Lampung Utara – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampung Utara menemukan dua suspek Difteri pada 2017. Suspek tersebut ditemukan pada warga Kelurahan Rejosari Kecamatan Kotabumi dan Desa Rejomulyo Kecamatan Abung Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Lampura Hj. Maya Metissa M.Kes., melalui Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Hj. Neli Kusrianti mengatakan, di 2017 ada dua kasus Suspek Difteri pada dua anak. Dua anak ini sebelumnya mengalami gejala-gejala seperti terkena Difteri yakni mengalami demam yang cukup tinggi ada pembengkakan kelenjar di leher dan batuk sehingga dibawa ke dokter, karena kondisinya semakin memburuk ke dua pasien dibawa ke Rumah Sakit Daerah H.M.Ryacudu Kotabumi untuk mendapatkan perawatan.
”Namun karena kondisinya semakin parah dan menimbulkan gejala Difteri akhirnya pasien dirujuk ke RS Abdoel Moelok Bandarlampung. Untuk itu Dinas Kesehatan Lampura mengirimkan Skrit hapusan lendir yang ada di tenggorakan ke dua anak tersebut ke Laboratorium Kementrian Kesehatan untuk mendapatkan kepastian. Dan setelah dicek ternyata hasilnya Negatif, karena itu kedua anak ini dinyatakan Suspek,” jelas Neli melalui sambungan teleponnya, Senin (29/01/2018)
Dikatakan Neli, ke dua anak yang dinyatakan suspek itu yakni, Fani Amelia Sugestin(6,5) warga Desa Rejomulyo dan Apriyando (7,5) warga Gang Srikandi Kelurahan Rejosari. Setelah di rujuk akhirnya Dinas Kesehatan Lampura melalui bidang P2PL melakukan penyelidikan Epidiomologi dengan mengunjungi tempat tinggal ke dua pasien.
Bidang P2PL kemudian melakukan pemeriksaan kepada keluarga dan tetangga pasien. Setelah melakukan pemeriksaan kepada 24 orang tetangga terdekatnya tidak ditemukan masyarakat yang mengidap gejala Difteri.
“Sebelumnya dua anak itu dirujuk ke Rumah Sakit Abdoel Moelok Bandarlampung karena harus di Isolasi dan Alhamdulillah sekarang sudah sembuh total. Pengecekan itu kita lakukan pada tanggal 3 Januari 2018 lalu,” jelasnya.
Masyarakat, harap Neli, harus mengenali Gejala yang ditimbulkan Difteri yakni suara serak, tenggorokan terasa sakit, nyeri saat menelan, demam, hidung berair, kesulitan untuk bernafas, adanya kelenjar getah bening di leher yang membesar atau membengkak, tenggorokan atau amandel tertutup oleh membran berwarna abu-abu, lalu demam dan menggigil.
Penyakit Difteri sendiri sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada 5-10 persen penderita. Penularan dapat dilakukan melalui percikan ludah yang keluar saat batuk atau bersin dan kontak langsung dengan permukaan kulit atau luka terbuka si penderita.
”Dapat dipastikan anak-anak mendapat imunisasi lengkap yakni 3 dosis imunisasi dasar DPT, HB dan Hib(Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis-B dan Haemofilus Influensa tipe b) pada usia 2, 3 dan 4 bulan. Kemudian Imunisasi lanjut DPT-HB-Hib saat usia 18 bulan, imunisasi lanjutan Difteri Tetanus bagi siswa SD kelas I, imunisasi lanjutan Tetanus Difteri untuk kelas II dan imunisasi lanjutan untuk anak kelas V SD.”Meski sudah dinyatanan postif terkena Difteri atau Suspek anak harus tetap di imunisasi . Hal itu dilakukan karena penyakit difteri tidak memberikan kekebalan pada penderitanya di masa yang akan datang. Setelah sembuh si penderita harus di imunisasi sesuai jadwal yang dilanjutkan,” himbaunya.
Untuk melakukan pencegahan ini Diskes Lampura akan melaksanakan ORI(Outbreak Response Immunization) yakni kegiatan imunisasi tambahan khusus di daerah yang mengalami kejadian luar biasa sebanyak tiga putaran dengan jarak antara dosis pertama dan ke dua yakni satu bulan. Kemudian diantara ke dua dan ke tiga adalah enam bulan dengan ketentuan imuniasai DPR-HB-Hib untuk anak usia 5 tahun imunisasi DT untuk anak usia 5 sampai 7 tahun dan imunisasi TD untuk anak usia lebih dari 7 tahun.
“Untuk ORI Insyaallah akan di laksanakan sacara serentak di 27 Puskesmas pada tanggal 6 dan 7 Febuari 2018 karena Vaksin sudah tersedia,” pungkasnya. (Adi)