SMANO Galau, Lahirkan Atlet Berbakat Atau Siswa Umum

SMANO Lampung yang berdiri di Kota Metro.Redaksi

www.tabikpun.com, Metro Lampung – SMA Negeri Olahraga (SMANO) Lampung galau, sekolah yang diharapkan mampu mencetak atlet-atlet berbakat, malah tidak jelas akan membawa siswanya menjadi atlet berbakat atau siswa umum biasa.

Humas SMANO Lampung Syahbudin menjelaskan, siswa yang ingin masuk ke SMANO haruslah memiliki bakat pada cabor  sekolah yang berada di kawasan 24 Tejosari, Metro Timur itu, namun prestasi olah raga siswa tidaklah membantu nilai pada pelajaran umum.

”Pertama siswa harus berbakat pada cabor yang akan dipilih di SMANO, penilaian dilakukan oleh pelatih dari setiap cabor. Kemudian tes tertulis yang berisikan pengetahuan umum. Tetapi prestasi siswa di olah raga tidak membantu nilai mereka saat ujian akhir. Siswa tetap harus mendapatkan nilai yang bagus seperti sekolah umum lainnya. Karena belum ada regulasinya yang mengatur kalau siswa berprestasi dapat tambahan nilai, disini masih diterapkan seperti itu,” jelas dia.

Ia menambahkan, walau baru berdiri selama tiga tahun, telah banyak prestasi yang sudah diperoleh siswa SMANO dalam berbagai ajang olah raga di Provinsi Lampung. Namun tidak dapat dipungkiri, SMANO belum mendapat laporan jika siswanya menjadi atlet berbakat di kancah nasional.

“Kita sudah meluluskan sekali. Dari kabar yang kita dapat, ada yang melanjutkan ke Universitas Lampung, ada yang jadi tentara,” kata dia.

SMANO Lampung yang merupakan satu dari dua sekolah yang baru ada di Pulau Sumatera ini tidak mendapatkan dukungan anggaran bagi pembinaan serta evaluasi siswa setelah menerima latihan. Meskipun SMANO berada langsung di bawah kendali Provinsi Lampung, dan merupakan hasil MoU Kementerian Olahraga dan Pendidikan, yang sangat berbeda dengan sekolah-sekolah reguler pada umumnya.

“Akibat permasalahan biaya, para siswa pun tidak dapat bertanding. Kalau untuk biaya tanding enggak ada sama sekali. Ini kendalanya. Try out pun baru sekali sejak didirikan. Guru kita ada 22. Pelatih ada 11. Cukup. Cuma untuk tanding yang tidak ada. Try out pun kita tidak ada lagi. Enggak tahu kenapa,” terangnya.

Menurutnya, try out atau uji tanding keluar daerah sangat diperlukan. “Jadi kami kesulitan mengukur sejauh mana kemampuan siswa didik dengan siswa-siswa lain di seluruh Indonesia,” jelas dia.

Padahal fasilitas yang diberikan pada SMANO terbilang lengkap. Laiknya sekolah atlet. Mulai dari fitnes dan peralatan olahraga. Jam belajar pun berbeda. Jika pada sekolah reguler, siswa menempuh 45 menit pada tiap mata pelajaran, di sini siswa hanya belajar selama 35 menit.

Sisanya siswa belajar olahraga. Ada 11 cabang olahraga (cabor). Yakni sepakbola, silat, angkat besi, renang, voli, atletik, bulu tangkis, judo, karate, taekwondo, dan tenis meja. Jumlah siswa yang menempuh pendidikan pun dibatasi. Tidak lebih dari 150.

“Kita ada 145 siswa. Dari kelas 11 sampai 13. Itu pun disesuaikan dengan cabor. Jadi tidak menumpuk pada satu cabor. Dan semua mereka ditanggung. Dari makan sampai tinggal di asrama sekolah. Cuma bayar iuran OSIS Rp 75 ribu per semester,” terangnya.

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Kota Metro Nasrianto Effendi, menilai berdirinya SMAN Olahraga Lampung di Kota Metro patut diapresiasi. Karena sebagai kebanggaan Bumi Sai Wawai menjadi lokasi pembinaan para atlet usia dini, sesuai dengan visi misi kota pendidikan.

Namun, keberedaan sekolah keberbakatan tersebut harus menjadi perhatian khusus semua pihak. Terutama provinsi selaku penanggung jawab utama. Apalagi, seluruh SMA/SMK saat ini di bawah koordinasi provinsi, tidak lagi kabupaten/kota.

Artinya, berdirinya SMANO Lampung tidak hanya sekedar ada secara fisik semata. Tapi betul-betul ada sebagai wadah menciptakan atlet-atlet muda berbakat, yang siap tanding dan bermental juara.

Siap tanding karena atlet dibina atau dilatih secara khusus pada cabang olahraga masing-masing. Dengan fasilitas yang memadai. Sementara bermental juara adalah memiliki jam terbang pertandingan demi pertandingan.

Karena mendidika siswa olahraga dan siswa reguler tentu berbeda. Dengan demikian, yang dibutuhkan siswa SMANO Lampung selain sarana prasarana adalah uji coba dan mengikuti pertandingan.

Sehingga tingkat keberhasilan dari keberadaan SMANO Lampung dapat terukur. Baik siswanya (individu) maupun keberhasilan sekolah dalam mencetak atlet, sesuai dengan tujuan awal didirikannya SMANO.(ga)

Redaksi TabikPun :