Pringsewu – Warga umbulan Dusun Cipancur Pekon Way Kunir Kecamatan Pagelaran Utara Kabupaten Pringsewu diresahkan dengan berkeliaranya Harimau di kebun milik warga setempat. Pasalnya antara kebun dan pemukiman warga hanya berjarak 300 meter.
Kapolres Tanggamus AKBP Alfis Suhaili, S.I.K. M.Si., mengatakan, informasi awal Kapolsek Pagelaran AKP Heri Sugito melaporkan adanya Harimau memasuki perkebunan warga yang dilaporkan oleh Sekrataris Pekon Way Kunir, Sidik. Dan upaya Polres Tanggamus telah berkoordinasi dengan instansi yang berkompeten dibidangnya.
“Sekretaris pekon Sidik, menerangkan bahwa adanya Harimau diketahui dari warganya bernama Wahyudin (35) dan Sutrisno (40) yang memiliki kebun berjarak 300 meter dari Pekon Waykunir. Sekitar seminggu lalu, pukul 21.00 WIB Wahyudin melihat ada 2 ekor Harimau dikebun Jambu miliknya. Sementara Sutrisno sekitar Selasa kemarin malam 22.00 WIB melihat ada 4 ekor Harimau melintas di kebunnya,” tutur AKBP Alfis Suhaili, Kamis (14/12/17).
Menurut Sekteraris Pekon, lanjut Kapolres, Harimau diduga datang dari Hutan Kawasan Lindung. Warga pun meminta bantuan kepada pemerintah guna membantu pengusiran harimau karena warga menjadi resah dan tidak berani untuk naik ke kebun.
Terpisah Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Teguh Ismail, S.Hut., M.A., M.Eng, mengucapkan terima kasih kepada Polres Tanggamus yang telah memberikan informasi. Selanjutnya BKSDA akan melakukan konfirmasi langsung kepada masyarakat pelapor.
“Kami konfirmasi terlebih dahulu ke pelapor guna mendalami informasi. Sehingga lebih banyak data untuk memastikan jenis satwa liar. Apakah Harimau Sumatera atau jenis macan lain,” kata Teguh Ismail melalui sambungan telepon.
Setelah diketahui jenis satwanya dan informasi lain terkait potensi atau resiko konflik antara satwa liar dengan manusia, tentunya BKSDA dapat menentukan langkah yang terbaik sesuai prosedur mengenai penanggulangan konflik satwa liar dengan masyarakat. “Untuk tahap awal perlu diketahui lokasi hutan terdekat yang menjadi habitat alami satwa tersebut, dan penyebab satwa tersebut keluar dari habitatnya,” pungkasnya. (Nanang)