Bagi warga Kota Metro Lampung mungkin sudah tidak asing lagi dengan Pasar Yosomulyo Pelangi atau akrab disebut Payungi. Pasar tradisional yang berdiri sejak 28 Oktober 2018 itu, sedikitnya dihuni sekitar 46 pedagang kecil dengan tampilan yang sangat kreatif dan menarik disetiap sudutnya.
Payungi bukan hanya sebagai tempat transaksi jual beli, namun konsep pasar pemberdayaan masyarakat ini dikemas dengan konsep edukasi dan literasi bagi siapa saja yang datang untuk meningkatkan pengetahuan. Mungkin tidak banyak orang tahu seperti apa tantangan yang harus dihadapi Pedagang Pasar Panyungi ketika dilanda masa Pandemi Covid-19 belakangan ini.
Berdasar hal tersebut, Tabikpun.com berinisiatif untuk menggali pengalaman pelaku usaha Pasar Payungi kala pandemi hadir saat ekonomi kerakyatan mulai tumbuh dan mampu menghidupi harus dipaksa mati suri.
Bukan hisapan jempol atau kabar burung belaka, suasana di Pasar Payungi sangat hangat dan bersahabat. Ramah tamah dan senyum bertebaran para pedagang menyambut siapa saja yang datang membuat pewarta yang kali pertama berkunjung tidak ragu melangkahkan kaki ke gerbang.
Sebelum memasuki lokasi pasar yang terletak di Jalan Kedondong, Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, Lampung, bisa terlihat imbauan dengan tegas berisi tulisan peringatan “Patuhi Protokol Kesehatan dengan Menggunakan Masker, Jaga Jarak serta Jangan Lupa Mencuci Tangan”. Peringatan tersebut ditulis di papan hitam, dengan tampilan kreatif, sangat sesuai dengan kabar bahwa Payungi adalah pasar kreatif.
Sambil melihat hiruk pikuk aktivitas jual beli, pewarta langsung menuju kediaman Dharma Setyawan yang tak lain Founder Payungi. Tepatnya setelah salat zuhur narasumber yang dicari pun dapat ditemui.
“Saya senang dan terbuka buat siapa pun yang ingin mengetahui tentang payungi atau untuk sekedar belajar,” ucap pria yang juga sebagai dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Metro memulai percakapan, Minggu (15/11/2020).
Di halaman rumahnya yang sejuk, beliau mulai bercerita dari pandemi Covid-19 yang datang pada awal Maret. “Saat hadirnya pandemi, itu menjadi momok dunia dan itu nyata. Itu jelas ada, dan masyarakat takut akan itu,” katanya.
Berjalan tiga bulan masa pandemi, Pasar Payungi yang sudah 2 tahun berdiri mengalami dilematis. Kebijakan yang dibuat pemerintah mengharuskan gelaran pasar yang diadakan seminggu sekali ini tutup selam tiga bulan demi mencegah penularan virus corona.
“April Mei Juni Pasar Payungi tutup, tercatat selama 12 kali gelaran, masyarakat Yosomulyo tidak melakukan aktivitas perdagangan. Setelah tiga bulan berjalan, saya berpikir, bahwa hidup gak bisa seperti ini terus. Hidup juga harus kreatif. Hidup harus bergerak. Maka, mulailah saya menyadari bahwa, ada hal yang harus saya kerjakan di masa pandemi. Kami mulai menanam sayur di bulan puasa penuh,” tutur Dharma.
Untuk mensiasatinya, saat gelaran tutup, masyarakat sekitar diajak untuk menanam sayuran organik agar bisa tetap bertahan di masa sulitnya. Dia menghimbau dan terus mengajak agar warga setempat harus tetap berkegiatan.
“Saya tetap mengajak ibu-ibu di sekitar untuk menanam sayuran organik, menitipkan dagang mereka di warung-warung, bahkan memberi edukasi ibu-ibu untuk berjualan online,” lanjutnya.
Hingga sampai fase dimana warga Payungi mengalami kebosanan dan tidak takut terhadap ketakutannya sendiri. ”Bukan tanpa alasan, karena orang butuh hidup, orang butuh makan, orang butuh duit,” jelas Dharma sambil mengingat kejadian.
Sampai pada 15 Juni 2020 Pasar Payungi buka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Bahkan jika ada pengunjung yang hadir tidak menggunakan masker, meraka dilarang masuk. Meskipun untuk memulai kembali bukan hal mudah, karena ia harus membangun semangat kolektif di tengah pandemi.
“Akhirnya kita bangun ulang payungi, kita promisi ulang dengan cara protokol dan kami gencarkan di sosial media kembali,” ulasnya.
Saat dibuka kembali, omzet pun turun drastis. “Biasanya dalam pegelaran, omset itu mencapai Rp 40-50 juta, Tapi saat dibuka kembali 15 Juni, turun drastis menjadi Rp 16.4 juta,” tutur Dharma. ”Dengan terus meningkatkan promosi dan bergotong royong, lambat laun penghasilan mulai stabil kembali,” tuturnya.
Menurutnya, setiap persoalan pasti ada jalan keluar jika dihadapi dan diselesaikan secara dewasa. “Kita harus mampu menjadi mediasi atas setiap masalah yang timbul pada mereka (pedagang),” ujar pria berkelahiran di Kota Gajah ini.
Untuk mengajak masyarakat membangun ekonomi kerakyatan juga bukan perkara mudah. Karenanya semangat yang ada pada diri kita harus melampaui orang-orang yang ingin diajak untuk membangun ekonomi kerakyatan.
“Jika semangat masyarakat pada umumnya 50%, kita harus 100%. Pada akhirnya,Payungi bisa seperti ini karena tangan banyak orang, bukan karena saya pribadi. Saya mungkin hanya pemantik dan propokator. Karena sejatinya, Payungi adalah semangat kolektif banyak orang,” cerita Dharma.
Diakhir perbincangan, Dharma menyebut jika peran setiap orang sebagai masyarakat sangat penting dalam membangkitkan ekonomi kerakyatan. “Sebagai warga negara, kita punya kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar. Sebagai penggerak, kita punya PR bahwa, ayok kita mulai jalani hidup dengan dengan optimis, ekonomi harus tetap tumbuh dan saya Alhamdulillah sudah melewati fase transisi itu,” tutup Dharma dengan senyuman.
Penulis: Adi
Editor: Angga















Add Comment