METRO – Kurang lebih sudah satu tahun empat bulan pandemi mewabah di Indonesia. Sampai saat ini, berbagai sektor terkena dampak, mulai dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan banyak sektor lainnya.
Tak bisa dipungkiri bahwa dari banyaknya dampak negatif yang ada, ternyata pandemi seolah ngajak dan memaksa kita untuk lebih meningkatkan kreatifitas dan inovasi dalam mencari pendapatan ekonomi.
Seperti yang dilakukan Bastian Novan Almahdi (24), Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro. Ia memulai bisnis es duriannya karena merasa bosan dengan kuliah online yang mengharuskannya di rumah saja.
Bastian mengawali usahanya pada Desember 2019 lalu, dimana motivasi berdikari tumbuh setelah ngobrol kakak dan keluarganya.
“Sebelumnya salah satu keluarga sudah buka di daerah Tejosari. Ketika saya ngobrol soal potensi bisnis. Diberi saran untuk buka seperti itu juga,” kata Novan saat diwawancarai di stannya, Senin (28/6/2021).
Bastian sempat menutup stan dan berjualan online lantaran Covid-19 mulai tidak terkendali. Dimana sebelum adanya Covid-19, usahanya terbilang lancar dengan keuntungan memuaskan.
“Stan durian saya di Jalan AH Nasution, di halaman Indomaret samping Kantor BPJS, sempat berhenti beroprasi selama tujuh bulan, kami hanya berjualan di Grab saja. Lalu saya lanjutin untuk buka booth lagi,” ujar Novan.
Sebelum pandemi, penghasilan Es Durian Kepo bisa mencapai Rp 7 juta perbulanya, namun, saat ini penghasilan hanya mencapai 3-4 juta. “Tapi saya bersyukur karena jika saya hanya kuliah saja, saya tak mungkin bisa dapat penghasilan seperti ini,” ucapnya.
Novan membeberkan bahwa durian yang mereka gunakan untuk bahan pokok usahanya ini dikirim langsung dari Sumatera Utara.
“Di Medan itu ada namanya Durian Ucok, di sana kualitas duriannya terbaik dan untuk di Indonesia, saya rasa sudah populer. Kami ngambil di sana karena dalam berbisnis kami ingin kualitas durian yang terbaik. Untuk pengirimanya sendiri, kami menggunakan mobil kargo yang ada freazernya,” jelas Novan.
Untuk varian rasa, Es Duren Kepo sendiri ada rasa original, chees brown, chess bubblegum, avocado chess, dan sweet cron. Sementara, hanya Rp.15.000/cup-nya dan mengadakan promosi tiap hari Jum’at, yaitu beli 2 gratis 1.
Beroperasi mulai pukul 10.00-17.00 WIB, saat ini digital menjadi salah satu alat paling efektif untuk promosi. Begitu pun yang diterapkan oleh usaha Novan ini. Ia melakukan promosi di facebook akun dengan nama akun “Durian Kepo”, Instagram @durian_kepo, Whatsapp pribadi, dan untuk aplikasi Grab, Metrofood, dan Okebos namanya Durian Kepo.
“Sebelumnya durian hanya dijadikan teman minum kopi atau dimakan secara instan saja, mangkanya inovasi ini saya harap keren. Karena di Metro juga kalo liat keliling Metro banyak yang dagang dunian dan ramai pengunjungnya,” tandas Novan.
Usaha yang sedang dijalankan mahasiswa jurusan Manajemen ini mendapatkan dukungan dari keluarga dan kekasihnya. Bahkan, hampir tiap hari kekasihnya Anindita Amanda Putri (22) menemaninya ketika berjualan.
Manda megatakan, perbedaan Es Durian ini dengan yang lain adalah toping yang diberikan tak segan-segang untuk pelanggan.
“Kami kalo ngasih durennya juga banyak-banyak dan nggak pelit toping. Ketika blender es juga dibarengi sama duren, duren bukan hanya di topingnya saja,” katanya.
Saat ini, Manda mengatakan, pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi usaha kekasihnya. Pasalnya, penghasilannya tak seperti sebelum pandemi.
“Semoga covid ini cepat selesai, biar orang bisa bebas berkatifitas dan kami juga rama pengunjung,” lanjut Manda.
Untuk order di Grab, usaha milih Novan ini memasang harga yang sama seperti harga asli. “Kami kalo ada yang pesan di Grab cuma dapat Rp.12.500 karena untuk biaya Grab Rp.2.500. Tak apa tak untuk besar yang penting pelanggan tak pergi,” kata Novan.
Saat ini, usaha tersebut ingin pindah tempat dan mecari stan di sekitar Kampus 15a, karena tempat yang saat ini kurang strategis.
“Harapannya, kan mau cari tempat baru. Semoga di tempat baru rame dan di rumah juga rame. Di daerah kampus rencana boot kami yang baru,” tandas Manda. (Adi)















Add Comment