METRO – Pandemi Covid-19 yang merenggut banyak jiwa rupanya memberikan rezeki tersendiri bagi profesi yang dijalani sebagian orang. Seperti yang dilakoni Antonius Kamijo, pria berumur senja yang sudah 15 tahun menjual peti jenazah itu mengaku saat ini sedang kebanjiran pesanan.
Kakek berumur 70 tahun tersebut menceritakan, dirinya dulu adalah seorang pekerja bangunan. Ia berpindah profesi menjadi seorang penjual mebel karena menurutnya bisnis tersebut lebih menjanjikan nilai ekonominya.
“Saya dari tahun 2006 sudah menjual peti jenazah dengan jenis kayu bayur. Sebelumnya kerja dibangunan, dan akhirnya buka mebel, bikin kursi, bikin lemari, dipan dll, jadi sekalian aja jual peti jenazah. Ya kalau ada yang pesen dipan kita buatin contohnya itu ada tinggal ngukir,” kisahnya saat dikunjungi tabikpun.com di rumahnya, Jalan AH Nasituon No 323 RT/RW 026/010, Kelurahan Yosodadi, Metro Timur.
Pria berambut putih itu menjelaskan, saat ini harga jual peti tergantung dari ukuran. Ada 3 jenis ukuran yang ia produksi, yaitu sedang, jumbo, dan super jumbo. Harganya pun ternilai ekonomis, mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 4,5 juta.
“Di umur saya yang sudah tua ini, saya mampu menghasilkan dua peti dalam seminggu, itu pun saya kerjakannya diselingkan dengan jemur padi,” beber Antonius.
Tidak hanya peti, ia memberikan paket lengkap siap pakai, karena di dalam peti yang dijualnya tersebut sudah tersedia patok, kaos tangan, kaos kaki, dan payung darurat.
Kepala keluarga yang memiliki 4 orang anak itu mengisahkan, dirinya pernah tidak ada orderan selama tiga bulan lamanya. Namun saat ini, ia sudah dikenal pihak rumah sakit sebab tingkat kematian di sana dalam beberapa waktu terakhir terus meningkat.
“Pada umumnya peti itu harganya yang paling rendah diluar kita 6juta-16juta, jadi lebih murah yg kita jual,” terang Antonius.
Saat ini, kata dia, rata-rata perbulan laku 4-6 peti. Namun, kalau orderan sepi, dirinya akan menyetok peti sebanyak 15 buah.
“Terus kalau setok ya produksi lagi. Untuk stok nyediain 15-16 peti, kalau udah laku bikin lagi,” pungkasnya. (Adi Herlambang)