www.tabikpun.com, Metro – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A Kota Metro meminta peranan dan perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Metro untuk dapat membantu memfasilitasi karya kerajinan kain tapis waga binaanya ke tingkat Nasional. Hal itu diungkapkan Kepala Lapas kelas II A Kota Metro Teguh Wibowo dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan Pembinaan sulam tapis bagi warga binaan, Senin (15/5).
“Jadi Lapas dan Rutan se-Lampung mengikuti pameran Nasional di departemen perindustrian Jakarta dan kita partisipasi di dalamnya. Kami berharap bisa mendapatkan kesempatan itu lagi, namun butuh bantuan dari pemerintah daerah. Jika ada kesempatan itu lagi, nanti kita bawa warga binaan untuk unjuk kebolehan cara membuat tapis di Departemen Perindustrian Jakarta,” papar Teguh Wibowo.
Menurut Teguh, dibeberapa daerah di Indonesia peranan dan perhatian pemerintah daerah sangat dibutuhkan dalam mendukung program pemberdayaan waga binaan di dalam Lapas. Teguh mencontohkan, beberapa daerah seperti Halmahera Barat dan Sumatera Utara selalu mendukung program dari lapas dan rutan di daerahnya untuk mendukung pemberdayaan warga binaan hingga ke tingkat Nasional. Bila dukungan serupa diberikan oleh pemerintah Kota Metro, Pihaknya menyanggupi pengamanan terhadap warga binaan asalkan ada peranan pemerintah yang dapat mengawal hingga ke tingkat Nasional.
“Kalau pengamanan itu urusan kami, yang penting ada perhatian dari Kota Madya Metro dalam hal ini. Ini udah di buktikan, dalam hal ini Sumatera Utara membawa narapidana sekitar 20 untuk membuat ulos. Di inapkan disana beserta instrukturnya, itu luar biasa. Artinya kepedulian dari pemerintah daerah. Dari Halmahera Barat juga ngirim ke Jakarta 20 orang warga binaan untuk tari perang mereka, itu di pamerkan di depan Kementrian Hukum dan Kementrian Perindustrian di Jakarta. Itu mudah-mudahan kita juga bisa begitu, kalau nanti dari pimpinan daerah sini memikirkan hal tersebut,” imbuhnya.
Menaggapi hal tersebut, Kepala Bagian (Kabag) Kesra Broto Sasono menyebut, kegiatan semacam itu belum dilakukan. Namun baru sebatas pembinaan yang dilakukan secara rutin setiap tahun dengan program pembinaan yang berbeda.
“Pembinaan ini sifatnya terus-menerus berkelanjutan. Jadi setiap tahun kita adakan. Kalo tahun kemarin itu ada pembinaan untuk bengkel sepeda motor, kalo sekarang ini untuk pembinaan tapis sulam. Tujuan pemerintah memberikan pembinaan bukan hanya untuk warga binaan tapi juga untuk masyarakat. Dalam hal ini pemerintah juga ikut memperhatikan dari warga-warga binaan di Lapas Metro ini,” ujarnya.
Pada program tersebut, lanjut dia, pemberdayaan kain tapis saja hanya 25 orang narapidana yang diberikan pembinaan dengan target tercapainya program pembinaan dari pemerintah setempat.
“Untuk pembinaan sebanyak 25 orang warga binaan terdiri dari laki-laki dan perempunan. Ya targetnya ada tercapainya pelatihan ini bisa baik, bisa bermanfaat untuk kedepan bagi peserta tapis sulam,” kata dia.
Disinggung kemana hasil kerajinan kain sulam tapis tersebut akan dipasarkan, ia belum mengetahui dan baru berencana akan berkordinasi dengan dewan kerajinan kota setempat untuk memasarkan hasil kerajinan warga binaan.
“Kita nanti akan coba bekerjasama dengan dewan kerajinan yang ada di Kota Metro ini. Jadi memang belum ada kejasama dari pihak manapun. Dari pemerintah melalui bagian kesra ini memang kita anggarkan untuk setiap tahunnya bahwa hanya pembinaan yang berkesinambungan,” tandasnya. (ap).















Add Comment