Lampung Tengah News

Gelar Wayang Kulit di Ruktiharjo, Arinal Digelari “Penglingsir Agung”

Gelar wayang kulit di Kampung Ruktiharjo, Seputih Raman Kabupaten Lamung Tengah Arinal Djunaidi diberi gelar “Penglingsir Agung”. (Mozes)

Lampung Tengah – Calon Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi ajak I Wayan Nardayana menggelar wayang kulit ceng blong di Lapangan Merdeka, Kampung Ruktiharjo, Seputih Raman Kabupaten Lamung Tengah (Lamteng), Rabu (23/8/17) malam. Kesempatan tersebut Arinal diberi gelar ”Penglesir Agung” oleh Anggota DPRD Provinsi Lampung yang juga tokoh umat Sedharma, I Nyoman Suryana.

“Saya ini dituakan di umat hindu, saya akan memberi gelar kepada pak Arinal yakni Penglesir Agung,” kata I Nyoman Suryana. Hiburan rakyat itu turut dihadiri isrtri Arinal Djunaidi didampingi para tim partai golkar.

Nyoman mengatakan, gelar Penglesir Agung memiliki makna yakni tokoh besar. ”Ini tokoh besar di Lampung yang akan kita junjung,” ucapnya.

Sebelumnya, sudah puluhan kali, calon gubernur Lampung itu memantaskan wayang kulit bersama dalang Kenthus Susmono dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Baru kali ini, Ketua Partai Golkar Lampung itu menggelar wayang kulit dari Pulau Dewata. Pentas wayang kulit Bali itu digelar Arinal dan Tim Jaya dalam rangka silaturahmi dan sosialisasi pencalonan Ketua DPD I Partai Golkar Lampung itu sebagai calon gubernur dalam Pilgub Lampung 2018.

I Wayan Nardayana, alumni Sekolah Tinggi Seni (STSI) Denpasar, seperti Ki Enthus Susmono yang melakukan modernisasi wayang kulit dengan mengusung musik modern dan bintang tamu, I Wayan Nardayana juga lewat wayang kulit ceng blong.

Penampilan I Wayan Nardayana juga mirip Ki Enthus yang sesekali menyelipkan dialog menjurus tabu. Kini, keduanya mengimbangi dengan banyak menyisipkan nilai-nilai moral. Di Bali, setiap pertunjukan ceng blong atau ceng blonk, para penontonnya ramai.

Mantan satpam pasar swalayan ini sudah sangat terkenal di Bali. Ia adalah perintis wayang ceng blong. Yakni wayang kulit Bali ‘gagrak anyar’ yang lebih ngepop. Sebutan cenk blong itu sendiri, menurut Wayan Nurdayana — seperti dikutip dari Bali Post — karena di dalam wayang kulit Bali ada tokoh Nang Kleceng dan Nang Ceblong.

Semula I Wayan Nardayana menamai wayangnya dengan julukan wayang Gitaloka. Namun, nama itu dinilainya sulit diucapkan warga Bali dan kurang familiar. Akhirnya, Gitaloka diganti menjadi ceng blong. Orang bisa menuliskannya cenk blong, ceng blong, ceng blonk, atau ceng blong. Intinya tetap merujuk pada tokoh Nang Kleceng dan Nang Ceblong. (Mozes)

 

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: