Mesuji News

Harga Karet Terjun Bebas, Perekonomian Warga Mesuji Makin Lesu

 

www.tabikpun.com, Mesuji – Turunnya harga getah karet membuat perekonomian petani Mesuji terus memburuk. Saat ini, getah karet di hargai Rp 6.000 per kilogram. Kondisi ini jauh berbeda dari empat tahun yang lalu saat getah karet masih di hargai Rp25 ribu per kilogram.

Seperti diutarakan Kunang (29), petani karet dari Desa Simpang Mesuji, Kecamatan Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji, yang mengaku jika dalam satu hektare dapat menghasilkan 150 kilogram getah karet per 13 hari. Ia hanya dapat mengantongi Rp 2 juta per hektar dengan kondisi harga saat ini.

“Hasil itu belum di potong biaya perawatan. Kondisi ini sudah lama, dan kami sudah mulai kesulitan ekonomi mengingat banyaknya kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Biasanya, jika masuk musim kemarau, hasil panen akan jauh turun,” keluhnya, Minggu (07/05).

Sementar Sarwan (42) pengepul getah karet di Desa Simpang Mesuji menjelaskan jika perubahan harga karet tidak pernah menentu. Bahkan, dalam satu pekan dapat berubah harga hingga tiga kali.

“Perubahan harga tidak dapat di prediksi. Harga getah karet mengikuti harga yang di tentukan perusahaan,” kata dia.

Akibat dari rendahnya harga karet, banyak dari petani karet beralih ke komoditas lain dengan menebang pohon karet mereka. Seperti pengakuan Jumadi Warga Kecamatan Tanjung Raya yang memutuskan untuk menebang pohon karet miliknya.

“Kemarin harga karet sempat membaik dan menembus Rp10 ribu per kilogram, saat ini jauh merosot lagi. Untuk itu, saya tebang semua pohon karet saya seluas satu hektare untuk ditanami singkong atau semangka. Dengan begini, semoga ada perbaikan ekonomi keluarga,” kata dia.

Terpuruknya harga karet berdampak pula terhadap aktivitas perdagangan di pasar. Pedagang pakaian di Pasar Brabasan, Kecamatan Tanjung Raya, Yuli, mengatakan jika selama tiga tahun terakhir, aktivitas pedagangan semakin lesu.

“Saat harga karet tinggi, omzet saya ikut tinggi dengan banyaknya pembeli. Tapi sejak turun nya harga karet dan makin tidak menentu, turun juga omzet saya. Dampak turunnya harga karet sangat luar biasa,” kata Yuli.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mesuji tahun 2013, luas kebun karet di Kabupaten Mesuji yang di tanam masyarakat mencapai 31.237 hektare dengan 18.718.202 batang, dari 27.518 kepala keluarga. Dengan anjloknya harga getah karet, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pengurangan jumlah drastis.

“Sensus pertanian 2013 di selenggarakan selama 10 tahun sekali. Saat ini kami masih terus mengumpulkan data perubahan yang terjadi sekecil apa pun di masyarakat terkait perkebunan karet,” tutup Kepala BPS Mesuji Sugaryadi. (Ahmad)

 

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: