Bertahan Hidup di Masa Pandemi, Diky Jual Mie 

Diky Vernanda (22), penggiat UMKM Angkringan All Of Mie di Jl. Ahmad Yani Metro kembali bangkit pasca pandemi Covid-19. ( AW)

METRO – Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro sacara ketat lantaran Kota Metro masuk ke dalam daftar asesmen situasi Covid-19 tingkat 4 di Indonesia, tampaknya  membuat para pedagang kecil harus memutar otak mengais rezeki demi menafkahi keluarga mereka.

Pedagang di kota Metro Lampung misalnya, seorang remaja berusaha membantu kedua orang tuanya yang terdampak pandemi, dengan membuka kedai nongkrong yang menyajikan makanan dan minuman ringan. Dia adalah Diky Vernanda, remaja berusia 22 tahun itu berusaha bangkit di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia, namun tetap berusaha demi keluarganya.

Awal usaha  dirinya termotivasi dari hobi kerap kali berkongkow bersama rekan sejawatnya. Dari itulah warga Metro Barat itu mulai membuka usaha yang diberi nama Angkringan “All Of Mie”.

Brand All Of Mie ia beri nama, karena mereka  menyediakan makanan ringan khusus berbagai jenis mie instan dengan beragam toping yang bisa dipilih oleh pelanggan sesuka hati.  Usaha Diky terbilang baru, dirinya mulai merintis sejak pandemi mengahantui keluarganya untuk tetap bertahan hidup.  Pada 29 Juni 2021 buka, Angkringan miliknya beroperasi setiap hari mulai pukul 17.00 WIB hingga 23.00 WIB.

“Kita mulai buka jam 5 sore dan tutup jam 11 malam, karena pemberlakuan PPKM Covid-19. Bagi para pelanggan dapat memesan, jadi sebelum duduk bisa pesan mie dan topingnya sendiri lalu kemudian duduk dengan nyaman hingga pesanan kami antarkan,” jelasnya.

Bagi pencinta mie, Angkringan All Of Mie  beroperasi di Jl. Ahmad Yani, Kel. Iringmulyo, Kec. Metro Timur tepatnya di samping Bank Eka. Harga dijamin bersahabat, mulai dari Rp. 5.000, pelanggan tak perlu merogoh kocek mahal tentunya.

Suasana Peembeli menyerbu kudapan di kedai Diky Vernanda (22), di Jl. Ahmad Yani Metro yang mengais rezeki ditengah pandemi Covid-19.

“Kita menyajikan segala macam mie instan dengan harga mulai dari 5 ribu rupiah. Dan kita juga menjual berbagai jenis minuman ringan, dingin maupun panas. Menu andalan kita adalah mie instan dengan toping bakso, kornet dan keju,” terang Diky.

Ia mengaku, meski selama PPKM Mikro diperketat, rata-rata yang diperoleh keuntungan per harinya berkisar Rp. 200 Ribu. Harga itu sebenarnya terbilang rendah, namun Ia tetap bersyukur jumlah itu dicukup -cukupi untuk bertahan hidup di masa pandemi.

“Sejak PPKM diperketat ini, omset rata-rata 200 ribu rupiah. Karena pembatasan jam operasional jadi sedikit turun daripada seminggu saat awal kita buka, dibilang cukup, ya cukup lah mas, mau gimana lagi, keluh Diky.

Diky berharap pandemi segera berakhir, dan sektor UMKM di Kota Metro dapat bangkit kembali sehingga roda perekonomian masyarakat segera stabil. Dan ia menaruh pesan, agar masyarakat khususnya pedagang kecil jangan putus asa dan pandai-pandai menangkap peluang di masa pandemi, serta jangan lupa ikuti anjuran pemerintah untuk selalu patuhi protokol kesehatan. Jaga jarak, pakai masker, sering cuci tangan pakai sabun dan terapkan pola hidup bersih sehat.

“Semoga Covid-19 di Indonesia segera berakhir dan omset para pedagang seperti kami bisa meningkat,” pungkasnya.  ( red)

Redaksi TabikPun :