Metro – Pemerintah Kota (Pemkot) Metro melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Metro menjamin bahwa tidak ada telur ayam ras palsu yang beredar di wilayah setempat. Hal tersebut dijelaskan Kabid Peternakan DKP3 Parjiya saat dikonfirmasi awak media, Rabu (14/3/2018).
Parjiya menerangkan, terkait telur ayam ras yang diduga palsu beredar di Metro, pihaknya telah mengambil sampel telur guna dilakukan pengujian di laboratorium.
“Kita pastikan tidak ada telur palsu. Ini diuji Proksimat, dimana diuji kandungan gizi telur itu. Kalau palsu pasti enggak sama kandungan gizinya. Kalau dilihat dari sampel telur ini yang sudah encer, ini karena kondisinya yang sudah lama dan bukan palsu,” terangnya.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas telur. Di antaranya panas suhu, tunas telur yang tidak tumbuh misalnya dierami gagal, hingga kebersihan kandang.
“Telur kualitas baik bentuknya itu oval dan berat rata-rata 60 gram per butir. Pakan yang bagus sangat mempengaruhi kualitas kuning telur dan cangkangnya,” katanya lagi.
Untuk diketahui, dugaan telur ayam palsu ditemui Ijal (40), warga Kelurahan Yosodadi Kecamatan Metro Timur, Senin (12/3). Ia mendapatkan dari warung yang berada di sekitar rumahnya.
“Istri saya yang beli di warung dekat rumah untuk lauk makan saya dan anak-anak. Sudah kebiasaan kalau pagi hari anak-anak sarapan pakai telur dadar atau ceplok,” terangnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (14/3/2018).
Menurutnya, ada beberapa kejanggalan dari telur ayam ras yang diduga palsu tersebut. Pertama tidak beraroma amis layaknya telur, kulit ari dari telur lentur seperti karet dan mudah sekali dikelupas dari cangkangnya.
“Lebih encer juga. Sudah saya periksa dengan teliti. Kulit arinya sangat elastis mirip seperti karet yang sangat tipis. Terus warna kuningnya agak pucat. Enggak jadi makan, terus saya lapor temen wartawan,” ungkap Ijal.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Metro memastikan hingga saat ini belum ditemukan adanya telur palsu yang beredar di Bumi Sai Wawai.
“Kami setiap minggu selalu melakukan sampling ke pasar-pasar dan juga ke para pelaku usaha untuk memonitor,” ujar Ruri Astuti Wulandari, Kasi Kesehatan Hewan DKP3 Metro.
Ia mengaku, para pengusaha telur banyak yang berasal dari Kota Metro. Namun usaha atau kandangnya berada di luar Metro. Sementara produksi telur dari Metro berkisar tiga ribu ton per tahun.
“Bahkan ada pengusaha yang mengirim telur ke Jakarta setiap sekali kirim 4 ton dan dalam 1 minggu bisa 4 sampai 5 kali kirim. Jadi total 20 ton tiap minggu. Ini dikarenakan tidak terserap di Metro. Jadi tidak mungkin ada telur palsu beredar,” terangnya.
Ia mengimbau, masyarakat Metro yang mendapati hal-hal mencurigakan terkait makanan, bisa segera melaporkannya kepada pihaknya untuk ditindaklanjuti melalui laboratorium dan tidak dipungut biaya. (Ap)














Add Comment