Metro OPINI

Refleksi dan Memaknai 20 Tahuh Reformasi, ”Pemuda Itu Bagian Dari Gila”

Ketua PC IMM Harbi Gemeli Putra. (Ist)

Metro – Jika kita melihat 20 tahun lalu diantaranya catatan krisis, peristiwa berdarah, dan hilangnya Aktivis. Terjadinya Revolusi yang bergelora atas nama Kedaulatan rakyat inisiasi dari banyak kalangan pemuda dan mahasiswa pada 1997-1998 sampai Reformasi.

1 Januari 1998 puncaknya pemerintah mengalami Krisis, sehingga dampaknya pada kalangan marjinal (kelas ekonomi kebawah). Sembako yang tinggi, dicabutnya subsidi BBM oleh Presiden Soeharto.

Hingga meletuslah Peristiwa berdarah pada 12 Mei 1998, empat Mahasiswa Trisakti meninggal setelah bentrok dengan aparat, mahasiswa lainnya terluka. Pusat Ibu Kota Jakarta mencekam dilanda kerusuhan.

Hilangnya Para aktivis diantara nya Andi Arief, P Lustri Lanang, Desmond Mahesa, Aan Rusdianto dan Haryanto Taslam. Bagaimana peran Pemerintah dalam menyelesaikan Persoalan ini?

Itu semua refleksi, melihat, merasakan, peristiwa krisis moneter sampai pada reformasi, untuk menjadikan pelajaran kita semua. Upaya mengingat sejarah itu menjadi peran penting menghadapi masa depan Indonesia lebih berdaulat adil dan makmur, secara moral dan kesejahtraan berdikari pada negara sendiri.

Sampai pada yang terakhir, yang ingin penulis sampaikan disini adalah tentang memaknai peristiwa dari krisis moneter 1997. Kita mulai dari perkataan Rasululullah SAW, “Pemuda itu bagian dari Gila”. Dengan kegilaan nya ia mengadakan yang belum ada, dipahat nya batu, dibelahnya gunung, dikisarnya letak riwayat dan rasul sendiri di dalam seruan nya yang suci dan luhur senantiasa dikatakan oleh orang tua-tua pada masa itu bahwa ia gila. Pemuda-Pemuda indonesia itulah yang menolah hinaan, kedzaliman betapa sulitnya masyarakat merasakan krisis Moneter.

Saya terbangun kembali dari angan-angan, saya merasa menang karena kepada saya telah datang dua orang pemuda itu, pemuda angkatan kini, pemuda harapan bangsa, bahkan pembina Bangsa. Harus tangguh siapkan kualitas dirinya, sumber daya manusia, berdiri di garis terdepan dengan semangat dan bercita-cita yang senantiasa resah dan gelisah, yang tidak merasa puas, yang hendak memahat batu, yang hendak mengisarkan bukit, yang berkata “Inilah saya!”

“Sebelum mati bukankah hidup? Mengapa kita mesti mengingat mati saja, padahal kita yakin bahwa sekarang kita hidup? Bukankah sebelum melalui pintu mati kita mesti menjalani Hidup?

Saya tutup kutipan ini dengan cerita seorang wartawan mesir pergi menghadap Presiden Ismet Inonu, mengucapkan selamat atas jawatan beliau yang semula itu, menggantikan Bapak Turki, Attaturk.

“Apakah yang Tuan lihat di Ankara ini?” Tanya Presiden yang telah berusia 60 Tahun itu. “Semua muda, Republik Muda, Gedung-gedung yang masih muda, hatta kayu-kayuan yang ditanam di tepi jalan juga masih muda,” kata dia. “Dan, kami pun masih muda pula,” ujar Presiden dengan senyumnya.

Oleh karena itu, melihat wajah Reformasi 20 tahun lalu. Gerakan Pemuda sekarang ini, melihat beberapa kemenangan yang telah dapat kita peroleh lantaran semangat Pemuda yang Bergelora itu. Sehingga berdiri Republik Indonesia yang muda ini, patutlah kita semua ini, besar dan kecil, berubah atau belum. “Kami Pun masih muda pula”. Hai Pemuda semoga Allah akan memberikan Kemuliaan, Kejayaan, kepada tanah air kita berkat paduan semangatmu semuanya.

Penulis                      : Harbi Gemeli Putra

Editor                         : Angga Nurdiansyah

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: