www.tabikpun.com, Metro – Memasuki satu tahun kepemimpinan Achmad Pairin dan Djohan sebagai Walikota dan Wakil Walikota Metro mendapat sorotan berbagai pihak. Salah satunya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Metro yang menanti dapat terwujudnya Kota Metro sebagai kota pendidikan dan wisata keluarga yang jadi bagian terpenting dalam visi dan misi Pairin-Djohan (Padjo).
Ketua KNPI Kota Metro Affandi Atmanegara mengatakan, meski terlalu dini untuk menilai kinerja pemerintahan saat ini, karena hanya menjalankan anggaran yang sudah ditetapkan pada saat Pj Walikota. Namun KNPI yakin Kota Metro dapat lebih maju dan berkembang jika wisata keluarga segera terjadi di Bumi Sai Wawai.
”Walau pada rekrutmen eselon II, III, dan IV kemarin sesuai prediksi karena banyak impor pejabat. Tidak bisa disalahkan. Wajar, karena ASN harus siap ditempatkan dimana saja kan. Dan saya yakin visi misi Walikota tentang Metro sebagai Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga dapat terwujud. Tidak sabar KNPI menunggunya. Metro pasti lebih maju jika visi misi ini direalisasikan,” paparnya, Jumat (17/2).
Di bidang pendidikan, KNPI meminta Pemkot Metro dapat memperhatikan pendidikan formal saja, namun dapat memperhatikan pendidikan non formal dan informal. Karena kedua hal itu tidak kalah penting menjadi perhatian pemerintah.
”Perkembangan pendidikan menjadi pondasi tercapainya pemerintahan, bukan hanya sebatas pendidikan formal akan tetapi pendidikan non formal dan informal tak kalah penting. Selain itu pemkot harus berupaya keras mewujudkan wisata keluarga sebagai bagian dari pemasukan PAD. Karena PAD saat ini baru diperoleh dari pajak dan retribusi saja. Andai wisata keluarga ini berkembang dengan baik maka Metro menjadi tujuan wisata yang akan banyak di kunjungi oleh masyarakat di sekitar metro,” imbunya.
Sementara dari sektor ekonomi, sosial, dan budaya, Pemkot Metro mulai gencar mensosialisasikan pentingya pemberdayaan ekonomi kreatif dan kelompok usaha bersama. Dengan tujuan laju pertumbuhan ekonomi dimulai dari hal yang terkecil di lingkungan keluarga sehingga perkembangan ekonomi tidak lagi terpusat.
”Begitu halnya dengan perkembangan budaya, di Kota Metro sudah mulai nampak. Ada patung di pusat kota dan di Gedung Sesat. Walaupun pada proses berdirinya sempat mengalami perbincangan hangat akibat perencanaan yang kurang maksimal,” sindirnya.
Tata ruang kota pun harus menjadi perhatian Pemkot Metro, agar tidak terjadi penumpukan pembangunan yang terpusat. Juga mengkelolasisasi aset-aset pemkot agar termanfaatkan dengan baik dan penertiban agar Kota Metro lebih tertata.
”Semoga kedepanya proses penganggaran sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatan agar tidak terjadi kemubaziran,” tutupnya.(ga)