Tabikpun.com – Akhir tahun 2024 menjadi momen ketika saya dan keluarga sepakat memulai perjalanan ke salah satu negara di Asia Tengah, yakni Uzbekistan. Kami memilih negara yang merdeka 33 tahun lalu ini sebagai destinasi wisata setelah menelusuri keunikan budaya, kisah sejarah Islam, serta melihat foto-foto bangunan bersejarahnya di internet.
“Nak, Insya Allah akhir tahun ini kita sekeluarga jadi ke Uzbekistan. Bismillah ya, semoga Allah mudahkan,” ujar Bunda di telepon pada suatu malam.
Saat itu, saya tengah menyelesaikan tugas kuliah sembari berbincang dengannya. Mendengar kabar tersebut, rasa bahagia tak bisa saya sembunyikan. Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya menjelajah bagian dunia yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.
Melakukan perjalanan di akhir tahun menjadi pengalaman yang mengejutkan bagi kami sekeluarga karena bertepatan dengan musim salju. Lucunya, ini adalah kali pertama kami berlibur di musim salju dengan formasi lengkap. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri melihat foto-foto musim dingin di Uzbekistan, yang semakin membangkitkan antusiasme untuk segera tiba di sana. Segala persiapan pun mulai dicicil, mulai dari membeli coat, long john, sarung tangan, kaus kaki tebal, sweater, kupluk, dan perlengkapan lainnya.
Tak lupa, kami juga menyiapkan koper berukuran besar serta plastik vakum untuk menghemat ruang koper dan menghindari kelebihan berat bagasi di bandara. Tibalah hari keberangkatan yang kami nantikan. Kami menaiki pesawat Uzbekistan Airways dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kota Tashkent dengan waktu tempuh sekitar 9 jam. Pesawat dijadwalkan berangkat pukul 12 siang, sehingga saya dan keluarga sudah tiba di bandara sejak pukul 9 pagi.
Karena waktu keberangkatan yang berdekatan dengan waktu shalat Dzuhur, kami berusaha menjaga wudhu sejak dari bandara agar dapat melaksanakan shalat di dalam pesawat dengan duduk. Perjalanan pun dimulai, dan meskipun berlangsung selama 9 jam, rasanya tidak terasa lama. Walaupun saya sering merasa “jompo,” semangat liburan membuat saya tak merasakan pegal sedikit pun.
Selama penerbangan, saya dan keluarga menikmati perjalanan dengan menonton film, mendengarkan musik, dan bermain game yang tersedia di layar depan kursi kami. Pihak maskapai juga menyajikan makanan sebanyak dua kali. Meski hidangan yang disajikan merupakan makanan khas Uzbekistan dengan cita rasa rempah yang kuat, rasanya tetap bisa diterima oleh lidah kami sebagai orang Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan selama 9 jam, akhirnya kami tiba di ibu kota Uzbekistan, yaitu Tashkent. Begitu melangkah keluar dari pesawat, udara dingin langsung menembus coat yang kami kenakan. Saat itu, satu pertanyaan terlintas di benak saya, “Apakah saya akan sanggup menikmati liburan dalam cuaca sedingin ini selama tujuh hari ke depan?” Adik-adik saya langsung menunjukkan kegembiraan begitu tiba di Tashkent.
Meskipun pesawat mendarat pukul 19.00 waktu Tashkent (21.00 WIB), mata mereka tetap segar karena tertidur sepanjang perjalanan, sehingga sudah cukup beristirahat. “Dingin ya, Kak. Rasanya seperti baru keluar dari kulkas,” ujar mereka sambil meniupkan napas di udara yang berembun, seolah-olah sedang merokok. Setelah menyelesaikan urusan bagasi dan imigrasi, kami menuju restoran lokal untuk makan malam sebelum akhirnya berangkat ke hotel untuk beristirahat.
Yang unik, karena Uzbekistan memiliki empat musim, hotel tempat kami menginap dilengkapi dengan pemanas di lantai bawah kamarnya. Alhasil, meskipun suhu di luar mencapai 5 derajat Celsius, kamar tetap terasa hangat dan nyaman. Kami pun beristirahat, mempersiapkan diri untuk petualangan seru di negeri Jalur Sutra ini.
Plov, Gulai Kambing Uzbekistan
Hari pertama di Uzbekistan kami awali dengan menjelajahi ibu kota, Tashkent. Menurut Annisa Travel News, kota ini berpenduduk lebih dari 2,5 juta jiwa dan berperan sebagai pusat administrasi serta ekonomi Uzbekistan. Pada tahun 1865, kota ini bergabung dengan Kekaisaran Rusia dan kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet hingga akhirnya Uzbekistan meraih kemerdekaannya pada tahun 1991.
Rasanya tidak lengkap berkunjung ke suatu kota tanpa mencicipi kuliner khasnya. Oleh karena itu, saat waktu makan siang tiba, kami sekeluarga mencoba plov di sebuah restoran lokal. Hidangan ini merupakan perpaduan beras basmati, wortel, bawang, potongan daging kambing, telur puyuh, dan kismis yang ditumis dengan rempah-rempah khas Asia Tengah, menciptakan cita rasa yang menggugah selera.
Plov memiliki cita rasa gurih dengan aroma rempah dan daging kambing yang cukup kuat. Kehadiran kismis berfungsi sebagai penyeimbang rasa, sementara acar timun disajikan untuk menghindari rasa enek setelah makan. Hidangan ini tergolong berminyak dan disajikan dalam porsi besar di atas piring yang cukup lebar.
Selain itu, tersedia juga teh yang disajikan dalam mangkuk, bukan cangkir, sesuai dengan tradisi masyarakat setempat yang terbiasa menikmati teh dengan cara tersebut. Setelah menghabiskan satu porsi plov, perhatian saya justru teralihkan ke motif indah pada piring plov.
Polanya menyerupai bunga simetris dengan warna biru yang mencolok. Sementara itu, Ayah saya mendapatkan piring dengan motif segi empat simetris berwarna hijau, merah, dan kuning. Ternyata, Uzbekistan juga terkenal dengan kerajinan gerabahnya, yang dihiasi dengan berbagai pola simetris, geometris, hingga motif floral yang khas.
Museum Imam Bukhari
Perjalanan kami berlanjut dari Kota Tashkent menuju Kota Samarkand. Kota ini merupakan tempat dimakamkannya Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang menulis Shahih Bukhari, sebuah kitab koleksi hadits yang disusun selama 16 tahun (Adryamarthanino et al., 2021). Menariknya, Imam Bukhari bukanlah orang Arab, melainkan beliau adalah orang Asia Tengah yang mahir menghafal hadits dalam bahasa Arab.
Karena itu, pada zaman dahulu, ia dijuluki sebagai orang yang jenius. Waktu 6 jam di bus dari Tashkent ke Samarkand terasa cukup panjang, tetapi pemandangan di sepanjang jalan menarik perhatian. Pohon-pohon tampak gundul tanpa bunga karena musim dingin, dan mereka baru akan bermekaran kembali saat musim semi. Tour guide kami pun merekomendasikan untuk datang lagi ke Uzbekistan pada musim semi agar dapat merasakan suasana yang berbeda di negara yang sama. Setibanya di Kota Samarkand, kami langsung menuju Museum Imam Bukhari.
Begitu turun dari bus, udara dingin langsung menerpa. Saya pun merasakan bahwa Samarkand terasa lebih dingin dibandingkan Tashkent. Mungkin karena hujan baru saja turun, atau memang suhu di kota ini lebih rendah.
Tanpa berlama-lama, kami segera masuk ke dalam museum untuk mencari kehangatan. Saat memasuki museum, kami disambut oleh arsitektur interior yang menakjubkan. Ruangan pertama didominasi oleh warna putih dan emas, menciptakan kesan megah.
Di sana, seorang staf museum memberikan penjelasan singkat tentang sejarah museum dalam bahasa Inggris. Setelah itu, kami diajak memasuki ruangan kedua, yang berisi berbagai benda bersejarah.
Di ruangan kedua, kami melihat ilustrasi perjalanan Imam Bukhari dalam mencari ilmu. Ia memulai perjalanannya dari Bukhara, kota kelahirannya, lalu melanjutkan ke Mekkah, Madinah, Baghdad, Kufah, Basrah, hingga menetap selama beberapa tahun di Hijaz. Tentunya, pada zaman dahulu belum ada transportasi modern seperti pesawat atau kereta cepat untuk melintasi berbagai wilayah. Hal inilah yang membuat saya semakin mengagumi Imam Bukhari.
Betapa gigihnya beliau menuntut ilmu, menghadapi berbagai rintangan dengan tekad yang luar biasa. Bukan hanya itu, sebuah lukisan besar yang memenuhi satu dinding menarik perhatian saya, membuat saya penasaran akan maknanya.
Tour guide kami kemudian menjelaskan bahwa lukisan tersebut menggambarkan momen ketika Imam Bukhari diuji oleh 10 ulama Arab dalam kemampuannya menghafal hadits. Dalam ujian itu, hadits-hadits sengaja disusun secara terbalik untuk menguji ketepatannya. Namun, dengan ketajaman ingatannya, Imam Bukhari berhasil mengulang hadits yang telah diubah, mengoreksi kesalahan, dan membacakan versi yang benar tanpa kekeliruan.
Di museum, kami juga menemukan sebuah kitab hadits berukuran sangat besar. Kitab ini merupakan Shahih Bukhari, karya Imam Bukhari yang ditulis pada abad ke-18. Melihat kitab yang masih ditulis secara manual dengan tangan dan tinta membuat saya takjub—betapa luar biasanya karya ini dapat bertahan hingga sekarang dan tetap tersimpan dengan rapi. Kitab ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan keilmuan Imam Bukhari, tetapi juga bukti bahwa kejayaan Islam telah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu.
Setelah melihat berbagai properti bersejarah, kami langsung menuju restoran lokal terdekat untuk makan malam karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Liburan di Uzbekistan benar-benar menjadi pengalaman baru, terutama bagi saya dan adik-adik. Perjalanan—atau yang biasa disebut safar—bukan sekadar jalan-jalan atau menghabiskan uang, tapi juga mengajarkan banyak hal.
Dari perjalanan ini, saya belajar untuk lebih bersyukur atas segala kemudahan yang saya miliki serta melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bagi para pembaca, saya sangat merekomendasikan untuk mencoba winter trip (liburan saat musim dingin) setidaknya sekali seumur hidup. Sensasi yang dihadirkan begitu unik dan berbeda dari liburan di musim lainnya. Pernahkah kalian membayangkan udara luar sedingin kulkas? Atau menemukan krim pelembab di dalam koper terasa seperti baru dikeluarkan dari lemari es? Bagaimana rasanya berjalan di atas salju yang lembut atau bahkan membuat snowman sendiri? Jika ingin pengalaman liburan yang benar-benar berkesan, cobalah menikmati musim dingin di negara bersalju!
Penulis: Nadia Aliya Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB