Tabikpun.com – Siang itu 13 Januari 2025 sekitar jam 3 sore, Aku bersama dua temanku yaitu Dakim dan Jabril sedang bersantai sembari menikmati beberapa cangkir kopi di warung kopi dekat rumah. Berbicara tentang beberapa bahasan yang tidak kunjung juga usai, seperti mengapa hari hanya ada tujuh di dunia ini, atau bahkan bertanya-tanya mengapa belum ada ilmuan yang berhasil mengeksplor kedalaman lautan padahal luar angkasapun sudah.
Tidak lama dari itu kawanku bernama Jabril ini secara spontan mengeluarkan kalimat ajakan yang menurutku cukup mendadak. “Camping yuk ke puncak mau ga? Gua ada tempat bagus nih kaya ada hutan pinusnya gitu.” ucap Jabril sambil bersemangat.
“Dimana tuh Jeb? tempatnya kalo enak mah ayolah buru gas aja gua mah!” jawab Dakim. “Ada di Puncak, Namanya Lembah Pasir Sumbul bagus pokonya!” ucap Jabril sembari meyakinkan. “Yauda ayolah kalo gitu, sekarang balik aja dulu ke rumah masing-masing siapin barang.
Nanti Ashar kita kumpul lagi disini biar langsung otw kesana!” jawab ku. Kamipun pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan barang-barang yang di perlukan untuk keperluan Camping nanti, ada yang membawa tenda dengan matrasnya, ada yang membawa peralatan memasak, dan juga ada yang membawa persediaan makanan.
Sekitar pukul empat sore kami bertiga Kembali berkumpul di warung kopi tadi dan mulai melakukan perjalanan menuju tempat camping yang sudah kami bahas, yaitu Lembah Pasir Sumbul. Kami berangkat menggunakan sepeda motor dengan maksud ingin sampai lebih cepat, mengingat lokasi dari Lembah Pasir Sumbul itu berada di Kawasan Puncak Bogor yang terkenal dengan kemacetannya.
Selama di perjalanan kami ditemani dengan udara serta cuaca yang sangat sejuk dan juga segar, sembari disuguhkan pemandangan yang indah dari rute Puncak Bogor yang ternyata lalu lintas pada saat itu terpantau lancar, sehingga kami bisa sampai di tempat tujuaan lebih awal, yaitu pada pukul lima sore.
Senja di Lembah Pasir Sumbul
Sesampainya di Lembah Pasir Sumbul kami di sambut oleh para warga yang mengelola tempat wisata tersebut. “Sore mas, untuk tiga orang dan dua motor yah? totalnya jadi seratus dua puluh ribu yah mas sudah sama tiket masuk ke dalamnya. Nanti motornya mas parkirin aja di garasi kami, biar bisa kami pantau kalau ada apa-apa” Ucap sang penjaga pintu masuk.
Kami bertigapun langsung membayar dan segera memarkirkan motor kami di tempat yang sudah disediakan oleh para penjaga, dan segera bergegas menuju tempat camping. Dari tempat kami barusan memarkirkan sepeda motor, untuk menuju ke tempat camping ternyata perlu berjalan sedikit, yaitu sejauh dua kilometer.
Kami pun menempuh perjalanan melalui hutan-hutan yang cukup lebat, namun sudah di buatkan jalan setapak untuk para pengunjung berjalan sampai ke tempat camping. Sepuluh menit tak terasa akhirnya kamipun sampai di tempat camping yang sedari tadi kami bicarakan secara terus menerus, pepohonan pinus yang tinggi menjulang, rerumputan hijau yang terbentang, hingga kicauan burung dan suara gemercik air dari Sungai kecil yang mengalir menyambut kami dengan hangat.
Sudah ada beberapa orang yang lebih dahulu sampai dan mendeirikan tendanya di tempat yang menurut mereka cocok untuk mendirikan tenda, ada yang di dekat Sungai, ada yang di bawah pohon, dan juga ada yang di dekat kamar mandi umum, mungkin untuk jaga-jaga karna memamng hanya ada dua kamar mandi umum yang itupun letaknya berjauhan.
“Cari tempat dulu yu, yang agak tinggi biar nanti malem dingin, enak buat masak-masak ambil ngopi santai kita!” ucap Jabril bersemangat. “yauda ayo!” jawabku dan Dakim berbarengan.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya kamipun menemukan suatu tempat yang sekiranya cocok, tempat tersebut sedikit membukit dan juga terdapat sebatang pohon kecil yang sudah terjatuh di tanah sehingga dapat kami jadikan sebagai tempat duduk.
Kamipun mendirikan tenda yang mengadap kearah pepohonan pinus yang menjulang yang di bawahnya terdapat rerumputan hijau yang dialiri Sungai di sebelahnya. “Cakep nih tendannya udah jadi, viewnya bagus lagi enak banget nih buat ngopi udah senja senja gitu nih, bikin kopi apa yah kita bikin kopi, daripada bengong ga jelas doang begini?” tanyaku kepada Dakim dan Jabril.
“Iya ayo buru dah bikin kopi yok, udah senja nih masa ga ngopi di tempat camping begini saying banget.” Jawab Dakim. “Ada pepatah bilang kalo ada senja lu ga bikin kopi, lu ga asik. Ayolah kita bikin kopi guys!” ucap Jabril sambil tertawa. “Alah pepatah apaan yang bilang gitu, udah buru siap-siapin aja dulu alat-alat ama kopinya!” jawabku.
Kami bertigapun menyiapkan alat-alat masak, kompor lipat, cangkir kopi, dan beberapa saset kopi yang akan kami seduh untuk menyambut senja di belantara hutan pinus yang rindang ini. Air pun mulai mendidih, dan kami mulai menuangkannya ke masing-masing gelas yang sudah diisi dengan serbuk kopi saset kesukaan kami.
Sembari menyeruput kopi yang baru saja selesai kami buat, kamipun Kembali berbincang akan hal-hal yang mungkin menjadi diskusi para remeja untuk mejadi pelengkap dianatar kopi dan juga senja yang semakin merona. Senja kala itu cukup sempurna dihiasi oleh bahasan yang tidak jelas arahnya oleh tiga sekawan di bawah rindangnya hutan pinus sembari ditemani suara kicau burung dan hembusan angin yang mulai dingin.
Malam Dingin Menunggu Mentari
Malampun tiba, udara yang semulanya sejuk kini beerubah menjadi dingin yang mulai menusuk kulit. Sejauh mata memandang hanya ada hutan pinus dengan para penghuninya yaitu beberapa ekor monyet yang bergelantungan kesana kemari, dan juga beberapa tenda dari pengunjung lain yang lampunya mulai menyala.
Kami masi berbincang dengan bahasan yang masih tidak jelas arahnya sembari menyeruput the tarik yang baru saja kami buat, hingga tiba tiba seekor kucing hutan kecil datang menghampiri kami. “Eh ada kucing guys, lucu banget yah bulunya lebat.
Halo cingg lagi apa kesini ko sendiri aja lapar yahh?” tanyaku kepada sang kucing. Kucing tersebut mulai menghampiri kami yang tengah duduk di batang pohon tumbang yang kami jadikan tempat duduk, ia duduk di sampingku sembari ku elus badannya yang penuh dengan bulu yang lebat namun halus.
“Kucing hutan beda yah bulunya kaya kucing kota, lembut terus lebat banget lagi bulunya.” Ucapku. “Iyah diakan hidup di daerah dingin kaya gini, makannya bulunya jadi bagus lebat gitu, biar dia gak kedinginan.” Jawab dakim sembari menjelaskan. “Bikin mie yok ama nugget, terus kentang.
Makan-makanlah kita dingin-dingin gini jadi laper nih!” ajak Jabril kepadaku dan juga Dakim. “Ayo aja gua mah laper juga ini, boleh tuh Jeb. Mantep nih mie dingin-dingin gini!” jawab ku. “Benta rya gua ambil dulu mie, kentang, ama nuggetnya di tenda.” Jawab Dakim.
Kamipun mulai membagi tugas untuk mulai memasak persediaan makanan, Jabril mulai menyalakan kompor dan menghangatkan minyak goreng, Dakim yang memotong motong nugget dan kentang, serta aku yang mulai membuka bungkus mie instan dan mulai memasukan bumbu-bumbunya kedalam piring.
Setelah semua persiapan dirasa sudah cukup, kamipun langsung mulai memasak. Dimulai dari menggoreng nugget dan ketang, lalu dilanjut dengan merebus mie instan dengan varian rasa “Mie Kocok Bandung”. Sepuluh menit berlalu tidak terasa semua makanan yang kami masak barusanpun akhirnya siap untuk di santap.
“Selamat makan guys, jangan ditahan-tahan langsung ajalah sikat dah laper banget nihh!” ucapku kepada Jabril dan Dakim. “Yu langsunglah, langsung aja.” Jawab Dakim. “Selamat makan juga guys.” Saut Jabril. “Nih Cing buat kamu, pasti laperkan dingin-dingin gini.” Ucapku sambil memberikan beberapa buah nungget dan kentang goreng kepada kucing hutan tadi.
Lima belas menit lamanya kami menyantap makanan kami masing-masing hingga habis, setelahnya kamipun kembali mulai berbicara mengenai hal-hal acak yang terilntas dikepala kami masing-masing. Apakah seorang astronot akan Kembali kebumi dengan umur yang seharusnya, atau malah menjadi lebih muda dibandingkan anaknya? Kalau kitab isa Kembali ke masa lalu apa yang ingin kita ubah?, hingga Kembali menceritakan kenangan kenangan indah sewaktu kami masih satu sekolah dahulu.
Malam Panjang yang dingin tersebut berubah menjadi malam hangat yang penuh denga canda dan tawa karena bahasan acak yag selalu saja ada pemantiknya. Pembahasan demi pembahasan telah kami bincangkan hingga tidak terasa waktu di ponsel sudah menunjukan pukul lima subuh.
“Nunggu sunrise yok, udah jam segini nanggung banget kalo tidur sekarang!” ajak Jabril kepada aku dan juga Dakim. “Boleh, mantep nih kayanya liat isunrise disini.” Jawabku. “Setuju.” Jawab Dakim mengiyakan.
Kamipun melanjutkan perbincangan kami sembari menunggu mata hari terbit kala itu, Mulailah kami bercerita sembari berkeluh kesah tentang dunia percintaan kami masing masing, aku dengan hubunganku yang sepertinya cukup baik-baik saja alurnya, Jabril yang mungkin pada saat itu sedan gada sedikit masalah kecil, serta Dakim yang masih ingin terbebas dari yang Namanya percintaan. Baginya cinta akan datang dengan sendirinya cepat atau lambat, setidaknya itulah yang ia yakinin hingga saat ini.
Tidak terasa waktu begitu saja, mataharipun mulai menunjukan sinarnya sedikit demi sedikit. Kami bertiga mulai menyaksikan keindahan yang mungkin tidak akan bisa kami temui di perkotaan sana, sunrise yang benar-benar indahpun akhirnya muncul dikhiasi oleh langit yang cerah beserta hutan pinus dan hamparan rumputnya yang hijau.
Sungguh kami dibuat takjub kala itu akan keindahan tuhan yang sangat indah dan juga menawan. Tidak lama dari terbitnya sang Mentari tersebut, kamipun mulai berkemas dan merapihkan semua bekas berkemah kami semalam. Kami pastikan tidak ada satupun sampah yang tertinggal agar tidak mencemari lingkungan disana, dan mulai kembali bergegas pulang menuju rumah.
Penulis: Akhila Dilan Ramadhan Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB















Add Comment