www.tabikpun.com, Metro – Selain menyebabkan penyempitan jalur di Jalan Jendral Sudirman Ganjar Agung, terminal bayangan juga memiliki berbagai dampak negatif bagi keberadaan Terminal Mulyojati dan para penumpang.
Kasubag TU UPT Terminal Mulyojati Chandra Kurniawan mengaku, adanya terminal bayangan menjadi dilema. Karena membuat sepi penumpang yang menunggu di terminal, meski secara keamanan dan kenyamanan Muyojati telah memenuhi klasifikasi tipe B.
Dijelaskannya, untuk keamanan, Terminal Mulyojati dilengkapi petugas. Baik dari Dishub, TNI maupun Polri. Pun demikian dengan fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari loket, mushola, ruang tunggu memadai, toilet, lahan parkir, hingga tempat makan.
“Betul. Para penumpang justru banyak yang naik dari luar terminal. Di Ganjar Agung tepatnya. Dan kita pun bukan sekali dua kali menertibkan. Jadi memang tidak bisa dilihat dari satu unsur saja kenapa terminal bayangan bisa ada,” tukasnya, Selasa (31/1).
Menurutnya, ada sekitar 30 bus AKDP (antar kota dalam provinsi) yang berangkat dari Mulyojati setiap harinya. Tiap bus diberi waktu sekitar 10 menit untuk menunggu penumpang. Namun, rata-rata penumpang yang berangkat sangat sedikit.
“Satu bus itu paling dua sampai tiga penumpang yang jalan dari sini. Makanya itu tadi dilema jadinya. Supir kan sudah pasti tujuannya cari penumpang. Mereka setoran. Ini kenapa terminal bayangan jadi berkembang. Sementara penumpang tunggunya di jalan,” jelasnya.
Ia menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan bus menunggu penumpang di luar terminal. Pertama adanya akses lain. Yaitu bus yang menyambung ke daerah tetangga, seperti jurusan Lampung Tengah. Kemudian terletak di jalur utama.
“Belum lagi ada angkot yang juga menunggu di sana. Jadi penumpang lebih mudah. Tidak perlu ke terminal lagi. Dimana lokasi terminal lebih masuk ke dalam. Padahal di terminal pun ada angkot. Bukannya enggak ada akses,” imbuhnya.
Sejumlah penumpang yang ditemui tabikpun.com mengaku memilih menunggu di terminal karena alasan keamanan dan kejelasan.
“Ya kalau saya selalu di terminal kalau mau pergi kemana-mana. Karena kita beli tiket pun dari loket. Terus aman ya. Itu yang paling utama. Jadi lebih nyaman saja kalau nunggu di sini, ketimbang stop di jalan,” ujar Shinta, salah satu penumpang.
Aris penumpang lainnya juga mengakui hal serupa. Menurutnya, dengan membeli tiket di loket, keamanan dan kenyamanan lebih terjamin. “Lebih merasa plong saja. Jadi tiket kita itu kan ada jasa raharjanya. Jadi kalau ada apa-apa juga kita memang sudah tercatat kan. Ya memang kita mau lancar sampai tujuan. Cuma ya itu, lebih terjamin begitu,” ungkapnya.
Ketua Komisi I DPRD Metro Basuki meminta terminal bayangan harus bisa ditertibkan. Karena bisa berimbas pada fungsi Terminal Mulyojati.
“Kalau pemerintah tegas, maka penumpang pasti ikut masuk terminal. Ya kan sayang terminal sudah dibangun, akses angkot ada, ojek juga ada. Aman juga. Jadi tidak ada alasan sebenarnya. Ini kalau memang mau terminal enggak sepi ya,” tukasnya.
Basuki menyarankan, agar Dinas Perhubungan berkoordinasi dengan Polri untuk melakukan penertiban. Sehingga semua pihak sadar jika terminal dibangun memang sebagai fungsi untuk mengakomodir kemudahan tranportasi. Baik bagi penumpang ataupun bus itu sendiri.
“Terminal dibangun itu kan untuk kemudahan. Jangan malah dibolak balik. Penumpang gak perlu repot tunggu di jalan, ya ke terminal. Begitu juga bus, enggak perlu repot cari penumpang, cari di terminal. Kalau semua sadar, ya maju terminal kita. Dan untuk sadar itu perlu ketegasan,” tuntasnya.(ga)