Mesuji– Konflik secara sosiologis diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi, Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. Beragam persoalan tersebut konflik tentu dilatarbelakangi atas kepentingan.
Atas dasar itu, Gerakan Pemuda Mesuji menggelar diskusi tentang menangani masalah konflik sosial dengan menghadikan sejumlah narasumber yakni dimoderatori oleh Suwondo Alex, Danramil 01426 Mayor (ARM) I Ketut Subangga, Kasat Binmas Poltesta Mesuji Iptu. Dwi Cahyono, Sastrawan Lampung Isbedy Stiawan ZS, dan Eko dari GPM.
Menurut Isbedy, Penanganan konflik melalui pendekatan budaya bisa dijadikan altermatif untuk penyelesaian konflik sosial. Ia menyebutkan, penyelesaian konflik di Papua atau pun Poso dilakulan melalui budaya. Dengan pendekatan budaya, berarti menghargai identitas yang beragam.
“Kita dapat memanusiakan manusia. Itu yang terpenting,” katanya. Sayangnya, selama ini menyelesaikan konflik dengan cara keluatan dan kekuasaan, Akibatnya bukan malah reda, namun semakin membesar,” tambahnya. (02/04/17)
Selain itu perlu dihidupkan festival senibudaya secara rutin dan di laksanakan secara sungguh-sungguh.
Sementara itu, Dwi Cahyono menawarkan suatu daerah perlu adanya ikon, hal itu sebagai penanda atau identitas. Ia mencontoh kabupaten tetangga, Tulang Bawang Barat, yang sudah memiliki ikon: Komplek Dunia Akhirat.
“Tubaba juga sukses menggelar Selamatan Budaya. Padahal usianya sama dengam Mesuji,” ujar Dwi Cahyono.
Disisi lain, I Ketut Suwangga menilai konflik sosial terjadi karena masyarakat tidak memiliki pekerjaan. Entah karena malas atau peluang kerja yang sempit.
Oleh sebab itu, ia berharap melalui GPM dapat menciptakan peluang pekerjaan.
“Terpenting adalah kerja, kerja. “Orang yang tak bekerja cenderung berpikir negatif,” Jelas Ketut.
(Am/Billy)