Tabikpun.com – Sawah Lenggek, yang terletak di kaki Gunung Sago, sering dijuluki sebagai “Bali”-nya Payakumbuh. Pemandangannya yang menakjubkan dengan sawah berundak seperti terasering di Ubud dan udara yang sejuk membuat siapa pun betah berlama-lama.
Sabtu sore itu, sepulang sekolah, kami ber-7 memutuskan menghabiskan waktu di sana. Dengan motor beriringan, kami menyusuri jalan menanjak menuju perbukitan.
Canda tawa dan angin sejuk menemani perjalanan kami, membuat waktu tempuh terasa begitu singkat. Sepanjang perjalanan, kami melewati hamparan ladang hijau, pohon-pohon kelapa yang bergoyang pelan, dan rumah gadang khas Minangkabau yang berdiri anggun di pinggir jalan.
Suara mesin motor yang berderu, sesekali bercampur dengan tawa kami yang tak pernah berhenti. Ada perasaan bebas yang sulit dijelaskan, seolah-olah semua beban hilang terbawa angin.
Begitu sampai di Sawah Lenggek, kami langsung disambut pemandangan yang membuat mata tak bisa berpaling. Sawah berundak yang hijau terbentang luas, mengalir mengikuti kontur bukit, dengan latar Gunung Sago yang menjulang gagah.
Rasanya seperti melihat lukisan hidup. Kami bergegas menuju salah satu gazebo kayu yang terletak di puncak pematang.
Gazebo ini terbuat dari kayu dan beratap, menawarkan pemandangan yang tak tertandingi. Duduk di sana, kami bisa melihat aliran irigasi kecil yang mengalir tenang di antara petak-petak sawah.
Airnya jernih, memantulkan cahaya matahari sore yang lembut. Tak lama, pesanan bakso kami tiba. Bakso di Sawah Lenggek memang terkenal, bukan hanya karena rasanya yang enak, tapi juga karena dinikmati dengan pemandangan seindah ini.
Mangkuk-mangkuk bakso beruap hangat, dengan kuah kaldu yang gurih dan bakso yang kenyal, sukses bikin perut kami makin keroncongan. Suapan pertama langsung bikin kami terdiam sejenak, saling pandang, lalu tertawa.
Enak banget, serius! Setiap seruput kuah yang hangat seolah bisa mengusir semua lelah dan dinginnya angin sore. Sambil menikmati bakso, obrolan kami mengalir tanpa hambatan.
Mulai dari cerita-cerita lucu, tugas-tugas yang menumpuk, sampai curhat soal perasaan yang biasanya cuma disimpan sendiri. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota ini, kami bisa jujur tanpa takut dihakimi.
Sesekali, angin yang lebih kencang berembus, bikin kami merapatkan jaket dan tertawa karena kedinginan. Momen-momen sederhana ini, tanpa sadar, jadi kenangan yang bakal kami ingat lama. Dari gazebo, kami bisa melihat sapi-sapi yang merumput tenang di petak-petak sawah yang lebih rendah.
Mereka sesekali mengangkat kepala, mengunyah pelan, seolah menikmati pemandangan yang sama dengan kami. Sapi-sapi ini dipelihara oleh penduduk setempat yang ramah, beberapa kali melambaikan tangan saat melewati kami dengan senyum hangat.
Suasana desa yang sederhana namun penuh keramahan ini bikin kami betah berlama-lama. Matahari makin rendah, sinarnya yang jingga jatuh di atas sawah menciptakan gradasi warna yang sulit dilukiskan.
Langit berubah jadi oranye keemasan, dengan awan yang memantulkan cahaya lembut. Kami berdiri di tepi gazebo, terdiam menatap pemandangan yang rasanya cuma bisa dilihat di film atau foto-foto wisata.
Beberapa teman sibuk mengabadikan momen ini dengan kamera, sementara yang lain lebih memilih menikmati dengan mata dan hati. Dalam hening yang nyaman, kami sama-sama tahu bahwa ini momen langka yang nggak bakal terulang persis sama.
Di sela-sela percakapan yang mulai mereda, kami mulai membahas rencana untuk kembali ke Sawah Lenggek suatu hari nanti. Rasanya, sehari di sini nggak cukup buat menghilangkan semua penat.
Sawah Lenggek adalah pemandangan yang indah serta memberikan ketenangan yang jarang bisa ditemukan di tempat lain. Saat langit mulai gelap, lampu-lampu kecil di sekitar warung makan mulai menyala.
Cahayanya yang kuning hangat memantul di atas air irigasi, menambah kesan magis. Kami menghabiskan sisa bakso dengan perlahan, seakan nggak mau cepat-cepat pergi. Angin semakin dingin, tapi obrolan kami malah makin hangat.
Ada perasaan puas yang susah dijelaskan, mungkin karena bisa menghabiskan waktu bersama sahabat dengan cara sesederhana ini. Perjalanan pulang terasa sedikit lebih sepi, dengan lampu motor yang jadi satu-satunya penerang di jalan setapak.
Tapi bukannya sunyi, kami justru saling bercerita tentang betapa pengen balik lagi ke Sawah Lenggek. Sepanjang jalan, kami masih membahas bakso yang enak, pemandangan yang indah, dan betapa damainya tempat ini.
Rasanya seperti mimpi singkat yang berakhir terlalu cepat. Di rumah, sebelum tidur, saya sempat membuka galeri ponsel, melihat foto-foto yang diambil sore tadi. Foto kami tertawa lepas di gazebo, mangkuk bakso yang masih beruap, dan latar sawah hijau dengan Gunung Sago di kejauhan.
Ada rasa syukur yang susah diungkapkan. Bukan cuma karena pemandangan indah atau makanan enak, tapi juga karena bisa berbagi momen itu dengan orang-orang yang bikin nyaman. Buat kami, Sawah Lenggek bukan sekadar destinasi wisata.
Lebih dari itu, tempat ini jadi saksi obrolan-obrolan panjang, cerita-cerita jujur, dan tawa yang nggak dibuat-buat. Sawah Lenggek adalah perwujudan dari kebahagiaan yang sederhana makan bakso di puncak sawah, dengan sahabat di samping, dan pemandangan hijau sejauh mata memandang. Kadang, bahagia memang sesederhana itu.
Penulis : Sultan Alif Rinaldi Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB
NIM : J0401231005