Metro OPINI

Pendidikan dan “Sengkuni” Kekuasaan

Buyung Syukron, Dosen IAIN Metro

Tabikpun.com – Ingatkah kita dengan sengkuni? Tokoh pewayangan yang sempat populer dalam kancah perpolitikan kita beberapa tahun yang lalu. Sengkuni dalam dunia pewayangan adalah perlambang sifat antagonis, penuh kelicikan, keburukan dan kejahatan.

Sebenarnya Sengkuni memiliki kelebihan berupa ketangkasan, pandai bicara dan banyak akal. Namun kelebihannya ini sering disalahgunakan untuk memfitnah, menghasut dan mencelakakan orang lain.

Pertanyaannya adalah: “apakah “Sengkuni” saat ini sudah bermetamorfosis ke dalam dunia pendidikan? Tulisan ini memang diorientasikan untuk memaparkan tentang kegelisahan penulis terhadap realitas dunia pendidikan kita saat ini yang sudah mulai terkontaminasi dengan watak sengkuni dalam mengelola nilai-nilai luhur pendidikan.

“Sengkuni” Vs Nilai-Nilai Pendidikan

Visualisasi terhadap begitu mirisnya kekuasaan dalam pendidikan tergambar jelas ketika kita melihat pendidikan kita saat ini terkesan bukan lagi menjadi tempat membangun idealisme. Kekuasaan dalam pendidikan tidak lagi dasarkan pada sebuah tatanan nilai-nilai culture dan atmosphere academic yang berkesesuaian.

Pendidikan kita saat ini sudah menjadi sebuah fasilitas sekaligus ladang yang “empuk dan renyah” dalam meraih sebuah kekuatan dalam format “kekuasaan” yang terkesan “pragmatis”. Tidak bisa dipungkiri dinamika dan mobilitas pendidikan terkadang memunculkan berbagai benturan dan beragam kepentingan.

Sejatinya pendidikan adalah institusi sekaligus indikator instrumen suatu bangsa yang diharapkan menjadi trendsetter dalam menciptakan output akademik yang berkarakter dan berkualitas sebagai jawaban atas tantangan modernitas dan kemajuan yang dimunculkan oleh sebuah zaman. Ini menjadi sebuah keniscayaan. Pendidikan sebagai agent of change tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pendidikan yang diekspektasikan tampil dengan performance academic yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders pendidikan.

Pendidikan juga dikonsepsikan sebagai sebuah miniatur yang menjunjung tinggi demokratisasi dan otonomisasi dalam setiap “hela’an” aktivitas yang diembannya. Kesemuanya ini menunjukkan betapa pendidikan saat ini telah menjadi tumpuan seluruh dimensi dan sendi kehidupan Bangsa ini. Konsistensi dalam menjaga identitas dan entitas nilai-nilai luhur akademis menjadi sebuah pertaruhan yang membuktikan seberapa besar sebuah pendidikan turut serta membangun peradaban dan kemajuan sebuah bangsa.

Transformasi Kekuasaan Dalam Pendidikan

Dari gambaran pendidikan dan kekuasaan yang melibatkan seluruh aspek sebagaimana penulis uraikan di atas, maka timbul pertanyaan: apakah kekuasaan mempunyai tempat dalam pendidikan? Adakah kaitan erat antara pendidikan dan kekuasaan? Ataukah Justru karena adanya proses kekuasaan itulah terjadi proses pendidikan.

Hanya masalahnya ialah, apakah kekuasaan itu sesuai dengan arah dan proses pendidikan yang sebenarnya atau tidak? Jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut adalah: antara kekuasaan dan pendidikan yang sebenarnya adalah proses pembebasan dengan jalan memberikan kepada peserta didik suatu kesadaran akan kemampuan kemandirian atau memberikan kekuasaan kepadanya untuk menjadi individu yang berkualitas. (Faqih Muhammad, Kompasiana.com, 2012).

Pemberian kekuasaan atau empowerment dalam pendidikan seharusnya menganut faham dan karakteristik pedagogic transformatif. Kekuasaan dalam pendidikan harus menjadi pelita yang mampu menerangi manusia untuk mendapatkannya. Namun disisi lain, kekuasaan bisa menjadi penuntun manusia untuk saling menundukkan manusia yang lainnya. Atau dengan bahasa yang lain, kekuasaan dalam pendidikan menjadi alat “mendehumanisasi” manusia itu sendiri. Dengan pola ini maka sangat diyakini akan terjadi sebentuk perampasan kebebasan individu atau pressure yang kuat yang mengikat sebuah kebebasan individu pada suatu otoritas atau sumber kekuasaan di luar dirinya sendiri.

Kekuasaan dalam struktur dan sistem pendidikan kita menjelma menjadi monster yang menakutkan, tatkala kebijakan yang dirumuskan dihasilkan dari sebuah pola dan karakteristik yang yang tak terbantahkan atau yang dikenal dengan kekuasaan absolut.

Aktualisasi Kekuasaan dan Pergeseran Nilai-Nilai Pendidikan

Tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena menggeliatnya dunia pendidikan menentang arus kuat kekuasaan mulai terlihat. Fenomena demonstrasi pada institusi pendidikan kita belakangan ini pada akhirnya bermuara pada penolakan terhadap sebuah kesewenangan yang didasarkan pada kekuasaan yang tidak transparan dan transformatif.

Otonomisasi dan demokratisasi yang menjadi ruh dan marwah serta ghirah pendidikan seolah terbelenggu dengan kuatnya dibawah rezim kekuasaan. Munculnya perlawanan terhadap sebuah kekuasaan menunjukkan kepada kita bahwa telah terjadi “stupidity” dalam kekuasaan yang gagal dalam memahami, merespon, dan mengaktualisasikan kemuliaan nilai-nilai dan kultur pendidikan yang sebenarnya. Pada akhirnya pola ini akan membentuk jaringan hegemonitas kekuasaan yang didasarkan atas kepentingan dan cara pandang yang sama.

Sejatinya kekuasaan, adalah sumber kekuatan pendidikan (power of education) yang menjadi asset luar biasa dalam upaya membangun pendidikan yang berkualitas. Sinergitas diantaranya merupakan kekuatan yang harus saling menjaga dan saling membimbing. Kekuasaan merupakan karakter khas manusia untuk bisa berbuat sesuatu yang lain dari pada yang lain.

Dalam proses interaksinya terhadap alam dan lingkungan sosial, yang pada gilirannya dapat menaikkan kelas manusia tersebut untuk bisa mendominasi. Kekuasaan tidak boleh abai terhadap pentingnya posisi strategis demokrasi dalam sistem pendidikan. Kekuasaan harus dijalankan dengan cara yang demokratis, bukan dengan cara otoriter dan tidak berpihak kepada kepentingan komprehensif masyarakat pendidikan itu sendiri.

Dari kacamata awam tidak jarang kita melihat kekuasaan-kekuasaan menyelimuti pendidikan di dalam berbagai bentuknya. Kekuasaan tersebut dapat berwujud objektif atau terang-terangan atau juga dapat berwujud subjektif atau secara tidak disadari telah mengarahkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dikenal sebagai “hidden goals. Indikasi pergeseran nilai-nilai pendidikan saat ini menjadi tampak jelas ketika kekuasaan berjalan berlainan arah.

Sangat nampak dimana term posisi struktural dan fungsional dalam institusi pendidikan kita sudah menjadi ajang rebutan dan bancakan jabatan. Ketika jabatan itu berada pada pundak, maka yang terjadi adalah menjalankan fungsi dan wewenang sebagai sebuah aktualisasi kekuasaan.

Ketika pendidikan sudah menjadi bagian dari kepentingan meraih sebuah kekuasaan, maka tujuan dari pendidikanpun akan menjadi tidak jelas. Pendidikan tidak tahu kemana arah angin akan membawanya, jangankan ingin memberi angin segar bagi keberlangsungan suatu bangsa yang carutmarut, pendidikan yang demikian justru hanya akan menjadi agen kepentingan elit akademik, yang pada gilirannya tidak mustahil menjadi bom yang siap memporakporandakan bangsa dan pendidikan kita saat ini.

Kekhawatiran tersebut di tengarai oleh H.A.R Tilaar sebagai sebuah bentuk pembusukan tersistematis dalam dunia pendidikan. Hanya masalahnya ialah, apakah kekuasaan itu sesuai dengan arah dan proses pendidikan yang sebenarnya atau tidak? Kesan yang muncul saat ini adalah kekuasaan dalam pendidikan menjadikan pendidikan lebih ekslusif. Tidak bisa dihindari ketika orientasi kekuasaan telah menjelma dalam sistem birokrasi pendidikan, maka ada sebuah kristalisasi cerminan dari sebuah ekspresi yang negatif dari kekuasaan dalam pendidikan. Ekspresi tersebut sangat nampak dan dapat kita lihat misalnya dalam perubahan pendidikan pada masyarakat yang relatif masih tertutup. Ketertutupan (baca: eksklusifitas) tersebut menurut penulis memang dimunculkan sebagai bentuk konkret aktualisasi diri atas dasar kekuasaan yang dimiliki.

Penulis: Buyung Syukron, Dosen IAIN Metro

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: