Metro OPINI

Jurnalis Sang Algojo

PWI Kota Metro gelar workshop di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro, Sabtu (30/10/2021). Hadir kepala SD se-Kota Metro sebagai peserta. (Ist)

METRO – Ketakutan tenaga pendidik terhadap jurnalis jadi hal lumrah di dunia pendidikan seolah menjadi Momok berkepanjangan. Di Kota Metro hal ini terjadi, jurnalis yang seharusnya menjadi mitra menyiarkan informasi, malah justru cendrung menimbulkan kesan mengganggu.

Bukan tanpa alasan, kepala sekolah sudah mengalami sendiri seperti apa sepak terjang oknum wartawan yang tak bertanggung jawab kerap meresahkan dengan berbagai pola, tak pelak kerap bertanya tidak masuk akal.

Endingnya sudah terbaca, yah, itulah “UUD”, ujung-ujungnya duit. Namun prosesnya jelas merusak profesi wartawan yang sesungguhnya. Fakta ini seperti jap dan uppercut bagi PWI Kota Metro, semua terkuak saat berkeluh kesah seolah curhat dalam rangkaian workshop bersama kepala SD se-Kota Metro, di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat, Sabtu (30/10/2021).

Seperti gayung bersambut, workshop jadi momen mereka menumpahkan unek-unek. Bertubi-tubi keluhan datang dari sejumlah kepala sekolah. Bahkan saat ditanya apakah wartawan seperti momok, ancaman bahkan petaka? Iya! Jawab mereka secara kompak.

Pertanyaan yang diluncurkan indikasi korupsi anggaran, lucunya bukan kepada Si Empunya urusan. Kerja seorang wartawan adalah mengkonfirmasi data dan fakta. Jika cukup, semestinya segera pergi untuk menulis berita. Tetapi tidak dengan wartawan gadungan. Mereka datang hanya untuk berlarut-larut mengemis uang. Beberapa bahkan memaksa.

Pun bila benar kesalahan terjadi, tugas jurnalis hanya menyiarkan fakta berimbang hasil konfirmasi. Bukan menghakimi, atau malah menakuti. Miris. Tapi ini terjadi, di Bumi Sai Wawai yang bervisi Kota Pendidikan.

Ada juga yang menawarkan kemitraan, langganan koran atau tabloid. Tidak memaksa, hanya tidak pergi jika penawaran belum terpenuhi. Persoalan ini yang muncul dalam termin tanya jawab pasca narasumber menjabarkan materi.

Beruntung tidak ada peserta yang acung jari, melapor ada Anggota PWI seperti yang dibahas panjang kali lebar dalam diskusi. Karena kebanyakan ‘operasi batok’ itu dilakukan oknum dari ‘luar negeri’.

Aturan dan cara menghadapi oknum wartawan sudah dijabarkan Penasehat PWI Kota Metro, Abdul Wahab. Begitu juga hirarki dalam perusahaan pers, sudah disampai Owner Jejamo.com, Arif Surakhman. Semua dikupas dalam workshop bertema, “Kiat Institusi Pendidikan Menjalin Hubungan Baik Dengan Pers”. Peserta pun diberikan simulasi menghadapi good pers dan bad pers.

Pesan kedua narasumber tegas, jika didatangi bad pers, cukup tanggapi dengan santun, jika verbal dan fisik mulai tidak terkendali, atau terindikasi pungli, cukup hadirikan saksi dan barang bukti, seperti dokumentasi, kemudian lapor polisi.

Semoga workshop yang digelar PWI Kota Metro minimal dapat mengurangi, ‘sukur-sukur’ tidak ada lagi kepala sekolah yang jadi bulan-bulanan oknum tadi. Jika sudah ‘melambaikan tangan’, bisa datang ke Kantor PWI untuk diskusi, mencari solusi jika persoalan itu masih dialami.

PWI bukan ingin membatasi, hanya tidak mau profesi yang dijunjung tinggi, terkesan seperti pengemis berdasi. Bahkan tidak beda dari Algojo yang mengeksekusi, ditakuti karena jurus mak itu mak ini.

Penulis, Redaktur Tabikpun.com Angga Nurdiansyah.

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: