Dari Kota Hujan ke Pulau Dewata

Hamparan pasir putih dan birunya laut di Pulau Dewata memberikan kenangan tak terlupakan. (Ist)

Tabikpun.com – Pada suatu Senin di bulan November, kami mendapatkan suatu kabar gembira. Setelah menunggu berminggu-minggu lamanya, pemenang dari kompetisi yang kami ikuti pun diumumkan. Betapa terkejutnya kami ketika mengetahui bahwa kami meraih peringkat pertama dan berkesempatan untuk menghadiri acara puncak yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali.

Dalam kurun waktu tiga hari, kami menyiapkan semua yang kami butuhkan, mulai dari tiket pesawat hingga penginapan. Rencananya, kami akan berangkat pada hari Kamis, satu hari sebelum acara puncak dilaksanakan. Hari Kamis pun tiba, saat pukul 09.00 WIB, kami sudah siap dengan koper masing-masing. Langit Bogor cerah, tiada tanda-tanda akan turun hujan.

Kami pun tiba di stasiun Bogor dan langsung berjalan memasuki salah satu kereta yang bertujuan ke stasiun Manggarai. Dengan membawa-bawa koper yang cukup besar, pergerakan kami pun menjadi cukup terbatas. Untungnya, saat berada di kereta, kami mendapat tempat duduk sehingga kami tidak terlalu kerepotan dengan barang bawaan kami.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, kami pun tiba di stasiun Manggarai. Kami turun satu lantai dan berganti peron menuju tempat keberangkatan kereta bandara. Tak perlu lama menunggu, kereta bandara pun tiba sesuai dengan jam keberangkatan yang tertera di tiket, yakni jam 11.00 WIB. Sembari membawa koper, kami pun menuruni eskalator dan masuk ke dalam kereta tersebut. Suasana di dalam kereta bandara cenderung dingin. Kursi-kursinya tertata rapi dan terdapat pula tempat untuk menaruh koper yang terletak di ujung kanan dan kiri gerbong.

Kami pun menaruh koper kami di tempat tersebut dilanjutkan dengan duduk di salah satu kursi yang terletak di tengah-tengah gerbong. Tiga puluh menit kemudian, kereta pun tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kami pun beranjak dari tempat duduk kami dan lekas mengambil koper yang sebelumnya kami letakkan di ujung gerbong sebelum akhirnya keluar kereta. Selepasnya kami keluar dari kereta tersebut, kami harus melanjutkan perjalanan kami menuju terminal keberangkatan, yakni terminal dua.

Oleh karena itu, kami pun menggunakan skyline yang disediakan untuk mencapai terminal tersebut. Sesampainya di terminal, kami menuju ke gate keberangkatan dan melakukan check-in. Namun, karena penerbangan kami dijadwalkan pukul 13.00 WIB, kami pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba terdapat pengumuman bahwa penerbangan kami mengalami delay selama satu jam sehingga jadwal pun berubah menjadi pukul 14.00 WIB. Waktu pun berjalan dan tibalah jadwal penerbangan kami. Kami beranjak untuk segera memasuki pesawat sebelum akhirnya lepas landas meninggalkan Jakarta.

Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih dua jam, kami pun mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekitar pukul 17.30 WITA. Kami pun pergi ke area klaim bagasi bandara untuk mengambil koper-koper kami di conveyor belt. Sesudahnya mengambil koper, kami pun berjalan menuju pintu keluar bandara sebelum akhirnya memesan taksi online menuju penginapan kami yang terletak di kawasan Nusa Dua. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, kami pun sampai di penginapan kami yang berlokasi di Nusa Dua. Penginapan yang kami pilih merupakan sebuah homestay sederhana. Homestay tersebut berada di tengah-tengah pemukiman dan ternyata, pemiliknya merupakan pasangan suami istri.

Suasananya cukup tenang, terdapat beberapa kamar di lantai dua dan tiga yang terpisah dari rumah utama. Ornamen-ornamen khas Bali menghiasi pekarangan rumah. Kami pun menaiki satu per satu anak tangga untuk menuju ke kamar kami yang berada di lantai dua. Ketika masuk, di luar dugaan, kamarnya cukup luas. Ketika pintu kamar dibuka, langsung terlihat satu tempat tidur dengan ukuran queen size, satu lemari pakaian, dua nakas di kanan dan kiri tempat tidur, meja untuk bekerja, satu air conditioning, dan terdapat pula toilet yang berada di ujung kanan kamar. Kami pun meletakkan barang-barang kami dan istirahat sejenak sebelum memutuskan untuk membeli makan malam.

Setelah beristirahat selama satu jam, kami pun keluar dari penginapan untuk mencari tempat makan di sekitar. Tak lama kemudian, kami menemukan tempat yang menjual ayam bakar madu.Tak perlu lama berpikir, pilihan kami pun langsung tertuju ke tempat tersebut. Kami masing-masing memesan satu paket ayam bakar madu yang mencakup sepotong ayam, nasi, lalapan, serta sambal. Ketika pesanan sampai, kami langsung melahapnya dengan semangat sebab kami memang sudah kelaparan sejak lama. Sembari berbincang, kami menikmati hidangan tersebut dengan nikmat.

Seusainya kami makan, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan, Rencananya, pukul enam pagi esok hari, kami akan pergi ke tempat yang menjadi tujuan utama kami yakni Hotel Merusaka yang berlokasi di dekat Peninsula Island. Adapun, kami pergi ke sana di waktu yang tergolong masih sangat pagi adalah karena kami ingin menyaksikan matahari terbit di dekat pantai. Saat jam menunjukkan pukul 23.00 WITA, kami pun pergi ke alam mimpi dan mengisi ulang energi untuk kegiatan esok hari. Bahkan sebelum matahari menampakkan dirinya, kami sudah terbangun dan bersiap-siap untuk acara siang nanti. Masing-masing dari kami bergantian untuk mandi dan melicinkan pakaian kami menggunakan setrika yang kami bawa.

Sembari bercakap-cakap, kami merias diri masing-masing dan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Sekitar satu jam kemudian, kami sudah siap untuk pergi. Kami memutuskan untuk memesan taksi online sebab tempat yang ingin kami tuju tidak berjarak terlalu jauh dari penginapan kami, hanya sekitar 20 menit perjalanan saja. Taksi online yang kami pesan pun tiba dan dengan cepat, kami pun langsung masuk ke dalamnya. Selama perjalanan, kami melihat pemandangan jalan Nusa Dua yang sangat berbeda jika dibandingkan Bogor ataupun Jakarta. Udaranya bersih dan jalanannya pun bebas dari sampah. Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, kami pun tiba di tujuan kami yakni kawasan Peninsula Island.

Kawasan tersebut bisa dibilang merupakan kawasan wisata yang berada di pinggir pantai dan dikelilingi berbagai hotel ataupun resort. Ketika kami sampai di sana, suara deburan ombak memenuhi indera pendengaran kami. Sementara itu, kanan dan kiri jalan setapak dipenuhi oleh pepohonan yang cukup rimbun. Terdapat beberapa orang yang sedang berjalan-jalan atau lari pagi. Kami pun mengikuti jalan setapak untuk menuju ke pantai. Pantai tersebut bernama Pantai Mengiat. Dengan hati yang riang, kami pun berjalan santai menuju ke pantai tersebut. Karena masih pagi, pantai masih sangatlah sepi.

Hanya terdapat beberapa orang yang jalan kaki di pinggiran pantai. Sebagai kenang-kenangan, kami pun menyempatkan diri untuk memotret beberapa foto. Entah itu pantai, pepohonan yang rimbun, ataupun taman bunga yang indah. Setelah sekitar dua jam berjalan di sekitar pantai, perut kami pun mulai menggerutu sebab kami juga belum sempat sarapan. Alhasil, kami mencari tempat sarapan yang sederhana di sekitar pantai. Pilihan kami tertuju kepada seorang penjual yang berjualan di tepian pantai. Tempatnya sederhana, hanya ada meja dan bangku kayu yang akan digunakan kami untuk menyantap makanan kami nantinya. Sebab kami sudah sangat kelaparan dan tak banyak pilihan lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk membeli gado-gado.

Kami duduk di meja dan bangku kayu tersebut dan melahap gado-gado yang telah kami beli dengan lahap sembari melihat pemandangan pantai di pagi hari. Udaranya sejuk dan deburan ombak menghiasi telinga. Sungguh cara yang baik untuk memulai hari. Waktu pun nyaris menunjukkan pukul 11.00 WITA. Sudah saatnya kami pergi ke hotel yang menjadi tempat tujuan utama kami. Untungnya, hotel tersebut bisa diakses dengan mudah dengan jalan kaki melalui tepi pantai, hanya butuh waktu sekitar 15 menit bagi kami untuk sampai ke hotel tersebut.

Ketika kami tiba di kawasan hotel, sekeliling kami dipenuhi oleh pohon palem dan taman bunga yang indah. Bunga-bunganya mekar dan disinari oleh sinar mentari pagi, membuatnya terlihat semakin cantik. Kami pun menuju ke meja registrasi, tempat kami mendapat sepasang goodie bag yang berisi berbagai merchandise dari acara yang kami datangi yakni World Public Relations Forum 2024. Setelah melakukan registrasi, kami pun memasuki ballroom. Terdapat panggung besar dengan videotron yang nyaris mencapai langit-langit beserta ratusan tempat duduk di depannya. Acara pun akhirnya dimulai. Terdapat berbagai panelis dari berbagai penjuru dunia yang membahas mengenai dunia kehumasan. Tak hanya duduk terdiam mendengarkan orang bicara, kami bahkan juga disuguhi berbagai hidangan enak mulai dari appetizer, main course, hingga dessert.

Ketika waktu istirahat tiba, kami menyempatkan diri untuk mengobrol dengan peserta lainnya dan mengambil beberapa foto di photobooth yang telah disediakan. Setelah kurang lebih 6 jam, tibalah kami di penghujung acara yakni penyerahan plakat kepada pemenang. Kami pun dipanggil untuk naik ke atas panggung dan menerima plakat yang diberikan sekaligus melakukan sesi dokumentasi. Setelah penyerahan plakat, acara dilanjut dengan jeda sejenak sebelum ditutup dengan penampilan tari kecak yang akan diselenggarakan ketika matahari terbenam. Penampilan tari kecak dilakukan di sebuah amphitheatre yang letaknya tak jauh dari hotel.

Penampilan tersebut berlangsung selama kurang lebih 40 menit, mulai dari menjelang matahari terbenam hingga malam tiba. Atmosfernya sangat menarik, langitnya cerah dan tidak berawan, serta terdapat beberapa lilin yang menjadi sumber pencahayaan utama ketika malam tiba. Setelah penampilan usai, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan kami sebab hari itu merupakan hari yang cukup panjang. Sama seperti ketika berangkat, kami memesan taksi online untuk kembali ke penginapan. Sesampainya di penginapan, kami memesan makanan secara online dan mengistirahatkan diri sejenak sebelum akhirnya pergi terlelap. Hari selanjutnya pun tiba dan hari tersebut merupakan hari kepulangan kami.

Berbeda dengan keberangkatan, kami memutuskan untuk menggunakan bis saat kembali ke Bogor. Namun, karena kami berada di Nusa Dua, kami perlu pergi ke Kuta terlebih dahulu yang merupakan titik keberangkatan bis. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WITA, kami sudah berada di taksi online menuju Kuta. Kami menaruh barang di tempat keberangkatan bus, kemudian pergi ke kawasan Pantai Kuta untuk berjalan-jalan sejenak dan membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Tak banyak yang kami lakukan di sana, hanya berjalan di tepi pantai dan berbelanja beberapa hal untuk dibawa pulang sebelum akhirnya kembali ke titik keberangkatan bis. Sekitar pukul 12.00 WITA, bis pun berangkat untuk memulai perjalanan Bali-Jakarta selama kurang lebih 25 jam.

Bis yang kami gunakan merupakan bis kategori sleeper, sehingga cukup nyaman. Selain itu, kami juga sempat berhenti di beberapa kota seperti Semarang dan Banyuwangi untuk rehat sejenak dan menyantap makanan. Kami juga berkesempatan untuk menaiki kapal agar dapat menyebrang ke Pulau Jawa. Setelah 25 jam, kami pun tiba di Terminal Pasar Rebo, Jakarta. Kemudian, kami memesan taksi online ke stasiun terdekat yakni Stasiun Universitas Pancasila sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan Commuter Line menuju stasiun Bogor. Tibalah kami di Stasiun Bogor yang menandakan bahwa perjalanan kami dari Bogor hingga ke Bali sudah usai

Penulis: Maghfira Aulia Ramadhanti Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Redaksi TabikPun :