Besar Provinsi menyampaika kondisi tersebut.
Kepala DKP3 Kota Metro, Herry Wiratno mengatakan, keluhan dari petani setempat membuatnya mengirim surat untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menerima pasokan air kembali.
“Kami sudah bersurat ke Balai Besar untuk diperpanjang lagi aliran air ke irigasi. Ada kebijaksanaan dari Balai Besar untuk membagi air agar kita tetap ada pasokan air. Namun dengan cara gilir. Karena tidak semua bisa dipenuhi dalam satu titik,” katanya kepada tabikpun.com, Selasa (24/8/2021).
Menurutnya, ada sekitar 500 hektare sawah di Rejomulyo yang bakal terancam. Namun belum dipastikan soal gagal panen.
“Nanti tergantung situasi ke depan. Saat ini kita masih bisa mendapatkan aliran dari bendungan Argogoro yang masih cukup, bahkan jika banyak hujan akan sangat bermanfaat bagi petani,” terangnya.
Tindakan itu dilakukan karena menurutnya potensi sawah di Metro sangat baik. Ia menyayangkan jika benar akan terjadi gagal panen.
“Nanti setelah Bendungan Way Sekampung sudah terisi penuh, pada bulan November aliran sudah normal lagi. Bahkan sudah masuk masa tanam baru. Yang Sekampung Batang Hari November sudah mengalir. Dan yang Sekampung Bunut Desember tanggal 1 sudah tanam lagi. Sehingga Maret panen lagi,” pungkasnya.
Sementara, Ketua Kelompok Tani Laksana Satu, Jumari (67) mengatakan, para petani setempat sebelumnya telah diberitahu soal penyetopan sementara aliran air. Namun tidak sedikit yang abai.
“Harusnya di bulan April sudah tanam, dan di bulan Juli bisa panen,” katanya di waktu yang sama.
Dia menjelaskan, keterlambatan tanam tersebut merupakan murni kesalahan dari para petani. Sebelumnya telah dilakukan pertemuan baik Kepala Poktan dan perwakilan petani.
“Bahkan dari Perairan Umum (PU) sampai dua kali melakukan penundaan penyetopan aliran irigasi. Tanggal 30 Juli dan 15 Agustus baru di setop. Petani pun langsung kebingungan karena usia padi masih 1 bulan,” ujarnya.
Dia mengaku, dalam keterlambatan tanam ada sebagian petani yang memegang tradisi, di mana pada saat sehabis panen harus mengistirahatkan lahan terlebih dahulu.
“Kemarin petani ada yang istirahat dulu. Bahkan ada yang sengaja menunda tanam karena ada hama tikus. Bahkan kemarin ada yang nekat tanam sendiri, dan tanaman nya habis di makan tikus. Tanam padi itu harus ada kekompakan antara petani satu dengan lainnya. Supaya tanaman tidak dimakan tikus,” tutupnya. (Adi Herlambang)