METRO – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusarda) Kota Metro launching program Ngobrol Seputar Literasi (NGOPI) di Gedung Dipusarda Kota Metro, Rabu (14/10/2020) lalu.
Kepala Dispusarda Kota Metro, Syachri Romadhon S.Sos., MM., mengatakan, ide program Ngopi berawal dari ngobrol santai sambil ngopi para ASN Dispusarda bersama beberapa teman-teman komunitas.
“Lewat suasana santai kami berdiskusi kecil yang memang kerap kami lakukan, membahas kondisi budaya literasi khususnya di Kota Metro,” tutur Syachri melalui WhatsApp, Senin (19/10/2020).
Syachri menambahkan, gerakan literasi nasional melalui Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti dan mulai digaungkan kembali tahun 2017, lalu kebijakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2018 lanjut menggulirkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
“Program tersebut merupakan sebuah pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan,” kata Syachri.
Sementara Dispusarda sebagai pengemban amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan memiliki fungsi pendidikan, penelitian, informasi dan rekreasi harus mampu menjawab berbagai permasalahan sebagaimana dikemukakan di atas.
“Dinas perpustakaan dapat menjadi tempat yang refresentatif bagi masyarakat dalam mengembangkan kemampuan berliterasi. Dalam rangka mewujudkan dan mengimplementasikan amanah undang-undang serta memberikan solusi dan menjawab permasalahan, maka dari situ disusunlah sebuah gagasan melalui program kegiatan NGOPI pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan daerah Kota Metro,” kata Syachri.
Program NGOPI, lanjut Syachri, merupakan strategi pengembangan layanan informasi dan aktivitas promosi untuk menarik minat baca masyarakat melalui talk show pembahasan isu-isu popular di tengah masyarakat bersama para narasumber yang kompeten di bidangnya.
“NGOPI adalah sebuah program pengembangan layanan informasi melalui dialog/ talkshow secara terbuka, interaktif, dan edukatif yang dikemas secara menarik dan menyenangkan,” tuturnya.
Ia menambahkan, program NGOPI hadir ditengah masyarakat untuk mengubah paradigma budaya literasi yang identik dengan membaca buku dan menulis menjadi budaya memahami, menganalisa, meggunakan dan mentransformasi teks.
“Program NGOPI yang digelar dengan mengusung tema isu-isu popular di tengah-tengah masyarakat diharapkan dapat memberikan pandangan-pandangan positif dan solutif terhadap isu-isu dan permasalahan yang berkembang di masyarakat tersebut,” ujarnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut dan sesuai amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan yang menyatakan bahwa perpustakaan dibentuk bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan yang terkelola sebagai sumber informasi berupa karya tulis, karya rekam, dan karya cetak, serta berfungsi membentuk masyarakat yang mempunyai budaya membaca dan belajar sepanjang hayat. (Msf)